Monthly Archives: July 2015

MOS : Dipandang Penting jika Mendidik, Tidak Penting Jika Ada Pemeloncuan

mopd-55b84c3a21afbda2056d678aOleh Cak Oirul

Beritapendidikan.net – Tahun ajaran baru telah tiba. Seperti tahun-tahun lalu, MOS (Masa Orientasi Siswa) akan diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan ini memang menyenangkan bagi sebagian siswa. Sayangnya, terkadang ada saja tindak kekerasan yang diselipkan dalam MOS. Tidak mengherankan bila orang tua siswa was-was terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anaknya. Perlukah MOS diadakan? Jika perlu, apa saja yang harus diperhatikan pihak sekolah dalam menyelenggarakannya…?

Terkait hal itu, hasil culikan Beritapendidikan.net di media online atau facebook dan Twiter banyak yang memberikan pandangan terhadap MOS itu masih terkesan ” Pemeluncuan ” Misalnya seperti komentar Pendapat dibawa ini.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Pagi ini saat berangkat ke kantor, selama perjalanan saya memperhatikan anak-anak yang berangkat ke sekolah. Padahal hari-hari sebelumnya saya sama sekali tidak tertarik melakukannya. Ketertarikan ini akibat sehari sebelumnya saya membaca informasi terkait adanya Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan Praktek Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah. Bahkan Anies Baswedan sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan memecat Kepala Sekolah yang membiarkan terjadinya perpeloncoan.

Beberapa anak sekolah yang berjalan kaki, naik angkot dan naik motor saya identifikasi sebagai siswa baru baik SMP ataupun SMA. Mereka membawa atribut-atribut MOS khas perpeloncoan, seperti topi warna-warni dan aksesoris yang tidak biasa dipakai setiap hari ke sekolah. Saya perhatikan, ada sesuatu yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Bila tahun-tahun sebelumnya atribut dan aksesoris yang aneh-aneh dalam Masa Orientasi Sekolah (MOS) biasanya dipakai para siswa baru sejak dari rumah, kini mereka tidak memakainya. Atribut dan aksesoris tersebut dimasukkan dalam kantong plastik besar. Namun karena kantongnya berwarna putih atau transparan, dapat terlihat jelas barang-barang yang ada di dalamnya adalah atribut dan aksesoris khas perpeloncoan dalam MOS.

Melihat hal tersebut saya senyum-senyum sendiri  Karena muncul dugaan dalam pikiran. Jangan-jangan hal tersebut dilakukan agar tidak terlalu vulgar dilihat oleh masyarakat di luar sekolah. Namun setelah sampai di sekolah, para siswa baru diwajibkan memakai atribut dan aksesoris yang memalukan tersebut. Bisa jadi hal ini karena panitia MOS dan juga Pihak Sekolah tidak ingin perpeloncoan yang dilakukannya diketahui oleh masyarakat, difoto dan disebarkan ke media khususnya media sosial, sehingga ketahuan oleh pihak berwenang khususnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Bila benar seperti dugaan saya, maka hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Bukannya menghentikan praktek perpeloncoan di sekolah, malah tetap melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Setelah di dalam sekolah, perpeloncoan tetap ada karena menganggap relatif aman dan tidak ada masyarakat luar yang memperhatikannya.

Sepertinya adanya surat edaran dan ancaman pemecatan dari sang Menteri belum mengkhawatirkan semua Kepala Sekolah. Di sebuah televisi swasta seorang Kepala Sekolah yang diwawancara mengenai MOS di sekolahnya yang masih melakukan praktek perpeloncoan, menganggap hal tersebut masih wajar. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa masih ada oknum Kepala Sekolah ataupun Guru yang tidak sensitif pada implementasi budi pekerti di sekolahnya. Seharusnya hubungan murid baru dengan murid lama (senior) adalah sederajat, sehingga tidak ada hak sama sekali murid senior memerintahkan berbagai hal aneh kepada murid baru yang juga akan menyusahkan orang tua murid baru.

Mungkin sudah tradisi dan budaya di Indonesia, peraturan tidak harus dilaksanakan dan ditaati. Terutama bila tidak ada pihak berwenang yang mengawasi secara langsung. Sepertinya mereka yang masih melaksanakan perpeloncoan dengan sembunyi-sembunyi adalah orang-orang yang cerdas. Mereka tahu bahwa Menteri Anies Baswedan tidak mungkin mengecek sekolah satu persatu. Apalagi larangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut belum tentu ditindaklanjuti oleh setiap Kepala Daerah dan Dinas Pendidikan setempat.
Bila sudah begini, para murid baru yang dipelonco harus berani menolak perpeloncoan. Orang tua pun harus berani melindungi anak-anaknya. Para murid baru dan orang tuanya harus melaksanakan himbauan dari Anies Baswedan. “Saatnya berhenti diam dan mendiamkan. Jika terjadi pelanggaran segera laporkan !”  Hal tersebut senada apa yang dikatakan oleh

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)   Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)
Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Selama ini kegiatan MOS seringkali diisi dengan kegiatan yang bermuatan negatif, seperti pelecehan, perpeloncoan, dan kekerasan. Murid baru diharuskan menggunakan kostum yang aneh lengkap dengan aksesorisnya yang tidak biasa dan ganjil tidak seperti murid sekolah biasanya atau yang dipakai murid senior. Hal ini masuk dalam kategori pelecehan dan mempermalukan murid baru.

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Mendikbud Anies Baswedan mengharapkan pelaksanaan MOS dilakukan sesuai dengan substansinya. Atribut yang tidak wajar harus dihapuskan, karena dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa. “Pakai pakaian normal saja. Anak-anak datang ke sekolah itu bukan untuk dipermalukan. Mereka datang untuk membangun kepercayaan diri, bukan untuk dihancurkan. Jangan izinkan anak-anak (siswa) senior‎ menghancurkan kepercayaan diri juniornya,” Tegas Anies Baswedan (sumber disini).

Sementara menurut Handrini ardiyanti  MOS, merupakan ” Memori Indah Sarat Pembelajaran Yang Tak Terlupakan “

MOS atau masa orientasi sekolah banyak dikritik belakangan ini. Tapi bagi saya pribadi, MOS merupakan sepengal memori indah yang tak terlupakan. Bukan karena saya mendapatkan pasangan hidup dari MOS melainkan karena saya mendapatkan pelajaran hidup saat MOS.

Kekerasan? Yang saya ingat justru bentakan-bentakan senior itu mengajarkan saya bahwa dalam kehidupan tidak selalu mulus dan lemah lembut seperti kelembutan almarhum papi yang tidak pernah membentak saya. Bagi saya pribadi pada akhirnya saya melihat ketika senior membentak tersebut mengajarkan agar saya siap ketika mendapat perilaku keras tak terduga yang bisa muncul kapan saja.

Pelajaran lainnya adalah saya belajar mencintai pertama kali tentang hakikat “merah putih” dalam aliran darah setiap warga negara Indonesia. Karena mayoritas fungsionaris OSIS waktu saya mengalami MOS adalah anak pramuka dan paskibra. Penanaman cinta tanah air dan penghormatan kepada lambang-lambang kebangsaan pun ditanamkan kala itu.

Pelajaran yang sangat bermanfaat dari MOS adalah mengenal dan mencintai hal-hal yang berasal dari daerah kita sendiri. Waktu MOS SMA dulu kami diwajibkan mencari roti ganjel rel. Meski saya lahir dan dibesarkan di Semarang saya tak mengenal roti ganjel rel sebagai makanan khas kota Semarang.

Pelajaran yang sangat bermanfaat adalah pembelajaran tentang mempersiapkan masa depan yang ingin kita raih. Memetik pelajaran saat MOS yang saya alami yang kemudian ditransfer kembali ke adik-adik siswa-siswi baru saat kita menjadi panitia MOS berikutnya di SMA Negeri 1 Semarang antara lain tentang memperkenalkan konsep diri peralihan dari SMP ke SMA harus siap-siap merancang masa depan mau jadi apa, kuliah di jurusan apa, mau mempermudah mengapai cita2 dg prestasi misalnya ikut ekstra kurikuler apa yang bisa memaksimalkan potensi diri dll.

Selain itu pada saat MOS atau Ospek itulah para fungsionaris OSIS, pengurus Majalah dan Ekstra Kurikuler mendapatkan kesempatan melihat bibit-bibit baru sekaligus melihat potensi kepemimpinan baru yang ada pada siswa-siswi baru untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan OSIS ataupun kepengurusan ekstra kurikuler lainnya.

Saat MOS salah satu panitia adalah Mbak Yulia. Pada saat MOS penjelasan tentang salah satu hal yang menarik adalah tentang Majalah Sekolah SMA Negeri 1 Semarang, Expressi. Banyak hal yang dijelaskan saat itu membuat saya tertarik ikut bergabung di majalah Expressi hingga akhirnya saya dipercaya melanjutkan tongkat estafet majalah Expressi sebagai Pemimpin Umum bersama teman-teman dengan tantangan 2 tahun lebih majalah Expressi tidak terbit karena kesulitan dana dan sumbangan artikel dari siswa/i. Alhamdulillah salah satu edisi khusus waktu itu tentang Ospek (meski secara kualitas cetakan jauh dari memuaskan karena kekurangan dana) Namun dari penanaman pembelajaran dari kakak-kakak Madya SMA banyak yang masih saya ingat Mbak Maya, Mas Januar, Mas Heri Frianto, Mas Imam Fauzi dan lainnya mengajarkan hakikat kepemimpinan dan perlunya keberanian dalam melakukan terobosan demi kebaikan salah satunya kemudian bersama salah seorang pengurus majalah Expressi yang memang berposisi sebagai Sie Dana/Iklan – I’a Disyariza Firdian – kami pun memberanikan diri menerima pemasangan iklan dari Telkom dan Lembaga Bimbingan Neutron sehingga dengan dana yang mencukupi tampilan dan kualitas cetakan majalah Expressi bisa jauh lebih berbobot.

Itu hanyalah sepenggal dari banyak pembelajaran yang saya dapatkan di MOS. Saat MOS di Perguruan Tinggi pun demikian halnya. Mayoritas pengurus Senat Mahasiswa yang melakukan MOS adalah pengurus dan anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) seperti Mas Budi Setiyono (yang Alhamdulillah saat ini telah dipercaya sebagai Pembantu Rektor III Universitas Dipnegoro) dan senior lainnya. Saya pun tertarik ikut masuk didalamnya hingga terakhir menjadi Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) PPTK HMI Cabang Semarang. Tak dapat saya pungkiri, HMI, Badan Amalan Islam (BAI) adalah sekian banyak yang turut membentuk dan menempa kesiapan saya untuk mewujudkan impian dan cita-cita saya. Meski tidaklah sehebat yang lainnya, tapi minimal bagi saya sendiri, mampu masuk dan menerobos ujian CPNS di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI tanpa ada satupun koneksi adalah suatu hal yang muskil bagi anak daerah seperti saya jika saya tanpa diwarnai oleh berbagai pembelajaran yang saya dapatkan saat MOS. Terakhir terima kasih untuk kakak-kakak senior saya yang telah memberikan pembelajaran yang berharga yang sangat bermanfaat. MOS sekali lagi bagi saya adalah memori indah sarat pembelajaran yang tak terlupakan. Pembelajaran dari kakak-kakak senior bagi saya saat itu lebih mudah tertanam daripada pembelajaran yang saya dapatkan dari Bapak/Ibu Guru karena bisa jadi jeda usia dan pola pemikiran yang tidak jauh berbeda.

Persiapan Siswa Peraih Beasiswa Pertukaran ke Luar Negeri

Postad By Beritapendidikan.net/Rabu 29 Juli 2015/ 11:45

PERSIAPAN: Dari kiri, Reyna, Janice, Leo, dan Dhea mewawancarai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota pada Jumat (24/7). Foto: Antin Irsanti/Jawa Pos

PERSIAPAN: Dari kiri, Reyna, Janice, Leo, dan Dhea mewawancarai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota pada Jumat (24/7). Foto: Antin Irsanti/Jawa Pos

 ” Bawa Bumbu Dapur dan Setumpuk Baju Batik
Beritapendidikan.net/JPNN.com – Empat siswa Surabaya sebentar lagi mengikuti pertukaran pelajar. Dua orang bertolak ke Amerika Serikat dan dua lainnya ke Taiwan. Mereka mendapatkan beasiswa dari Rotary Youth Exchange Program selama setahun. Sebelum berangkat, mereka berpamitan kepada Wali Kota Tri Rismaharini.

