Hari Pertama Sekolah

Beritapendidikan.net/posting 27 Juli 2015

dok----

dok—-

Orangtua agar Masuk Kelas dan Berdialog dengan Guru

Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS — Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti berisi antara lain tentang keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak. Salah satu hal yang ditekankan adalah kewajiban orangtua mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Kegiatan mengantarkan anak pada Senin (27/7), hari pertama tahun ajaran 2015/2016, merupakan salah satu upaya agar ada interaksi orangtua dengan pihak sekolah. Dengan berinteraksi, diharapkan pengasuhan anak di sekolah dengan di rumah bisa sinkron. Namun, perlu penerapan yang konsisten dan kesadaran agar semangat itu tidak sekadar menjadi ritual tanpa makna.

Pada hari pertama sekolah, orangtua tidak sekadar mengantar hingga gerbang, tetapi harus masuk ke dalam kelas dan berdialog dengan para guru. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad, pekan lalu, menyatakan, kewajiban tersebut berlaku bagi orangtua yang anaknya akan masuk TK dan SD. Adapun SMP dan SMA sederajat sudah melarang orangtua mengantar anak karena hendak mengajarkan kemandirian.

“Namun, itu tidak boleh dijadikan alasan berakhirnya komunikasi orangtua dengan guru,” katanya. Walaupun jarang ke sekolah karena sibuk, orangtua tetap harus mengikuti perkembangan anak. Guru, terutama wali kelas, juga wajib diinformasikan mengenai kebiasaan anak di rumah. Itu agar proses pengasuhan menyeluruh.

Kepala SMPN 1 Depok, Jawa Barat, Ety Kuswandarini memandang perlu Permendikbud No 23/2015 karena “memaksa” orangtua memasang antena terhadap perkembangan anak-anak mereka. “Orangtua cenderung menganggap pendidikan urusan antara guru dan murid. Mereka tidak lagi mengindahkan perkembangan anak di sekolah,” ujarnya.

Sekolah proaktif membuat forum komunikasi kelas di beragam media sosial agar guru dan orangtua bisa bertukar informasi tentang anak. “Wali kelas juga menjadwalkan pertemuan dengan orangtua untuk membahas rencana pembelajaran anak,” ujar Ety.

Di sekolah lain, Kepala SMAN 3 Jakarta Selatan Ratna Budiarti berencana membuat buku laporan guru dan orangtua. Guru mencatat perbuatan baik anak di sekolah, meskipun remeh, seperti meminjamkan alat tulis kepada teman. Di rumah, orangtua juga demikian.

Pakar pendidikan karakter Doni Koesoema berpendapat, kebijakan Permendikbud No 23/2015 harus benar-benar bisa dijadikan kebiasaan sehari-hari bagi guru, murid, dan orangtua dengan penuh kesadaran. Jika tidak, peraturan itu hanya menjadi seremonial tanpa makna. “Dialog dan teladan merupakan metode yang tepat dalam penumbuhan budi pekerti,” katanya.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi mengharapkan semua aparatur sipil negara dan aparatur pemerintah lainnya ikut mengantar anaknya ke sekolah sebagaimana dianjurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut Yuddy, menjadi tugas semua, termasuk aparatur sipil negara, untuk memperhatikan penanaman nilai-nilai budi pekerti di lingkungan sekolah dan memberikan perhatian kepada anak.

Kepada para pejabat pembina kepegawaian, dia juga meminta agar memaklumi keterlambatan pegawainya masuk kantor karena mengantar anaknya bersekolah pada hari pertama. “Jangan mencatatkannya sebagai pelanggaran disiplin jam kerja,” kata Yuddy.
Pendidikan karakter

Di Surabaya, pemerintah kota sudah menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Hal itu dikemukakan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Bukan hanya di bidang pengetahuan intelegensi, pelajar juga diinstruksikan bersosialisasi dengan teman sebaya, terlebih dengan masyarakat sekitar. Salah satunya dengan program konselor sebaya dan kegiatan peka lingkungan.

Penasihat Dewan Pendidikan Jawa Timur Daniel M Rosyid menilai, menumbuhkan budi pekerti tidak hanya tugas sekolah, tetapi melibatkan keluarga dan masyarakat. Orangtua juga meneladankan budi pekerti. Bahkan, agar efektif, gerakan itu harus dilaksanakan multisektor.
Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS (DNE/SUT/ETA)

Oleh : LUKI AULIA
Memadukan Minat dan Peluang Kerja

Memilih perguruan tinggi yang sesuai minat dan kebutuhan tidak mudah; tak bisa sekadar eeny meeny miny moe. Apalagi, jika ingin kuliah di luar negeri yang memiliki banyak kampus dengan kualitas yang beda-beda tipis dan biayanya tak murah, seperti di Australia. Untuk itu, perlu perencanaan matang.

KOMPAS/LUKI AULIARuang belajar berbentuk ruang kecil (cubicle) ini dibuat untuk mendukung metode pembelajaran baru, "Learning 2014", di University of Technology Sydney, Australia. Semua ruang kuliah dan ruang belajar didesain untuk pembelajaran kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan industri.

KOMPAS/LUKI AULIARuang belajar berbentuk ruang kecil (cubicle) ini dibuat untuk mendukung metode pembelajaran baru, “Learning 2014”, di University of Technology Sydney, Australia. Semua ruang kuliah dan ruang belajar didesain untuk pembelajaran kolaboratif antarmahasiswa, mahasiswa dan dosen, serta mahasiswa dan industri.

 Bagi Stanley Aditya, mahasiswa asal Malang, Jawa Timur, yang saat ini kuliah semester dua di University of New South Wales, Australia, relatif mudah memperoleh perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhannya. Itu karena ia sudah menentukan terlebih dahulu program studi yang ingin didalami. Sejak masih duduk di bangku SMA, ia ingin belajar ilmu pangan (food science). “Selesai kuliah, saya ingin bikin perusahaan makanan sendiri di Malang. Saya pilih kuliah di sini karena lingkungannya nyaman. Kota metropolitan, tetapi masih enak,” cerita Stanley saat menemani Kompas mengelilingi kampusnya, pada awal musim dingin Juli 2015 lalu.

Vincent Santosa, mahasiswa Le Cordon Bleu Australia dari SMA Karangturi Semarang, Jawa Tengah, juga sudah sejak awal mengincar perguruan tinggi bidang kuliner dan industri makanan. Ia hendak melanjutkan jiwa bisnis orangtua dengan membuka restoran di Semarang. “Untuk buka restoran, saya tidak hanya harus tahu sisi bisnis, tetapi sampai urusan memasak di dapurnya,” ujarnya.

Tidak semua peserta didik bisa seperti Stanley dan Vincent. Masih lebih banyak anak berikut orangtuanya yang bingung memilih program studi dan perguruan tinggi yang cocok. Cocok dengan minat bakat anak, keinginan anak dan orangtua, serta tentunya cocok dengan kondisi keuangan keluarga.

Ini dikemukakan oleh hampir semua dari 11 unsur pimpinan SMA dan konselor pendidikan SMA yang mengunjungi tujuh perguruan tinggi di Sydney dan Melbourne, Australia, 27 Juni-4 Juli 2015. Ketujuh kampus itu adalah University of Technology Sydney (UTS), University of New South Wales (UNSW), Macquarie University, Le Cordon Bleu Australia, Swinburne University of Technology, Monash University, dan Deakin University. Kunjungan untuk mengenal pendidikan tinggi di Australia ini difasilitasi lembaga konsultan pendidikan luar negeri, SUN Education Group, yang memiliki kerja sama dengan 300 institusi di 12 negara, termasuk Australia.

Peran orangtua
Kembali ke soal pemilihan perguruan tinggi, Kepala Divisi Bidang Kesiswaan SMA Kristen Immanuel Pontianak, Kalimantan Barat, Gunawan, mengungkapkan, orangtua di Indonesia masih berperan besar dalam memilih kuliah untuk anaknya. Selama ini orangtua juga yang berkonsultasi ke sekolah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya agar bidang studi pilihannya cocok dengan karakter anak. Ini bisa diketahui melalui program bimbingan konseling atau konsultasi karier dan profesi di sekolah.

“Pertama-tama, orangtua selalu tanya tentang citra perguruan tingginya. Lalu, lingkungan belajarnya, seperti kondisi kota lokasi kampus dan akomodasi di kampus. Saya selalu merekomendasikan kampus yang punya ranking bagus,” kata Gunawan.

Hadi, Koordinator Secondary Department di Springfield International School Jakarta, menilai, mengingat biaya besar yang dikeluarkan, baik orangtua maupun murid pasti akan memilih kampus terbaik. Biasanya pertimbangan dan keinginan murid dan orangtuanya pragmatis sekali, seperti kondisi cuaca. “Peran orangtua yang sedikit mendominasi bukan masalah asalkan komunikasi yang baik bisa dijalin,” ujarnya.

Menurut Chief Operating Office SUN Education Group Harianto, sesungguhnya keinginan anak justru yang terpenting. Jika sesuai dengan keinginan anak, komitmen berkuliahnya bisa dijamin bagus. Untuk mengetahui keinginan anak, biasanya saat mereka datang berkonsultasi pertama kali akan ditanyakan tujuan kuliah dan profesi yang ingin dijalani. Biasanya anak-anak Indonesia memilih belajar bisnis, komunikasi, serta seni dan desain. “Lalu kita cari negara atau kampus yang cocok. Setelah ketemu, orangtua akan ditanya kesanggupan biaya pendidikannya seberapa,” ujarnya.

Fasilitas unggulan
Bagi Kepala SMA Sutomo 1 Medan Khoe Tjok Tjin, memilih perguruan tinggi memang bukan perkara mudah. Pasalnya, setiap perguruan tinggi, terutama di Australia, memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing dengan kualitas sarana prasarana dan capaian akademik yang hampir sama bagusnya.

Saat berkunjung ke tujuh kampus di Sydney dan Melbourne, para pengelola perguruan tinggi berkeliling dan blusukan masuk ke hampir semua fasilitas unggulan pendukung pembelajaran di setiap kampus. Ruang kuliah, ruang belajar berbagai ukuran dan bentuk sesuai dengan fungsi “Learning 2014” di UTS, laboratorium berteknologi mutakhir “Super Lab”, laboratorium ilmu forensik yang didesain seperti lokasi kejahatan dalam film serial CSI, serta perpustakaan bawah tanah di kampus UTS.

Selain itu, rombongan juga melongok ke laboratorium atau bengkel kerja perakitan kendaraan roda dua dan empat bertenaga surya dan listrik serta Factory of the Future di Swinburne University of Technology. Ini lokasi khusus untuk memfasilitasi pertemuan mahasiswa dengan pelaku industri dan menggarap proyek bersama. Ada juga kunjungan ke laboratorium pangan nutrisi dan studio animasi di Deakin University serta ke kamar asrama mahasiswa di kampus yang bersih dan nyaman dengan kisaran harga 140 dollar hingga 600 dollar Australia per minggu.

Meski memiliki keunggulan berbeda-beda, tujuh perguruan tinggi itu sama-sama menekankan pembelajaran kolaboratif melalui pengerjaan proyek bersama baik sesama mahasiswa, mahasiswa dan dosen, maupun antara mahasiswa dan kalangan industri. Jalinan kerja sama dengan industri ini yang akan membiasakan mahasiswa menangani persoalan riil. Dengan demikian, mereka tidak canggung masuk ke dunia kerja saat lulus nanti.

Ambil contoh Macquarie University, perguruan tinggi yang unggul pada bidang bisnis, khususnya Ilmu Aktuaria (ilmu yang mengaplikasikan metode matematika dan statistik untuk menaksir risiko dalam industri asuransi dan keuangan). Kampus ini setiap dua tahun sekali menyusun kurikulum bidang bisnis bersama dengan kalangan industri. Secara berkala, kalangan industri datang ke kampus dengan membawa sejumlah persoalan riil yang harus dicarikan solusinya oleh perguruan tinggi.

“Ini tidak hanya dilakukan di bidang bisnis, tetapi di semua program studi di sini,” kata Senior Country Manager International (Pacific) Macquarie University Natalie Lastary Dewi Lee yang membawa kami berkeliling kampus seluas 126 hektar itu.

Manager of Regional Relations Swinburne University of Technology Struan Robertson menekankan pentingnya membekali mahasiswa dengan hard skill dan soft skill serta bekerja sama dengan industri sejak awal masuk kuliah, seperti halnya pembelajaran di pendidikan vokasi atau politeknik. “Belajar dan bekerja, ini yang kami lakukan terus-menerus agar mahasiswa mampu bertahan pada era ekonomi global,” ujarnya.

Menurut Gunawan, bisnis merupakan bidang studi yang paling cocok bagi anak didiknya yang mayoritas orangtuanya berkecimpung di dunia bisnis. Pendapat serupa disampaikan Kepala SMA Karangturi Semarang Susena. Selama ini anak didiknya memilih kuliah mengambil bidang studi bisnis dan teknik di Australia. Alasannya, perguruan tinggi di negeri itu menghasilkan sumber daya manusia yang siap terjun ke dunia kerja. “Prospek kerja setelah lulus sering ditanyakan murid dan orangtuanya,” kata Susena.

Ada lagi nilai tambah bersekolah di Australia, yaitu adanya peraturan pemerintah setempat yang memperbolehkan mahasiswa internasional dengan visa pelajar untuk bekerja hingga 40 jam setiap dua minggu selama musim akademik universitas dan tidak terbatas selama musim liburan universitas. Artinya, di sela-sela belajar, mahasiswa juga boleh menyambi bekerja.Beritapendidikan.net/JAKARTA, KOMPAS

Baca Juga

This entry was posted in Berita on by .

About Kresna Bina Insan Prima

LEMBAGA DIKLAT DAN PENELITIAN KRESNA BINA INSAN PRIMA Kresna Bip merupakan salah satu Penerbit di Surabaya dibawah naungan Lembaga Diklat dan Penelitian (LDP) Kresna Bina Insan Prima (KBIP). Kresna Bip mempublikasikan hasil penelitian tenaga pendidik (Guru dan Dosen) menjadi buku ber ISBN (4 angka kredit) dan artikel Jurnal ilmiah (2 angka kredit). LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Pendidikan (JMP) ISSN : 2407-8581. Terbit tiap 3 (tiga) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Disamping itu LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Guru (JMG), ISSN : 2443-2806. Terbit tiap 2 (dua) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Pebruari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember. Pimpinan Umum : Dr. H. Hidayat, MM. Wakil Pimpinan Umum : Drs. Khamim Tohari Pimpinan Redaksi : Hanan Titis H, S. Sos. Redaktur Pelaksana : Khoirul, S. Sos. Redaktur : Muhammad Ainul Firdaus, ST. Staf Redaktur : Muhammad Sueb Junaidi, S. Kom. Bambang Sumantri, SE. Agustin Azizah Mahardika, A. Md. Drs. Khamim Tohari. Hanan Titis H, S. Sos. Khoirul, S. Sos. Muhammad Ainul Firdaus, ST. Sekretariat : Jl. Klakahrejo no. 77 Benowo Surabaya 60198 Telp./Fax : (+6231) 7421067 Hp : 085330834377;085748655577 Email : ldp_kbip@yahoo.co.id Facebook : Kresna Bip (http://facebook.com/kresnaBIP) Website : www.beritapendidikan.net Pin BBM : 57D89C6

1 Reply

One thought on “Hari Pertama Sekolah

  1. Marianela

    tulisan yang menginspirasi dan saya sangat mengaguminya apa yang telah anda sampaikan, semoga anda terus memberikan ide ide yang baru buat kita semua dan salam sukses selalu buat anda!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *