Monthly Archives: June 2015

LDP-KBIP Berikan Materi Workshop Dengan Jajaran Pemkab Tanah Laut & Timor Tengah Selatan

Direktur LDP-KBIP Bersama Bupati Tanah Laut, Setelah Acara Audensi

Direktur LDP-KBIP Bersama Bupati Tanah Laut, Setelah Acara Audensi

Direktur LDP-KBIP Bersama Bupati Dan Ketua DPRD Tanah Laut, Setelah Acara Audensi

Direktur LDP-KBIP Bersama Bupati Dan Ketua DPRD Tanah Laut, Setelah Acara Audensi

Staf Ahli Seniorita LDP-KBIP Bersama Kadisdik Timor Tengah Selatan , Setelah Acara Audensi

Staf Ahli Seniorita LDP-KBIP Bersama Kadisdik Timor Tengah Selatan , Setelah Acara Audensi

PMBK. workshop penulisan karya tulis ilmiah dengan bupati Indragiri Hulu

PMBK. workshop penulisan karya tulis ilmiah dengan bupati Indragiri Hulu

 LDP-KBIP Bersama Fokus Group Diskusi ( FGD ) Dan Peserta Workshop Karya tulis Ilmiah Di Kabupaten Indragiri Hulu

LDP-KBIP Bersama Fokus Group Diskusi ( FGD ) Dan Peserta Workshop Karya tulis Ilmiah Di Kabupaten Indragiri Hulu

Tanggung Jawab atas Pendidikan

Sabtu. 27 Juni 2015 | 16:12 WIB

images

Ilustrasi/Beritapendidikan.net

Oleh: Ignas Kleden ( Sosiolog, Ketua Badan Pengurus Komunitas Indonesia untuk Demokrasi )

Posting oleh Beritapendidikan.net – Sering terdengar slogan bahwa kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa tak terutama tergantung kepada sumber daya alam, yang di Indonesia sudah hampir terkuras habis, tetapi kepada sumber daya manusia.

Korea Selatan dan Singapura bisa disebut contoh dekat. Namun, dalam slogan itu jarang diungkapkan perbedaan antara kedua sumber daya itu. Sumber daya alam (SDA) diberi oleh alam yang pemurah, sementara sumber daya manusia (SDM) harus dibuat manusia sendiri. SDA bersifat given, sedangkan SDM merupakan suatu kualitas yang harus diproduksi manusia.

Beberapa minggu lalu Presiden Joko Widodo membuat pernyataan yang patut diperhatikan, dan membangunkan kita dari kesadaran yang tidur nyenyak. Berkata Presiden, tahun 1970-an Indonesia booming minyak. Negara seakan terapung di atasnya. Tetapi, akhirnya kita tak dapat suatu apa kecuali bahwa Pertamina hampir saja bangkrut. Tahun 1980-an ada booming kayu, tetapi yang didapat negara hanya gundulnya hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan, dan meningkatnya kerentanan terhadap ba

Dok/KOMPAS/JITET Ilustrasi

njir setiap hujan turun. Tahun 2000-an ada booming mineral, seperti batu bara, tetapi tak ada yang tertinggal untuk negara dan bangsa. Hasilnya, hancurnya lingkungan dengan depresiasi yang luar biasa berhadapan dengan 95 persen eksportir yang tak punya nomor pokok wajib pajak. Satu-satunya yang masih terselamatkan hanyalah laut, sehingga pencurian kekayaan laut harus dihentikan dengan tegas.

Tentu saja Presiden Jokowi menyadari pentingnya SDM sekalipun hal itu tak disinggung dalam pernyataannya. Kita tahu, SDM harus dibuat, harus diproduksikan. Adapun jalan untuk menghasilkan SDM adalah pendidikan. Horace Mann, pemikir pendidikan yang sering dikutip filsuf John Dewey berkata education is our only political safety, outside of this ark is the deluge (pendidikan adalah pengamanan politik kita satu-satunya, di luar bahtera ini hanya ada banjir dan air bah).

Menurut Mann, pendidikan umum merupakan penemuan terbesar manusia. Organisasi-organisasi sosial lain semuanya hanya kuratif dan remedial sifatnya. Sekolah saja yang dapat mencegah dan menangkal kesulitan dan bencana. Namun demikian, hanya pendidikan dengan asas-asas dan praktik yang benarlah yang dapat menjadi pengamanan politik dan menciptakan SDM, yaitu orang-orang yang dilengkapi tingkat kecerdasan tertentu dengan watak danprinsip-prinsip tertentu. Orang-orang yang dididik dengan baik dapat membantu proses produksi dalam ekonomi dan memperkuat integrasi sosial dalam kelompoknya. Sebaliknya, pendidikan yang centang-perenang, tanpa arah dan tujuan jelas, hanya akan menghasilkan orang-orang yang menjadi beban masyarakatnya dan sumber masalah yang mempersulit kehidupan bersama.

Pendidikan dan pengajaran

images

Ilustrasi/Beritapendidikan.net

Ada pandangan yang membedakan pendidikan dan pengajaran. Kurang jelas apakah pembedaan ini maksudnya menunjukkan pembagian tugas, seakan-akan sekolah hanya mengurus pengajaran, sementara pendidikan anak didik menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Apa pun maksud pembedaan itu, satu hal perlu ditegaskan di sini, yaitubahwa pengajaran dan pendidikan bisa dibedakan, tetapi tak pernah bisa dipisahkan. Alasannya, pengajaran yang diajarkan di sekolah tak dimaksudkan hanya untuk menjadi transfer pengetahuan. Pengajaran memang bertujuan menyampaikan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang ditransfer itu harus menjadi sarana bagi pendidikan anak didik dan unsur dalam pembentukan kepribadian mereka.

Dalam pengajaran itu mereka dilatih berpikir, bertanya, dan perlahan-lahan memahami bagaimana pengetahuan disusun dengan metode dan sistematika tertentu, dan bagaimana pula pengetahuan itu telah diperoleh dan apakah dapat diuji kesahihannya. Melalui pengetahuan itu terbuka wawasan tentang alam dan masyarakat, dan bagaimana mestinya orang bersikap terhadap alam dan berperilaku terhadap anggota masyarakat. Singkat kata, pengajaran menyampaikan pengetahuan, dan pengetahuan mempertajam nalar, membentuk watak, dan mematangkan kepribadian.

Pengajaran yang tak dihayati sebagai sarana pendidikan akan berubah mekanis dan membuat otak anak didik seolah-olah file komputer yang hanya berfungsi menampung informasi. Bertrand Russel, filsuf Inggris terbesar abad XX dan pemenang Nobel untuk kesusastraan, mengajukan kritik tajam dan sengit terhadap pendidikan yang diperlakukan hanya sebagai pengajaran. Menurut dia, kita memang sanggup menciptakan berbagai perlengkapan dan membuat alat-alat, namun kita bisa tetap primitif dalam metode dan teknik, kalau kita mengira pendidikan hanya menjadi transfer pengetahuan yang sudah baku, dan bukannyasarana membentuk kebiasaan dan sikap ilmiah.

Ciri utama orang kurang terdidik adalah sikap tergesa-gesa dalam membentuk pendapatnya, yang kemudian dipertahankan secara mutlak. Sebaliknya, seorang terpelajar akan sangat berhati-hati dalam berpendapat dan selalu berbicara dengan modifikasi. Latihan-latihan dalam pendidikan melalui pengajaran lambat laun akan membentuk intellectual conscience atau nurani intelektual yang ditandai oleh dua hal utama, yaitu sikap untuk percaya hanya kalau ada bukti-bukti yang bisa dipegang, dan kesediaan mengakui bahwa bukti-bukti itu pun masih bisa salah.

Pembentukan nalar yang berhasil dalam pendidikan dapat mengubah pandangan seseorang secara radikal, seperti sikap lebih menghargai seni dan keindahan daripada kekayaan dan kemewahan, atau lebih mengutamakan kecerdasan dan rasa percaya diri daripada kebanggaan terhadap status dan jabatan. Perubahan sikap inilah yang menandai munculnya masa Renaisans di Eropa yang bermula di Italia pada abad XIII-XIV dan diteruskan beberapa abad kemudian. Untuk kita, pendidikan dapat membuat orang sanggup mengontrol insting posesif berlebihan. Materialisme praktis yangdibawa masuk ke Tanah Air oleh kapitalisme, sudah membuat orang menganggap sama dua hal yang berbeda sekali, yaitu menikmati dan memiliki.

Sulit sekali menemukan orang bermodal yang membiarkan bukit anggrek indah di hutan dinikmati banyak orang tanpa harus membeli dan memilikinya untuk diri sendiri. Orang bisa menikmati tanpa harus memiliki, dan lebih sering orang memiliki tanpa sanggup menikmati. Dalam bidang sosial gejala ini terlihat dalam bertambah kayanya sekelompok kecil elite, tanpa ada perhatian dan keterbukaan hati untuk menikmati kemajuan orang lain berkat bantuan yang diberikan. Filantropi rupanya asing pada awal kapitalisme. Keserakahan merupakan Kinderkrankheit des Kapitalismus atau penyakit kanak-kanak dalam kapitalisme.

Mentalitas dan sikap ilmiah

Studi tentang sejarah ilmu pengetahuan pernah dilakukan filsuf Alfred North Whitehead dan dikemukakan dalam serangkaian kuliah di Universitas Harvard pada paruh pertama 1920-an dan kemudian diterbitkan sebagai buku Science and The Modern World. Sebuah tesis yang dipertahankannya dengan berbagai bukti historis ialah bahwa pembentukan mentalitas dan sikap ilmiah sering kali lebih penting dan lebih mendorong kemajuan dibandingkan kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Hadirnya teknologi di suatu negara tak dengan sendirinya menunjukkan kemajuan negara itu dalam ilmu dan teknologi, karena produk teknologi selalu bisa dibeli. Suatu negara dapat dikatakan maju kalau dapat memproduksi teknologi itu, bahkan menemukan jalan memproduksi teknologi baru.

Lukisan perkembangan ilmu dan teknologi di Eropa oleh AN Whitehead dapat mengilustrasikan hal ini. Entakan besar dalam ilmu pengetahuan alam dan humaniora terjadi di berbagai negara Eropa pada abad XVII yang disebutnya abad para genius. Dalam kesusastraan ada Miguel de Cervantes di Spanyol yang menulis Don Quixote; di Inggris berkibar Shakespeare yang memberi watak kepada sastra dan bahasa Inggris. Keduanya wafat pada 27 April 1616. Dalam filsafat muncul Descartes di Perancis, Francis Bacon dan John Locke di Inggris, Baruch Spinoza di Belanda, dan Leibniz di Jerman. Dalam fisika berderet nama, seperti Newton di Inggris, Robert Boyle di Irlandia, dan Huygens di Belanda. Dalam astronomi kita kenal Galileo Galilei di Italia dan Johannes Kepler di Jerman. Dalam matematika ada Blaise Pascal di Perancis dan dalam biologi ada William Harvey di Inggris yang menemukan sistem peredaran darah kita.

Nama-nama ini hanya sebagian kecil dari daftar panjang para genius yang berkarya abad XVII. Para ahli sejarah ilmu pengetahuan masih meneliti mengapa lahir demikian banyak genius pada masa ini. Menurut Bertrand Russel yang menulis buku sejarah filsafat Barat yang banyak dipuji, abad XVI adalah abad yang mengalami kegersangan filsafat karena peperangan antaragama. Perang Tiga Puluh Tahun antara pihak Katolik dan Protestan, akhirnya menimbulkan anggapan bahwa kesatuan dalam dogma agama yang diidamkan dalam Abad Pertengahan sudah tak mungkin tercapai lagi. Setiap orang sebaiknya berpikir sendiri untuk dirinya, juga mengenai soal-soal fundamental. Hasrat untuk kebebasan berpikir dan keengganan kepada soal-soal teologis lambat laun melahirkan kegairahan baru untuk hal-hal sekuler, yang bermuara kepada ilmu pengetahuan. Mentalitas baru inilah yang melahirkan para genius.

Di Indonesia, almarhum Prof Sartono Kartodirdjo dari Universitas Gadjah Mada pernah menceritakan anekdot perilaku mahasiswanya, termasuk mahasiswa asing. Mahasiswa Jepang yang membeli sepeda motor baru memanfaatkan hari liburnya pada akhir pekan untuk membongkar seluruh sepeda motor dan memereteli berbagai bagiannya, kemudian disusun kembali untuk mengetahui struktur mesin dan sistem mekaniknya. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia yang membeli sepeda motor baru akan segera mengunjungi pacarnya, mengajaknya keliling kota, dan melewatkan acara malam minggu bersama.

Dari segi mentalitas, mahasiswa Jepang itu punya mentalitas teknologis, sementara mahasiswa kita masih hidup dalam mentalitas konsumeristis. Diterapkan di sekolah, pengajaran dan pendidikan bukan saja menyajikan science products (produk ilmu pengetahuan), tetapi mendorong science production (bagaimana ilmu diproduksikan). Berbagai bentuk pengajaran dan pendidikan tujuan utamanya bukanlah melakukan transfer pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan suasana dan motivasi agar peserta didik didorong mencari dan menghasilkan pengetahuan baru dalam suatu bidang penelitian, entah dengan mengidentifikasi bidang-bidang penelitian yang belum banyak dikaji dan dapat dijadikan obyek penelitian agar melengkapi penelitian-penelitian yang sudah ada, atau dengan mencoba metode dan teknik penelitian baru yang menyorot aspek tertentu dari suatu obyek penelitian yang sudah diteliti sebelumnya, tetapi yang kemudian dijelaskan dengan cara lebih komprehensif.

Pada titik ini dua kepentingan patut diperhatikan. Pertama, kepentingan validasi, yaitu pengujian pengetahuan agar pengetahuan itu terjamin kesahihannya, sebelum digunakan lebih banyak orang. Pengetahuan yang akan digunakan berbagai pihak, haruslah terhindar sejauh mungkin dari kekeliruan dan kesalahan entah mengenai data yang dikumpulkan, atau penjelasan tentang data itu. Pengetahuan fisika, biologi, kimia atau pengetahuan ilmu-ilmu sosial yang menjadi konsumsi publik, harus terjamin kesahihannya oleh validasi yang memenuhi syarat pengujian, agar pemakaian atau penerapan pengetahuan itu oleh pihak lain tak merugikan atau membahayakan mereka.

Kedua, pendidikan dan pengajaran harus dapat menunjukkan pentingnya aspek penemuan dalam ilmu pengetahuan. Prinsipnya, pengetahuan bukan saja harus dijaga dan dirawat dari masa ke masa, tetapi perlu diperbarui dengan temuan baru. Inilah dimensi heuristik dalam ilmu pengetahuan. Temuan baru itu dapat berupa obyek baru dalam sebuah bidang studi dan penelitian. Temuan juga dapat berupa penjelasan baru tentang data lama yang sudah dikumpulkan dan obyek penelitian yang sudah diketahui sebelumnya.

Diterjemahkan ke istilah yang lebih sederhana validasi ilmu pengetahuan butuh sikap kritis di antara para peserta didik, dan kemampuan heuristis dalam ilmu pengetahuan tak berarti lain dari sikap kreatifanak didik dalam menghadapi tugas belajar mereka. Sikap kritis hanya dimungkinkan oleh pandangan yang menghadapi ilmu pengetahuan sebagai suatu disiplin, sedangkan sikap kreatif akan muncul dari penghayatan ilmu pengetahuan sebagai suatu art atau seni, yang butuh kebebasan dan keleluasaan dalam menanggapinya. Apakah kritik dan kreativitas, disiplin dan kebebasan, metodologi dan imajinasi, menjadi perhatian di sekolah-sekolah kita sekarang, dan dikembangkan dalam perimbangan yang optimal, itulah pertanyaan dasar tentang pendidikan kita di Indonesia sekarang. JAKARTA, KOMPAS/Posting oleh Beritapendidikan.net

KEMENDIKBUD BAKAL KAJI ULANG SERTIFIKASI GURU

ilustrasi- Beritapendidikan.net

ilustrasi- Beritapendidikan.net

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Selamat Pagi

pendidikanguru.com/; Posting oleh Beritapendidikan.net- Sertifikasi guru adalah proses peningkatan mutu dan uji kompetensi tenaga pendidik dalam mekanisme teknis yang telah diatur oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat, yang bekerjasama dengan instansi pendidikan tinggi yang kompeten, yang diakhiri dengan pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah dinyatakan memenuhi standar profesional.

194632_423292_guru_baris_HL

Dok/pendidikanguru.com

Seiring dengan perkembangan teknologi dan tuntutan jaman maka guru harus memiliki kualitas SDM yang lebih baik. Guru dituntut untuk memiliki standar kompetensi mengajar yang oleh pemerintah diprogramkan dalam bentuk Sertifikasi Guru.

Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen GTK Kemendikbud) akan mengkaji ulang sertifikasi pendidik bagi dua kelompok guru, yaitu guru yang telah diangkat sebelum UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan guru yang diangkat setelah UU tersebut.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kuota sertifikasi pendidik tahun 2015 yang baru terisi sebesar 63 ribu guru, dari kuota 70 ribu yang ditetapkan.

Dirjen GTK Kemendikbud Sumarna Pranata, mengungkapkan, ke depan sertifikasi pendidik akan mengacu pada kompetensi guru yang dimiliki. “Kami akan lihat kembali apakah betul-betul guru yang sudah dapat sertifikat benar-benar kompeten, yaitu dengan cara memperbaiki Uji Kompetensi Guru (UKG) secara komprehensif,” jelasnya, Senin (22/6).

Perbaikan UKG akan mengacu kepada hasil UKG yang diterima guru. “UKG yang sudah ada akan dilihat, siapa yang bagus dan tidak, sehingga dapat kami jadikan diagnostik, mereka tidak bagusnya dimana,” ujarnya.

Selain itu, Dirjen Pranata mengatakan, hasil UKG pun akan berfungsi sebagai tes penempatan pelatihan kompetensi guru.“Kami akan menggunakan peningkatan kompetensi berkelanjutan yaitu guru akan dilatih sesuai dengan klaster kemampuan guru. Tadinya sudah ada empat klaster, seperti pelatihan dasar, menengah, lanjut dan tinggi. Kita perbaiki bisa saja sepuluh klaster, berdasarkan kompetensi guru itu,” pungkasnya.

INI DIA ATURAN BARU DITJEN GTK KEMDIKBUD TERKAIT SERTIFIKASI GURU 2015 !!

 Salam hangat dan sejahtera untuk kita semua. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Program sertifikasi guru bertujuan antara lain untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, meningkatkan proses dan hasil pembelajaran dan meningkatkan kesejahteraan guru serta meningkatkan martabat guru dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Terkait dengan hal program sertifikasi guru / pendidik tersebut, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen GTK Kemendikbud) akan mengkaji ulang sertifikasi pendidik bagi dua kelompok guru, yaitu guru yang telah diangkat sebelum UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan guru yang diangkat setelah UU tersebut.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi kuota sertifikasi pendidik tahun 2015 yang baru terisi sebesar 63 ribu guru, dari kuota 70 ribu yang ditetapkan.

Dirjen GTK Kemendikbud Sumarna Pranata, mengungkapkan, ke depan sertifikasi pendidik akan mengacu pada kompetensi guru yang dimiliki. “Kami akan lihat kembali apakah betul-betul guru yang sudah dapat sertifikat benar-benar kompeten, yaitu dengan cara memperbaiki Uji Kompetensi Guru (UKG) secara komprehensif,” jelasnya, Senin (22/6).

Perbaikan UKG akan mengacu kepada hasil UKG yang diterima guru. “UKG yang sudah ada akan dilihat, siapa yang bagus dan tidak, sehingga dapat kami jadikan diagnostik, mereka tidak bagusnya di mana,” ujarnya.

Selain itu, Dirjen Pranata mengatakan, hasil UKG pun akan berfungsi sebagai tes penempatan pelatihan kompetensi guru.

“Kami akan menggunakan peningkatan kompetensi berkelanjutan yaitu guru akan dilatih sesuai dengan klaster kemampuan guru. Tadinya sudah ada empat klaster, seperti pelatihan dasar, menengah, lanjut dan tinggi. Kita perbaiki bisa saja sepuluh klaster, berdasarkan kompetensi guru itu,” pungkasnya. (dilansir dari situs : www.jpnn.com)

SEMUA GURU HARUS SERTIFIKASI AKHIR 2015, KEMENDIKBUD GAGAS PROGRAM MENYEKOLAHKAN GURU !!

  Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan, batas akhir guru memenuhi kualifikasi akademiknya (minimal D4 atau S1), serta mendapatkan sertifikat pendidik (sertifikasi) sampai akhir 2015. Hanya saja sampai saat ini masih banyak guru yang belum memenuhi persyaratan tersebut.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Sumarna Surapranata mengungkapkan,  jumlah guru pada 2005 sekitar 2,7 juta orang. Kondisinya saat itu hampir 60 persen atau dua pertiganya belum S1, khususnya guru SD.

“Dengan kondisi seperti itu pemerintah melalui Kemendikbud mengambil inisiatif membuat program menyekolahkan guru,” ujar Sumarna di Jakarta, Jumat (19/6) .

Dikatakan, program tersebut adalah Pengakuan Pengalaman Kerja dan Hasil Belajar (PPKHB). Program ini mengatur agar guru yang sekolah lagi untuk memenuhi kualifikasi akademiknya, tidak perlu memenuhi jumlah sistem kredit semester (SKS) 100 persen, melainkan cukup sepertiganya.

Dalam kurun waktu 10 tahun, sejak 2005 hingga 2015, Pranata mengatakan pertambahan jumlah guru mencapai satu juta orang. Penambahan tersebut merupakan hasil pengangkatan guru-guru oleh pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Sebagian besar tanpa memerhatikan kualifikasi akademik guru. Padahal guru yang bersangkutan harus sudah lulus D4 atau S1 sebelum diangkat.

Pranata mengatakan, pemerintah fokus menuntaskan kewajiban dalam hal pemenuhan kualifikasi akademik dan sertifikasi guru-guru yang diangkat sebelum tahun 2005, sesuai UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

 “Tahun ini kalau kami hitung, 2015 ini hampir selesai (kualifikasi dan sertifikasi guru). Mudah-mudahan tuntas dalam waktu enam bulan ke depan,” ujar mantan Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar itu.

Ditambahkannya, pihaknya akan mengkaji dan mendalami data penambahan satu juta guru tersebut.

GURU PNS BELUM PUNYA SERTIFIKAT PENDIDIKAN PROFESIONAL, SIAP-SIAP JADI STAF FUNGSIONAL

Pemerintah bisa saja menugaskan guru-guru PNS yang belum mendapatkan sertifikat sebagai pendidik profesional sebagai staf fungsional. Namun demikian, bila hal itu dilakukan konsekuensinya pemerintah harus bersiap untuk menghadapi persoalan baru yang jauh lebih besar, yakni terjadinya krisis guru.

”Baguslah kalau memang para guru yang belum bersertifikat itu akan dialihtugaskan menjadi staf.  Tetapi konsekuensinya pemerintah harus siap juga bila di lapangan nanti banyak ditemukan adanya sekolah yang kekurangan guru,” kata Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Banyumas, Tri Joko Heranto, Jumat (12/6).

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 1.475 guru PNS di Kabupaten Banyumas dari jenjang TK sampai SMA/SMK terancam bakal dijadikan sebagai staf fungsional.  Mereka sampai saat ini belum bersertifikasi sebagai pendidik profesional.  Padahal sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen, pada Desember 2015 seluruh guru harus sudah bersertifikat pendidik profesional.

Menurut dia, semestinya pemerintah melihat kenyataan yang ada di lapangan. Pasalnya saat ini masih terjadi kekurangan guru, sehingga bila guru-guru yang belum mendapatkan sertifikat pendidik profesional itu dijadikan staf, maka kekurangan guru semakin menjadi.

Beruntung selama ini kekurangan guru tersebut sebagian masih bisa ditutupi dengan keberadaan guru wiyata bakti.  Kendati demikian kekurangan juga masih terjadi lantaran ada guru yang sudah memasuki masa pensiun.

Dia menilai, kebijakan yang diambil pemerintah, yakni dalam kurun waktu sepuluh tahun seluruh guru harus sudah bersertifikasi merupakan sesuatu yang sulit.  Bahkan sejak awal ia mengaku sudah memprediksi bila sampai pada Desember nanti, masih banyak guru yang belum bersertiikasi.

Pegiat Forum Interaksi Guru Banyumas ini menambahkan, sebaiknya pemerintah memberikan kemudahan kepada para guru dalam mendapatkan sertifikat pendidik profesional.  Aturan yang mengharuskan guru pada Desember 2015 nanti harus sudah bersertifikat, diperlonggar.

Guru-guru yang sudah mengabdi cukup lama, sebaiknya diberi kemudahan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi.  ”Guru-guru yang sudah mengajar minimal 10 tahun, semestinya langsung disahkan saja untuk menerima sertifikat sebagai guru profesional,” kata dia.

Selain itu, lanjut dia, pemberlakukan Undang-Undang Guru dan Dosen yang mewajibkan seluruh guru pada akhir tahun ini harus bersertifikat, sebaiknya berlaku surut.  Kebijakan tersebut semestinya hanya diberlakukan pada guru-guru yang mulai mengabdi setelah keluarnya undang-undang tersebut.

”Bagi mereka yang sudah mengabdi jauh sebelum undang-undang itu dikeluarkan, semestinya langsung mendapatkan sertifikat dan berhak menerima tunjangan profesi,” jelasnya.

(Sumber : www.jpnn.com)www.pendidikanguru.” Beritapendidikan.net”

PRESTASI BELAJAR SISWA

 Judul Buku :
PRESTASI BELAJAR SISWA
Penulis :
Aleksander Laos
ISBN : 978-602-0816-35-7
Tebal : 83 Halaman
Penerbit :Kresna Bina Insan Prima

Buku terdiri dari 80 halaman dan berjudul “ PRESTASI BELAJAR SISWA ” oleh karena itu dalam buku ini memberi saran bagi para guru untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa dari factor, selain kompetensi dan motivasi belajar siswa dan profesionalisme guru. menjelaskan peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu pemerintah berusaha melakukan perbaikan. Perbaikan tersebut tidak ada artinya tanpa dukungan dari guru, orang tua murid dan masyarakat yang turut serta dalam meningkatkan mutu pendidikan. Apabila membahas tentang mutu pendidikan maka tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar yang ada di sekolah. Hasil belajar siswa yang diharapkan biasanya berupa prestasi belajar yang optimal. Namun dalam pencapaiannya masih saja mengalami kesulitan dan prestasi yang didapat belum dapat dicapai secara optimal. Dalam buku ini akan dibahas mengenai pengaruh kompetensi siswa, motivasi belajar siswa dan profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa.

Buku ini berdasarkan hasil penelitian dan analisis data sebagaimana yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan yaitu secara simultan kompetensi siswa, motivasi belajar dan profesionalisme guru berpengaruh signifikan positif terhadap Prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Amanuban Barat Kecamatan Batuputih Kabupaten Timor Tengah Selatan. Konstribusi pengaruh kompetensi siswa, motivasi belajar dan profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa sebesar 27,7%, sedangkan sebesar 72,3% prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh variabel diluar kompetensi siswa, motivasi belajar dan profesionalisme guru. Secara parsial kompetensi siswa berpengaruh signifikan positif terhadap prestasi belajar siswa SMP Negeri 2 Amanuban Barat Kecamatan Batuputih Kabupaten Timor Tengah Selatan.

PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN MELUKIS DENGAN BENANG

 Judul Buku :
PENGEMBANGAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI KEGIATAN MELUKIS DENGAN BENANG
Penulis : Ruswati
ISBN : 978-602-0816-37-1
Cetakan Pertama : April 2015
Tebal :105 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima
ISI BUKU ; Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Pendidikan ini sangat penting karena merupakan masa tumbuh kembang anak yang paling baik, terutama pertumbuhan jasmani yang sangat pesat. Dalam hitungan bulan saja tinggi dan berat badannya bertambah dengan cepat. Hal tersebut dapat dilihat pada pertumbuhan motorik, koordinasi otot-otot dan kecepatan jasmaniahnya menunjukkan kemajuan yang mencolok. Pertumbuhan keterampilan motorik pada anak baik motorik kasar maupun motorik halus tidak akan berkembang melalui kematangan saja, melainkan juga ketrmpilan yang harus dipelajari.
Perkembangan keterampilan motorik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mencakup kesiapan belajar, kecepatan belajar, kesempatan berpraktik, model yang baik, bimbingan, motivasi. Disamping itu ada tiga unsur yang menentukan dalam perkembangan motorik yaitu otak syaraf dan otot. Setiap keterampilan harus dipelajari secara individu dan sebaliknya keterampilan dipelajari satu demi satu. Apabila salah satu faktor tersebut tidak ada maka perkembangan jasmani anak akan berada dibawah kemampuannya.
KELEBIHAN; Buku tulisan Ruswati ini Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan melukis dengan benang maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : Melalui kegiatan melukis dengan benang kemampuan motorik halus anak akan semakin berkembang dengan baik selain itu juga akan meningkatkan kretivitas anak dalam melukis dengan berbagai media. Koordinasi antara tangan genggam dapat telatih dengan baik, sehingga akan memudahkan anak dalam mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran yang lainnya.
Saran dalam buku ini, diperlukan suatu persiapan yang matang, sebelum guru melaksanakan kegiatan pembelajaran, diantaranya yaitu memilih kegiatan apa yang akan dilaksanakan serta media apa yang akan digunakan agar sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.