EMPAT remaja berpakaian formal dengan mengenakan jas biru tua memasuki aula depan Balai Kota Surabaya pada Jumat (24/7). Dua di antaranya membawa kamera dan tripod untuk keperluan rekaman. Tidak lama kemudian, mereka menaiki lift menuju lantai 2. Di sana mereka menunggu dipersilakan masuk ke ruangan oleh Wali Kota Tri Rismaharini untuk melakukan sesi wawancara.

Empat siswa itu adalah anak-anak cerdas yang berhasil mendapatkan beasiswa belajar ke luar negeri. Mereka berhasil melalui tahapan tes dari Rotary Youth Exchange Program. Tes yang dilalui adalah kemampuan bahasa Inggris, psikotes, leadership, group discussion, dan wawancara.

Yang diwawancara panitia tidak hanya peserta tes, tetapi juga orang tua mereka. Program tersebut bukan beasiswa biasa. Ada mekanisme pertukaran. Jadi, selama setahun mereka belajar di luar negeri, orang tua mereka juga akan ketempatan siswa dari luar negeri dalam kurun waktu itu. Orang tua mereka ditanya tentang kesiapan menerima siswa asing tersebut.
Sementara itu, kedatangan mereka ke kantor wali kota ditujukan sebagai bekal di negara tujuan. Rencananya, video tentang wawancara tersebut ditayangkan sebagai presentasi di sekolahnya nanti. ’’Kami memasukkan video tentang Kota Surabaya. Tujuannya, sebagai promosi Surabaya di luar negeri,’’ ujar Leonardus Putera Santoso, siswa kelas XII SMA St Louis Surabaya.

Leo, sapaan Leonardus, akan berangkat ke Amerika Serikat pada pertengahan Agustus. Dia akan tinggal di Illinois. Leo tidak sendirian. Ada Alma Putri Dhafira atau biasa disapa Dhea yang juga akan tinggal di negeri Obama tersebut selama setahun. Namun, Dhea mendapat bagian tinggal di Michigan.

Sementara itu, dua pelajar lainnya berangkat ke Taiwan pada waktu yang sama. Yaitu, Janice Valentina Kusuma dari SMA Flateran dan Reynalda Fildzah Dessyrianti, pelajar Homeschooling Kak Seto. Janice tinggal di Taipei, sedangkan Reyna di Tainan. Rencananya, mereka berangkat sekitar 15–25 Agustus. ’’Awal September sudah mulai masuk sekolah,’’ ungkap Janice.
Saat bertemu dengan Risma, mereka meminta wejangan. ’’Ibu Risma kan pernah mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Seattle. Jadi, kami minta tip-tip belajar di luar negeri,’’ ujar Dhea.

Pada pertemuan itu, tidak ada kecanggungan antara Risma dan para siswa. Mereka mengobrol layaknya orang yang sudah lama kenal. Risma juga memberi masukan untuk video yang digarap Leo dan Dhea. Menurut dia, video tersebut harus lebih banyak menampilkan keseharian di Kota Surabaya dan aktivitas para siswanya. Terdapat juga kehidupan umat beragama di Surabaya yang bisa berdampingan secara rukun dan damai.

Risma pun meminta mereka membawa nama baik kota dan negara. Sejak sekarang, mereka disarankan melatih kemandirian. Ketika hidup di luar negeri nanti, mereka harus melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak boleh bergantung kepada orang lain.

Hal tersebut sudah disadari Leo dan kawan-kawan. Saat ini mereka sudah menyiapkan bekal yang dibawa untuk perjalanan nanti. Leo, misalnya. Dia sudah menyiapkan berbagai bumbu dapur siap saji untuk memasak selama di Illinois. Lelaki berusia 17 tahun tersebut memang hobi memasak. Itu juga bisa mengobati rasa kangen dengan masakan Indonesia. ’’Nanti tantangan di sana pasti makanan, temperatur udara, dan homesick. Makanya, saya bawa bumbu-bumbu masakan seperti rawon, soto, dan nasi goreng,’’ katanya.

Dhea juga tidak ketinggalan. Keluarganya sudah menyiapkan makanan jadi untuk dibawa. Sang nenek memasakkan rendang yang bisa awet cukup lama agar Dhea tidak kesulitan makan. Dia pun membawa beberapa bumbu dapur yang sudah siap diolah jika sewaktu-waktu membutuhkannya.

Tidak hanya itu, Dhea memenuhi kopernya dengan baju dan kain batik. Rencananya, remaja kelas XII SMAN 5 Surabaya tersebut akan mengenalkan batik kepada teman-temannya di Michigan dan orang tua asuhnya. ’’Banyak baju batikku yang baru. Kalau teman-teman di AS nanti mau, bisa dibeli. Jadi nggak apa-apa baju batiknya habis dibeli,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Sementara itu, Janice dan Reyna lebih mempersiapkan mental dan bahasa untuk bekal di Taiwan. Janice merasa beruntung karena belajar bahasa Mandarin sejak umur empat tahun, sedangkan Reyna baru belajar Mandarin sebulan terakhir. Namun, putri ketiga pasangan Sri Rahayu dan Sutardi tersebut tidak khawatir. Menurut dia, kemampuan bahasa bisa dilatihnya selama berada di Tainan.

Sejak diberitahu mengenai lokasi keberangkatan dan identitas orang tua asuhnya, Leo dan kawan-kawan berusaha mencari tahu tempat tinggalnya. Internet sangat membantu mereka untuk mengetahui daerah yang akan ditinggali. Selain itu, mereka sudah berkenalan dengan orang tua asuh mereka via e-mail.

Selama setahun di luar negeri, Leo dan kawan-kawan akan berganti host family sebanyak tiga kali. Tujuannya, agar anak-anak tersebut mampu beradaptasi terhadap kehidupan sehari-hari dari keluarga yang berbeda dengan kebiasaan yang berbeda pula. Dengan demikian, tidak hanya pelajaran sekolah yang didapat, melainkan juga budaya dan kehidupan sosial dari negara yang ditinggalinya itu.

Meski deg-degan, Leo dan kawan-kawan sudah tidak sabar menanti keberangkatan mereka ke negara tujuan. Sejak sekarang, mereka merencanakan apa saja yang akan dilakukan sesampainya di negara tujuan. Hal pertama yang mereka rencanakan adalah posting di Instagram. Itu dilakukan agar teman-temannya tahu bahwa mereka sudah sampai di negara tujuan. Tujuannya, teman-teman mereka termotivasi berprestasi seperti mereka. ’’Jadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah tanya password wifi,’’ tutur Leo setengah bercanda.

Leo pun berencana membuat video perjalanan selama setahun di AS. Sementara itu, Dhea yang suka menulis mengisahkan pengalamannya di Negeri Paman Sam melalui hobinya tersebut. ’’Rencananya, aku juga mau buat buku tentang pengalaman pertukaran pelajar,’’ kata Dhea yang merupakan jawara menulis surat kepada wali kota Surabaya pada Desember lalu itu.

Selain belajar di sekolah, Dhea dan Janice memperdalam ilmu seni tari balet di negara tujuannya nanti. Sebab, keduanya terpaksa kehilangan kesempatan ujian balet karena harus berangkat untuk megikuti program pertukaran pelajar itu. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus disesali. ’’Tidak semua anak bisa dapat kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri seperti ini,’’ jelasnya.Beritapendidikan.net/JPNN.com*/c20/ayi)

Menakar Kinerja Kabinet

 

postad By Beritapendidikan.net- 28 Juli 2015
Oleh ; KUNTORO MANGKUSUBROTO  KETUA DEWAN SEKOLAH BISNIS DAN MANAJEMEN (SBM) ITB; PENDIRI INSTITUT DELIVEROLOGI INDONESIA (IDEA)

Beritapendidikan.net/Kompas.com – Pemerintah ada untuk rakyat. Pemerintah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Maka, jika berbicara tentang kinerja pemerintah, di ujung titian sana, rakyatlah yang paling pantas dan berhak menilai: sudah klopkah janji dengan realisasi?

print.kompas.com didie sw

print.kompas.com
didie sw

Barangkali kita pernah mendengar sekolah menengah atas negeri (SMAN) masuknya tanpa bayar. Namun, dari curhatan beberapa wali murid SMAN yang saya dengar, antara lain dari Baturaden, Pekalongan, Lembang, ternyata mereka harus merogoh rata-rata Rp 4 juta tanpa jelas peruntukannya sebagai pungutan apa. Duit sebesar itu tentu bukan receh bagi masyarakat kecil. Belum lagi beban ongkos logistik dan transportasi akibat masih buruknya infrastruktur hingga membuat harga telur mencapai Rp 2.000 per butir atau bahkan lebih.

Bagaimana pula saudara-saudara kita yang tinggal di pelosok desa dan pulau terluar, terdepan, atau perbatasan negara? Pada segmen masyarakat yang biasa bertransaksi dengan dollar, kita dengar keluhan tingginya nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp 13.300 (dua tahun lalu masih Rp 11.000) per dollar AS. Pada segmen lain, koreksi angka pertumbuhan ekonomi menjadi 5,4 persen pada 2015-dari asumsi semula 5,7 persen dan bahkan di atas 7 persen jika sesuai janji kampanye-dinilai bukanlah pertanda baik dari kinerja pemerintah. Hal-hal konkret inilah yang acap dirasakan, dan lalu ditautkan oleh masyarakat sebagai (indikator) “kinerja pemerintah”.

Pada sisi lain, agar di kemudian hari tak terjadi kejutan/letupan yang akan merepotkan dirinya sendiri, dari waktu ke waktu pemerintah dituntut bisa menakar dan mengukur kinerjanya secara tepercaya. Sebagai orang yang pernah berada di dalam pemerintahan, saya menyadari betul ada beberapa problem laten di pemerintahan biarpun rezim berganti-ganti. Catatan ini semata-mata amatan dan pengalaman pribadi, dari kacamata mantan “orang dalam” yang kini telah bebas serta menikmati kebebasan untuk mengamati dan berbagi. Janji itu utang Pak Jokowi terpilih sebagai presiden. Mengapa rakyat memilihnya? Karena dulu, saat kampanye, Pak Jokowi pernah menyampaikan sekumpulan janji yang memikat hati sebagian besar rakyat. Janjinya macam-macam, termasuk Nawacita. Siapa pun sosoknya, rakyat hanya tahu Pak Jokowi telah menjanjikan sesuatu dan karena janji itu beliau dipilih sebagai presiden.

Kelak, pada akhir 2019, janji itu ditagih rakyat. Kabinet Kerja, oleh karena itu, harus mengusung dan mewujudkan program-program Pak Jokowi selaku presiden. Bukan saja program yang termaktub dalam Nawacita, melainkan juga yang lebih luas dan amat relevan, misalnya perdagangan, pembayaran utang, hingga (potensi) konflik horizontal. Di atas itu semua, janji-janji kampanye adalah tulang punggung utama program strategis pemerintah: utang kepada jutaan rakyat yang mendudukkan Pak Jokowi sebagai presiden.

Konkret, jelas, dan terukur
Kontrak Kinerja Presiden tak bisa bekerja sendiri. Untuk itulah presiden memilih dan menunjuk sekumpulan putra terbaik bangsa bergabung membantunya sebagai pemimpin kementerian/lembaga (K/L). K/L, bekerja sesuai arahan presiden, dipimpin oleh menteri/setingkat menteri yang notabene orang-orangnya presiden. Jadi, tanpa terkecuali, mereka wajib menjalankan program strategis presiden. Selaku pemimpin, para menteri atau kepala lembaga harus “menggembalakan” jajaran K/L-nya, mau ke mana, apa yang akan dicapai, dengan cara apa, dan lain-lain. Alhasil, kinerja menteri menjadi sebangun-sesisian dengan kinerja presiden karena merekalah pembawa misi yang merefleksikan janji-janji presiden.

Para menteri adalah komandan kementerian. Status ini yang membuat kita agak susah membedakan antara kinerja menteri dan kementerian. Baik-buruknya kementerian, menterilah yang bertanggung jawab. Di sinilah arti penting mengapa tatkala seseorang diminta presiden menjadi menteri, perlu ada satu kesepakatan “kontrak kinerja” mengenai apa-apa saja yang harus dicapainya dan kapan. Kontrak kinerja adalah suatu kesepakatan tempat presiden menyatakan, “Saya ingin membawa bangsa ini ke arah sana. Bantulah saya, wahai menteri, sesuai bidangmu, membawanya ke arah sana.” Yang dimaksud dengan “sana” adalah seperangkat tujuan yang jelas (eksplisit) dan terukur (measurable).

Karena ini amanah, kapan pun presiden bisa menanyakan atau menagih, “Wahai menteriku, apakah yang Anda lakukan sudah sesuai sasaran yang saya maksud?” Jadi, bagi menteri, kejelasan dan keterukuran itu sangat perlu. Kinerja pemimpin K/L perlu di-nyata-kan. Semisal, Mendikbud, pagi-pagi perlu menyatakan secara jelas apa maksud dan bagaimana mengejawantahkan “revolusi mental” dalam konteks dikbud? Apakah cukup dengan memberikan modul tambahan kepada para guru guna menambah muatan mata pelajaran tertentu? Berapa ribu guru yang perlu dilatih? Sampai kapan? Mekanismenya seperti apa? Untuk Menteri ESDM: berapa barrel minyak yang perlu dihasilkan? Apakah 1 juta barrel per hari? Kapan dan berapa pencapaian angka “masuk akal”-nya?

Begitu kontrak kinerja ditandatangani dan di tangan, akan menjadi jelas apa yang perlu dicapai. Para menteri tinggal menjabarkannya ke dalam aksi-aksi konkret tahunan, bahkan dwibulanan, beserta cara-cara mewujudkannya. Dengan demikian, bagi Menteri Pertanian, ia akan tahu persis apa yang perlu dicapai terkait pengadaan beras, irigasi, benih, dan sebagainya. Ini juga bisa menjawab, apakah pembagian traktor itu memang benar merupakan bagian dari tugas kementeriannya? Ukuran-ukuran semacam ini harus diterapkan ke semua menteri. Layaknya sebuah kontrak antara pemimpin dan anak buahnya, kontrak kinerja jadi acuan dasar atau basis bagi dilakukannya perubahan di tengah jalan. Sebaliknya, jikalau acuan dasarnya absen, andai sewaktu-waktu diperlukan perubahan, perubahan itu hampir pasti akan menuai kegaduhan debat kusir. Sebuah energi yang semestinya tak perlu dikeluarkan.

Semua butir kesepakatan dalam Kontrak Kinerja Menteri berangkat dari visi-misi presiden. Apa pun nama visi-misinya, yang pasti, harus clear dan dapat dijalankan (workable). Perubahan-perubahan di dalam struktur kabinet pun harus mencerminkan visi-misi presiden. Dilakukannya fisi dan fusi K/L ataupun transfusi sebuah unit dari satu K/L ke K/L lain pun secara konsisten harus merefleksikan visi-misi itu. Resonansi sinyal komunikasi yang buruk memancarkan sinyal-sinyal yang justru tak membantu dalam menjelaskan kepada rakyat mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Kurang solidnya para pembantu presiden di lingkungan Istana juga termasuk. Kalaupun teresonansi, sinyal-sinyal itu sulit diterima, menjelma noise, atau pesannya membingungkan.
Ada dan bekerja

Komunikasi adalah pernyataan-pernyataan, adapun sinyal adalah “komunikasi plus”. Sinyal lebih kompleks karena di dalamnya terajut relasi banyak aspek, antara lain: pernyataan, gambar, grafik, gestur, hingga pernyataan lepas-yang seolah-olah tanpa konteks, tetapi bermakna-bagi rakyat. Sinyal yang meleset akan merepotkan dan mendistorsi kepastian hingga kepercayaan (trust). Kita perlu lebih cermat jika harus menjaminkan ukuran kinerja semata-mata pada frekuensi munculnya “aktivitas komunikasi” menteri (baca: popularitas) di media massa. Betapa tidak, media massa cenderung bias. Biasnya itu bisa akibat kepemilikan modal, lembaga konsultan yang diminta menilai, hingga afiliasi politik pemiliknya.

Apabila ini semua telah dipertimbangkan dan kemudian dapat ditangani secara baik, setidaknya modal untuk mengukur kinerja pemerintah itu sudah ada, tinggal menunjuk unit yang mengawal evaluasi kinerja pemerintah. Unit inilah yang kemudian melapor ke presiden agar, dari waktu ke waktu, presiden bisa luwes dan yakin dalam melakukan perubahan-perubahan tanpa harus keluar dari konteks teknis pemerintahan. Karena sistematis, presiden niscaya terbantu dan konfiden ketika tiba saatnya melakukan pengambilan-pengambilan keputusan.

Berangkat dari hal-hal di atas, sedikitnya terdapat empat butir yang menurut hemat saya perlu dijalankan. Pertama, “ikat” para pemimpin K/L dengan kontrak kinerja-terlepas akan ada kocok ulang atau tidak-agar manakala di kemudian hari ada perubahan, semua pihak bisa memiliki acuan sama. Kontrak kinerja dijabarkan menjadi program-program K/L dengan ukuran jelas dan terukur. Penjabarannya, ada baiknya, per tahun. Sebagai permulaan, milestone evaluasi paling dekat terpenting adalah Desember 2015. Pasalnya, pada titik itu, bilamana ditemukan ketidaksesuaian atau penyimpangan, segera dapat dilakukan pembenahan. Jadi, jabarkan dulu hingga Desember 2015; baru menyusul yang sampai Desember 2016, Desember 2017, dan seterusnya. Berdasarkan prioritas-prioritas inilah aspek perencanaan mengikutinya.

Kedua, tunjuk satu lembaga untuk mengawalnya. Namanya boleh apa saja. Karena merupakan unit-independen-di- dalam-pemerintahan yang memberi masukan kepada presiden, ia harus obyektif, pantang terbelit kepentingan apa pun, baik politik maupun lainnya. Kerjanya bukan semata “kerja konvensional” monitoring-evaluasi-melapor (kepada presiden), tetapi yang jauh lebih penting adalah melakukan perbantuan (consulting), pembenahan, serta penguraian sumbatan terhadap K/L bahkan daerah.

Ketiga, (pemimpin) K/L harus meningkatkan kemampuannya dalam menyampaikan sinyal-sinyal positif lebih dari sekadar kebutuhan untuk berkomunikasi. Contoh: bagaimana kita memberikan sinyal terkait sebuah produk keputusan presiden yang keliru atau sinyal terkait peneraan nomenklatur kelembagaan yang kurang tepat. Alih-alih problem teknis, hal ini sebetulnya merupakan problem mendasar organisasi, yakni penguasaan komunikasi dan psikologi massa. Keempat, perkuat sistem aduan rakyat yang sudah eksis itu, yakni LAPOR! (Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat), dalam hal kecepatan respons dan tindak lanjutnya. Pengelola LAPOR! harus punya kemampuan melakukan penguatan kepada K/L/ daerah agar terus memperbaiki kinerja.
Kesemua empat butir itu memiliki arti penting bagi rakyat. Rakyat menjadi melek bahwa pemerintahnya tak absen. Pemerintahnya ada dan bekerja.

Indonesia Tuan Rumah Olimpiade Astronomi

Oleh : LARASWATI ARIADNE ANWAR

ilustrasi

ilustrasi

Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS — Untuk kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional. Ini membuktikan bahwa Indonesia merupakan salah satu pemain penting dalam lingkaran kompetisi ilmiah bertaraf internasional.
Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional (IOAA) ke-9 akan dilangsungkan di Magelang, Jawa Tengah, pada 26 Juli hingga 3 Agustus. Perlombaan ini diperuntukkan bagi para siswa SMA dan sederajat. “Terdapat 318 peserta dari 41 negara, belum termasuk perwakilan negara-negara lain yang akan datang sebagai pengamat,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Nur Hadi Amiyanto saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (25/7).
Ia menjelaskan, lomba akan diselenggarakan di SMA Taruna Nusantara. Alasannya, sekolah tersebut memiliki siswa yang mewakili 34 provinsi di Indonesia. Adapun kegiatan meneropong bintang akan dilakukan di pelataran Candi Borobudur.
“Borobudur dibangun dengan perhitungan astronomi. Jadi, hal ini bisa menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia sangat mengusung ilmu pengetahuan sekaligus mempromosikan pariwisata kita,” kata Nur Hadi.

ilustrasi

ilustrasi

Kualitas dunia 
Pada acara jumpa pers mengenai IOAA di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Sekretaris Jenderal IOAA Greg Stachowski menjelaskan, ketika Institut Teknologi Bandung didapuk menjadi lokasi IOAA ke-2 pada 2008, Indonesia telah membuktikan diri mampu menyediakan sarana dan prasarana lomba. “Standar kami tinggi dari segi peralatan. Namun, ternyata Indonesia tidak kalah dari negara-negara lain,” katanya.
Ia memaparkan, ilmu astronomi belum terlalu dikenal dibandingkan dengan ilmu-ilmu sains lain, seperti fisika, biologi, kimia, ilmu bumi, dan matematika. Akan tetapi, dari segi peminat, terjadi peningkatan yang cukup stabil, termasuk di Indonesia.

Dok- Tim astronomi Indonesia di IOAA 2011 @kaskus.co.id

Dok- Tim astronomi Indonesia di IOAA 2011 @kaskus.co.id

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengharapkan IOAA bisa meningkatkan minat para siswa Indonesia karena melibatkan masyarakat pendidikan SMA. “Di samping itu, acara tersebut menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan potensi pendidikan kita kepada anak-anak berprestasi dari seluruh dunia,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Direktur Pembinaan SMA Kemdikbud Harris Iskandar memaparkan alasan Jawa Tengah dipilih sebagai tuan rumah IOAA 2015. Provinsi ini merupakan juara umum Olimpiade Sains Nasional (OSN). Ke depan, provinsi-provinsi berprestasi akan diberi kesempatan menjadi tuan rumah berbagai lomba sains.
Indonesia akan menerjunkan dua tim yang masing-masing terdiri atas lima siswa. Para peserta disaring dari 28 kandidat yang meraih medali emas, perak, dan perunggu pada OSN sebelumnya. “Pada IOAA 2008, kita memenangi empat medali emas. Setelah itu sempat tenggelam hingga tahun 2013, ketika Indonesia meraih satu emas. Tahun ini, harapannya kita bisa kembali juara,” ujar Harris. Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS

Hari Pertama Sekolah

Beritapendidikan.net/posting 27 Juli 2015

dok----

dok—-

Orangtua agar Masuk Kelas dan Berdialog dengan Guru

Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS — Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti berisi antara lain tentang keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Salah satu hal yang ditekankan adalah kewajiban orangtua mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Kegiatan mengantarkan anak pada Senin (27/7), hari pertama tahun ajaran 2015/2016, merupakan salah satu upaya agar ada interaksi orangtua dengan pihak sekolah. Dengan berinteraksi, diharapkan pengasuhan anak di sekolah dengan di rumah bisa sinkron. Namun, perlu penerapan yang konsisten dan kesadaran agar semangat itu tidak sekadar menjadi ritual tanpa makna.

Pada hari pertama sekolah, orangtua tidak sekadar mengantar hingga gerbang, tetapi harus masuk ke dalam kelas dan berdialog dengan para guru. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad, pekan lalu, menyatakan, kewajiban tersebut berlaku bagi orangtua yang anaknya akan masuk TK dan SD. Adapun SMP dan SMA sederajat sudah melarang orangtua mengantar anak karena hendak mengajarkan kemandirian.

“Namun, itu tidak boleh dijadikan alasan berakhirnya komunikasi orangtua dengan guru,” katanya. Walaupun jarang ke sekolah karena sibuk, orangtua tetap harus mengikuti perkembangan anak. Guru, terutama wali kelas, juga wajib diinformasikan mengenai kebiasaan anak di rumah. Itu agar proses pengasuhan menyeluruh.

Kepala SMPN 1 Depok, Jawa Barat, Ety Kuswandarini memandang perlu Permendikbud No 23/2015 karena “memaksa” orangtua memasang antena terhadap perkembangan anak-anak mereka. “Orangtua cenderung menganggap pendidikan urusan antara guru dan murid. Mereka tidak lagi mengindahkan perkembangan anak di sekolah,” ujarnya.

Sekolah proaktif membuat forum komunikasi kelas di beragam media sosial agar guru dan orangtua bisa bertukar informasi tentang anak. “Wali kelas juga menjadwalkan pertemuan dengan orangtua untuk membahas rencana pembelajaran anak,” ujar Ety.

Di sekolah lain, Kepala SMAN 3 Jakarta Selatan Ratna Budiarti berencana membuat buku laporan guru dan orangtua. Guru mencatat perbuatan baik anak di sekolah, meskipun remeh, seperti meminjamkan alat tulis kepada teman. Di rumah, orangtua juga demikian.

Pakar pendidikan karakter Doni Koesoema berpendapat, kebijakan Permendikbud No 23/2015 harus benar-benar bisa dijadikan kebiasaan sehari-hari bagi guru, murid, dan orangtua dengan penuh kesadaran. Jika tidak, peraturan itu hanya menjadi seremonial tanpa makna. “Dialog dan teladan merupakan metode yang tepat dalam penumbuhan budi pekerti,” katanya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi mengharapkan semua aparatur sipil negara dan aparatur pemerintah lainnya ikut mengantar anaknya ke sekolah sebagaimana dianjurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Yuddy, menjadi tugas semua, termasuk aparatur sipil negara, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai budi pekerti di lingkungan sekolah dan memberikan perhatian kepada anak.

Kepada para pejabat pembina kepegawaian, dia juga meminta agar memaklumi keterlambatan pegawainya masuk kantor karena mengantar anaknya bersekolah pada hari pertama. “Jangan mencatatkannya sebagai pelanggaran disiplin jam kerja,” kata Yuddy.
Pendidikan karakter

Di Surabaya, pemerintah kota sudah menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Hal itu dikemukakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Bukan hanya di bidang pengetahuan intelegensi, pelajar juga diinstruksikan bersosialisasi dengan teman sebaya, terlebih dengan masyarakat sekitar. Salah satunya dengan program konselor sebaya dan kegiatan peka lingkungan.

Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur Daniel M Rosyid menilai, menumbuhkan budi pekerti tidak hanya tugas sekolah, tetapi melibatkan keluarga dan masyarakat. Orangtua juga meneladankan budi pekerti. Bahkan, agar efektif, gerakan itu harus dilaksanakan multisektor.
Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS (DNE/SUT/ETA)

Oleh : LUKI AULIA
Memadukan Minat dan Peluang Kerja

Memilih perguruan tinggi yang sesuai minat dan kebutuhan tidak mudah; tak bisa sekadar eeny meeny miny moe. Apalagi, jika ingin kuliah di luar negeri yang memiliki banyak kampus dengan kualitas yang beda-beda tipis dan biayanya tak murah, seperti di Australia. Untuk itu, perlu perencanaan matang.

KOMPAS/LUKI AULIARuang belajar berbentuk ruang kecil (cubicle) ini dibuat untuk mendukung metode pembelajaran baru, "Learning 2014", di University of Technology Sydney, Australia. Semua ruang kuliah dan ruang belajar didesain untuk pembelajaran kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan industri.

KOMPAS/LUKI AULIARuang belajar berbentuk ruang kecil (cubicle) ini dibuat untuk mendukung metode pembelajaran baru, “Learning 2014”, di University of Technology Sydney, Australia. Semua ruang kuliah dan ruang belajar didesain untuk pembelajaran kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan industri.

 Bagi Stanley Aditya, mahasiswa asal Malang, Jawa Timur, yang saat ini kuliah semester dua di University of New South Wales, Australia, relatif mudah memperoleh perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhannya. Itu karena ia sudah menentukan terlebih dahulu program studi yang ingin didalami. Sejak masih duduk di bangku SMA, ia ingin belajar ilmu pangan (food science). “Selesai kuliah, saya ingin bikin perusahaan makanan sendiri di Malang. Saya pilih kuliah di sini karena lingkungannya nyaman. Kota metropolitan, tetapi masih enak,” cerita Stanley saat menemani Kompas mengelilingi kampusnya, pada awal musim dingin Juli 2015 lalu.

Vincent Santosa, mahasiswa Le Cordon Bleu Australia dari SMA Karangturi Semarang, Jawa Tengah, juga sudah sejak awal mengincar perguruan tinggi bidang kuliner dan industri makanan. Ia hendak melanjutkan jiwa bisnis orangtua dengan membuka restoran di Semarang. “Untuk buka restoran, saya tidak hanya harus tahu sisi bisnis, tetapi sampai urusan memasak di dapurnya,” ujarnya.

Tidak semua peserta didik bisa seperti Stanley dan Vincent. Masih lebih banyak anak berikut orangtuanya yang bingung memilih program studi dan perguruan tinggi yang cocok. Cocok dengan minat bakat anak, keinginan anak dan orangtua, serta tentunya cocok dengan kondisi keuangan keluarga.

Ini dikemukakan oleh hampir semua dari 11 unsur pimpinan SMA dan konselor pendidikan SMA yang mengunjungi tujuh perguruan tinggi di Sydney dan Melbourne, Australia, 27 Juni-4 Juli 2015. Ketujuh kampus itu adalah University of Technology Sydney (UTS), University of New South Wales (UNSW), Macquarie University, Le Cordon Bleu Australia, Swinburne University of Technology, Monash University, dan Deakin University. Kunjungan untuk mengenal pendidikan tinggi di Australia ini difasilitasi lembaga konsultan pendidikan luar negeri, SUN Education Group, yang memiliki kerja sama dengan 300 institusi di 12 negara, termasuk Australia.

Peran orangtua
Kembali ke soal pemilihan perguruan tinggi, Kepala Divisi Bidang Kesiswaan SMA Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat, Gunawan, mengungkapkan, orangtua di Indonesia masih berperan besar dalam memilih kuliah untuk anaknya. Selama ini orangtua juga yang berkonsultasi ke sekolah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya agar bidang studi pilihannya cocok dengan karakter anak. Ini bisa diketahui melalui program bimbingan konseling atau konsultasi karier dan profesi di sekolah.

“Pertama-tama, orangtua selalu tanya tentang citra perguruan tingginya. Lalu, lingkungan belajarnya, seperti kondisi kota lokasi kampus dan akomodasi di kampus. Saya selalu merekomendasikan kampus yang punya ranking bagus,” kata Gunawan.

Hadi, Koordinator Secondary Department di Springfield International School Jakarta, menilai, mengingat biaya besar yang dikeluarkan, baik orangtua maupun murid pasti akan memilih kampus terbaik. Biasanya pertimbangan dan keinginan murid dan orangtuanya pragmatis sekali, seperti kondisi cuaca. “Peran orangtua yang sedikit mendominasi bukan masalah asalkan komunikasi yang baik bisa dijalin,” ujarnya.

Menurut Chief Operating Office SUN Education Group Harianto, sesungguhnya keinginan anak justru yang terpenting. Jika sesuai dengan keinginan anak, komitmen berkuliahnya bisa dijamin bagus. Untuk mengetahui keinginan anak, biasanya saat mereka datang berkonsultasi pertama kali akan ditanyakan tujuan kuliah dan profesi yang ingin dijalani. Biasanya anak-anak Indonesia memilih belajar bisnis, komunikasi, serta seni dan desain. “Lalu kita cari negara atau kampus yang cocok. Setelah ketemu, orangtua akan ditanya kesanggupan biaya pendidikannya seberapa,” ujarnya.

Fasilitas unggulan
Bagi Kepala SMA Sutomo 1 Medan Khoe Tjok Tjin, memilih perguruan tinggi memang bukan perkara mudah. Pasalnya, setiap perguruan tinggi, terutama di Australia, memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing dengan kualitas sarana prasarana dan capaian akademik yang hampir sama bagusnya.

Saat berkunjung ke tujuh kampus di Sydney dan Melbourne, para pengelola perguruan tinggi berkeliling dan blusukan masuk ke hampir semua fasilitas unggulan pendukung pembelajaran di setiap kampus. Ruang kuliah, ruang belajar berbagai ukuran dan bentuk sesuai dengan fungsi “Learning 2014” di UTS, laboratorium berteknologi mutakhir “Super Lab”, laboratorium ilmu forensik yang didesain seperti lokasi kejahatan dalam film serial CSI, serta perpustakaan bawah tanah di kampus UTS.

Selain itu, rombongan juga melongok ke laboratorium atau bengkel kerja perakitan kendaraan roda dua dan empat bertenaga surya dan listrik serta Factory of the Future di Swinburne University of Technology. Ini lokasi khusus untuk memfasilitasi pertemuan mahasiswa dengan pelaku industri dan menggarap proyek bersama. Ada juga kunjungan ke laboratorium pangan nutrisi dan studio animasi di Deakin University serta ke kamar asrama mahasiswa di kampus yang bersih dan nyaman dengan kisaran harga 140 dollar hingga 600 dollar Australia per minggu.

Meski memiliki keunggulan berbeda-beda, tujuh perguruan tinggi itu sama-sama menekankan pembelajaran kolaboratif melalui pengerjaan proyek bersama baik sesama mahasiswa, mahasiswa dan dosen, maupun antara mahasiswa dan kalangan industri. Jalinan kerja sama dengan industri ini yang akan membiasakan mahasiswa menangani persoalan riil. Dengan demikian, mereka tidak canggung masuk ke dunia kerja saat lulus nanti.

Ambil contoh Macquarie University, perguruan tinggi yang unggul pada bidang bisnis, khususnya Ilmu Aktuaria (ilmu yang mengaplikasikan metode matematika dan statistik untuk menaksir risiko dalam industri asuransi dan keuangan). Kampus ini setiap dua tahun sekali menyusun kurikulum bidang bisnis bersama dengan kalangan industri. Secara berkala, kalangan industri datang ke kampus dengan membawa sejumlah persoalan riil yang harus dicarikan solusinya oleh perguruan tinggi.

“Ini tidak hanya dilakukan di bidang bisnis, tetapi di semua program studi di sini,” kata Senior Country Manager International (Pacific) Macquarie University Natalie Lastary Dewi Lee yang membawa kami berkeliling kampus seluas 126 hektar itu.

Manager of Regional Relations Swinburne University of Technology Struan Robertson menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan hard skill dan soft skill serta bekerja sama dengan industri sejak awal masuk kuliah, seperti halnya pembelajaran di pendidikan vokasi atau politeknik. “Belajar dan bekerja, ini yang kami lakukan terus-menerus agar mahasiswa mampu bertahan pada era ekonomi global,” ujarnya.

Menurut Gunawan, bisnis merupakan bidang studi yang paling cocok bagi anak didiknya yang mayoritas orangtuanya berkecimpung di dunia bisnis. Pendapat serupa disampaikan Kepala SMA Karangturi Semarang Susena. Selama ini anak didiknya memilih kuliah mengambil bidang studi bisnis dan teknik di Australia. Alasannya, perguruan tinggi di negeri itu menghasilkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. “Prospek kerja setelah lulus sering ditanyakan murid dan orangtuanya,” kata Susena.

Ada lagi nilai tambah bersekolah di Australia, yaitu adanya peraturan pemerintah setempat yang memperbolehkan mahasiswa internasional dengan visa pelajar untuk bekerja hingga 40 jam setiap dua minggu selama musim akademik universitas dan tidak terbatas selama musim liburan universitas. Artinya, di sela-sela belajar, mahasiswa juga boleh menyambi bekerja.Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS