MOS : Dipandang Penting jika Mendidik, Tidak Penting Jika Ada Pemeloncuan

mopd-55b84c3a21afbda2056d678aOleh Cak Oirul

Beritapendidikan.net – Tahun ajaran baru telah tiba. Seperti tahun-tahun lalu, MOS (Masa Orientasi Siswa) akan diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan ini memang menyenangkan bagi sebagian siswa. Sayangnya, terkadang ada saja tindak kekerasan yang diselipkan dalam MOS. Tidak mengherankan bila orang tua siswa was-was terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anaknya. Perlukah MOS diadakan? Jika perlu, apa saja yang harus diperhatikan pihak sekolah dalam menyelenggarakannya…?

Terkait hal itu, hasil culikan Beritapendidikan.net di media online atau facebook dan Twiter banyak yang memberikan pandangan terhadap MOS itu masih terkesan ” Pemeluncuan ” Misalnya seperti komentar Pendapat dibawa ini.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Pagi ini saat berangkat ke kantor, selama perjalanan saya memperhatikan anak-anak yang berangkat ke sekolah. Padahal hari-hari sebelumnya saya sama sekali tidak tertarik melakukannya. Ketertarikan ini akibat sehari sebelumnya saya membaca informasi terkait adanya Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan Praktek Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah. Bahkan Anies Baswedan sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan memecat Kepala Sekolah yang membiarkan terjadinya perpeloncoan.

Beberapa anak sekolah yang berjalan kaki, naik angkot dan naik motor saya identifikasi sebagai siswa baru baik SMP ataupun SMA. Mereka membawa atribut-atribut MOS khas perpeloncoan, seperti topi warna-warni dan aksesoris yang tidak biasa dipakai setiap hari ke sekolah. Saya perhatikan, ada sesuatu yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Bila tahun-tahun sebelumnya atribut dan aksesoris yang aneh-aneh dalam Masa Orientasi Sekolah (MOS) biasanya dipakai para siswa baru sejak dari rumah, kini mereka tidak memakainya. Atribut dan aksesoris tersebut dimasukkan dalam kantong plastik besar. Namun karena kantongnya berwarna putih atau transparan, dapat terlihat jelas barang-barang yang ada di dalamnya adalah atribut dan aksesoris khas perpeloncoan dalam MOS.

Melihat hal tersebut saya senyum-senyum sendiri  Karena muncul dugaan dalam pikiran. Jangan-jangan hal tersebut dilakukan agar tidak terlalu vulgar dilihat oleh masyarakat di luar sekolah. Namun setelah sampai di sekolah, para siswa baru diwajibkan memakai atribut dan aksesoris yang memalukan tersebut. Bisa jadi hal ini karena panitia MOS dan juga Pihak Sekolah tidak ingin perpeloncoan yang dilakukannya diketahui oleh masyarakat, difoto dan disebarkan ke media khususnya media sosial, sehingga ketahuan oleh pihak berwenang khususnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Bila benar seperti dugaan saya, maka hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Bukannya menghentikan praktek perpeloncoan di sekolah, malah tetap melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Setelah di dalam sekolah, perpeloncoan tetap ada karena menganggap relatif aman dan tidak ada masyarakat luar yang memperhatikannya.

Sepertinya adanya surat edaran dan ancaman pemecatan dari sang Menteri belum mengkhawatirkan semua Kepala Sekolah. Di sebuah televisi swasta seorang Kepala Sekolah yang diwawancara mengenai MOS di sekolahnya yang masih melakukan praktek perpeloncoan, menganggap hal tersebut masih wajar. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa masih ada oknum Kepala Sekolah ataupun Guru yang tidak sensitif pada implementasi budi pekerti di sekolahnya. Seharusnya hubungan murid baru dengan murid lama (senior) adalah sederajat, sehingga tidak ada hak sama sekali murid senior memerintahkan berbagai hal aneh kepada murid baru yang juga akan menyusahkan orang tua murid baru.

Mungkin sudah tradisi dan budaya di Indonesia, peraturan tidak harus dilaksanakan dan ditaati. Terutama bila tidak ada pihak berwenang yang mengawasi secara langsung. Sepertinya mereka yang masih melaksanakan perpeloncoan dengan sembunyi-sembunyi adalah orang-orang yang cerdas. Mereka tahu bahwa Menteri Anies Baswedan tidak mungkin mengecek sekolah satu persatu. Apalagi larangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut belum tentu ditindaklanjuti oleh setiap Kepala Daerah dan Dinas Pendidikan setempat.
Bila sudah begini, para murid baru yang dipelonco harus berani menolak perpeloncoan. Orang tua pun harus berani melindungi anak-anaknya. Para murid baru dan orang tuanya harus melaksanakan himbauan dari Anies Baswedan. “Saatnya berhenti diam dan mendiamkan. Jika terjadi pelanggaran segera laporkan !”  Hal tersebut senada apa yang dikatakan oleh

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)   Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)
Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Selama ini kegiatan MOS seringkali diisi dengan kegiatan yang bermuatan negatif, seperti pelecehan, perpeloncoan, dan kekerasan. Murid baru diharuskan menggunakan kostum yang aneh lengkap dengan aksesorisnya yang tidak biasa dan ganjil tidak seperti murid sekolah biasanya atau yang dipakai murid senior. Hal ini masuk dalam kategori pelecehan dan mempermalukan murid baru.

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Mendikbud Anies Baswedan mengharapkan pelaksanaan MOS dilakukan sesuai dengan substansinya. Atribut yang tidak wajar harus dihapuskan, karena dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa. “Pakai pakaian normal saja. Anak-anak datang ke sekolah itu bukan untuk dipermalukan. Mereka datang untuk membangun kepercayaan diri, bukan untuk dihancurkan. Jangan izinkan anak-anak (siswa) senior‎ menghancurkan kepercayaan diri juniornya,” Tegas Anies Baswedan (sumber disini).

Sementara menurut Handrini ardiyanti  MOS, merupakan ” Memori Indah Sarat Pembelajaran Yang Tak Terlupakan “

MOS atau masa orientasi sekolah banyak dikritik belakangan ini. Tapi bagi saya pribadi, MOS merupakan sepengal memori indah yang tak terlupakan. Bukan karena saya mendapatkan pasangan hidup dari MOS melainkan karena saya mendapatkan pelajaran hidup saat MOS.

Kekerasan? Yang saya ingat justru bentakan-bentakan senior itu mengajarkan saya bahwa dalam kehidupan tidak selalu mulus dan lemah lembut seperti kelembutan almarhum papi yang tidak pernah membentak saya. Bagi saya pribadi pada akhirnya saya melihat ketika senior membentak tersebut mengajarkan agar saya siap ketika mendapat perilaku keras tak terduga yang bisa muncul kapan saja.

Pelajaran lainnya adalah saya belajar mencintai pertama kali tentang hakikat “merah putih” dalam aliran darah setiap warga negara Indonesia. Karena mayoritas fungsionaris OSIS waktu saya mengalami MOS adalah anak pramuka dan paskibra. Penanaman cinta tanah air dan penghormatan kepada lambang-lambang kebangsaan pun ditanamkan kala itu.

Pelajaran yang sangat bermanfaat dari MOS adalah mengenal dan mencintai hal-hal yang berasal dari daerah kita sendiri. Waktu MOS SMA dulu kami diwajibkan mencari roti ganjel rel. Meski saya lahir dan dibesarkan di Semarang saya tak mengenal roti ganjel rel sebagai makanan khas kota Semarang.

Pelajaran yang sangat bermanfaat adalah pembelajaran tentang mempersiapkan masa depan yang ingin kita raih. Memetik pelajaran saat MOS yang saya alami yang kemudian ditransfer kembali ke adik-adik siswa-siswi baru saat kita menjadi panitia MOS berikutnya di SMA Negeri 1 Semarang antara lain tentang memperkenalkan konsep diri peralihan dari SMP ke SMA harus siap-siap merancang masa depan mau jadi apa, kuliah di jurusan apa, mau mempermudah mengapai cita2 dg prestasi misalnya ikut ekstra kurikuler apa yang bisa memaksimalkan potensi diri dll.

Selain itu pada saat MOS atau Ospek itulah para fungsionaris OSIS, pengurus Majalah dan Ekstra Kurikuler mendapatkan kesempatan melihat bibit-bibit baru sekaligus melihat potensi kepemimpinan baru yang ada pada siswa-siswi baru untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan OSIS ataupun kepengurusan ekstra kurikuler lainnya.

Saat MOS salah satu panitia adalah Mbak Yulia. Pada saat MOS penjelasan tentang salah satu hal yang menarik adalah tentang Majalah Sekolah SMA Negeri 1 Semarang, Expressi. Banyak hal yang dijelaskan saat itu membuat saya tertarik ikut bergabung di majalah Expressi hingga akhirnya saya dipercaya melanjutkan tongkat estafet majalah Expressi sebagai Pemimpin Umum bersama teman-teman dengan tantangan 2 tahun lebih majalah Expressi tidak terbit karena kesulitan dana dan sumbangan artikel dari siswa/i. Alhamdulillah salah satu edisi khusus waktu itu tentang Ospek (meski secara kualitas cetakan jauh dari memuaskan karena kekurangan dana) Namun dari penanaman pembelajaran dari kakak-kakak Madya SMA banyak yang masih saya ingat Mbak Maya, Mas Januar, Mas Heri Frianto, Mas Imam Fauzi dan lainnya mengajarkan hakikat kepemimpinan dan perlunya keberanian dalam melakukan terobosan demi kebaikan salah satunya kemudian bersama salah seorang pengurus majalah Expressi yang memang berposisi sebagai Sie Dana/Iklan – I’a Disyariza Firdian – kami pun memberanikan diri menerima pemasangan iklan dari Telkom dan Lembaga Bimbingan Neutron sehingga dengan dana yang mencukupi tampilan dan kualitas cetakan majalah Expressi bisa jauh lebih berbobot.

Itu hanyalah sepenggal dari banyak pembelajaran yang saya dapatkan di MOS. Saat MOS di Perguruan Tinggi pun demikian halnya. Mayoritas pengurus Senat Mahasiswa yang melakukan MOS adalah pengurus dan anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) seperti Mas Budi Setiyono (yang Alhamdulillah saat ini telah dipercaya sebagai Pembantu Rektor III Universitas Dipnegoro) dan senior lainnya. Saya pun tertarik ikut masuk didalamnya hingga terakhir menjadi Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) PPTK HMI Cabang Semarang. Tak dapat saya pungkiri, HMI, Badan Amalan Islam (BAI) adalah sekian banyak yang turut membentuk dan menempa kesiapan saya untuk mewujudkan impian dan cita-cita saya. Meski tidaklah sehebat yang lainnya, tapi minimal bagi saya sendiri, mampu masuk dan menerobos ujian CPNS di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI tanpa ada satupun koneksi adalah suatu hal yang muskil bagi anak daerah seperti saya jika saya tanpa diwarnai oleh berbagai pembelajaran yang saya dapatkan saat MOS. Terakhir terima kasih untuk kakak-kakak senior saya yang telah memberikan pembelajaran yang berharga yang sangat bermanfaat. MOS sekali lagi bagi saya adalah memori indah sarat pembelajaran yang tak terlupakan. Pembelajaran dari kakak-kakak senior bagi saya saat itu lebih mudah tertanam daripada pembelajaran yang saya dapatkan dari Bapak/Ibu Guru karena bisa jadi jeda usia dan pola pemikiran yang tidak jauh berbeda.

Baca Juga

This entry was posted in Opini, Uncategorized on by .

About Kresna Bina Insan Prima

LEMBAGA DIKLAT DAN PENELITIAN KRESNA BINA INSAN PRIMA Kresna Bip merupakan salah satu Penerbit di Surabaya dibawah naungan Lembaga Diklat dan Penelitian (LDP) Kresna Bina Insan Prima (KBIP). Kresna Bip mempublikasikan hasil penelitian tenaga pendidik (Guru dan Dosen) menjadi buku ber ISBN (4 angka kredit) dan artikel Jurnal ilmiah (2 angka kredit). LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Pendidikan (JMP) ISSN : 2407-8581. Terbit tiap 3 (tiga) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Disamping itu LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Guru (JMG), ISSN : 2443-2806. Terbit tiap 2 (dua) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Pebruari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember. Pimpinan Umum : Dr. H. Hidayat, MM. Wakil Pimpinan Umum : Drs. Khamim Tohari Pimpinan Redaksi : Hanan Titis H, S. Sos. Redaktur Pelaksana : Khoirul, S. Sos. Redaktur : Muhammad Ainul Firdaus, ST. Staf Redaktur : Muhammad Sueb Junaidi, S. Kom. Bambang Sumantri, SE. Agustin Azizah Mahardika, A. Md. Drs. Khamim Tohari. Hanan Titis H, S. Sos. Khoirul, S. Sos. Muhammad Ainul Firdaus, ST. Sekretariat : Jl. Klakahrejo no. 77 Benowo Surabaya 60198 Telp./Fax : (+6231) 7421067 Hp : 085330834377;085748655577 Email : ldp_kbip@yahoo.co.id Facebook : Kresna Bip (http://facebook.com/kresnaBIP) Website : www.beritapendidikan.net Pin BBM : 57D89C6

Leave reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *