Monthly Archives: February 2016

DR. H. Hidayat, MM. menjadi narasumber Talkshow OlahRaga "Persiapan Negeri Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Dalam Pesepakbolaan di Indonesia"

DR. H. Hidayat, MM. menjadi narasumber Talkshow OlahRaga “Persiapan Negeri Menuju Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Dalam Pesepakbolaan di Indonesia”

IMG_20151217_173515

Pelatihan Penulisan Penelitian dan Artikel  Ilmiah Bagi Guru di Kabupaten Bojonegoro

Pelatihan Penulisan Penelitian dan Artikel Ilmiah Bagi Guru di Kabupaten Bojonegoro

IMG_20160211_133315

workshop

bimbingan ptk

 

Kepuasan Pelanggan : Ditinjau Dari Kualitas Layanan Hotel

Judul Buku : Kepuasan Pelanggan : Ditinjau Dari Kualitas Layanan Hotel
Penulis : Haris Prasetyawan
ISBN : 978-602-0816 – 80 – 7
Cetakan : November 2015
Tebal Buku : 108 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

Penulis mengungkapkan pada awal buku bahwa usaha pemasaran usaha perhotelan diperlukan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan merupakan tingkat kesesuaian antara produk dan atau jasa pelayanan yang diinginkan dengan kenyataan yang diterima dengan tolak ukur keunggulan daya saing perusahaan. Oleh karena itu, rumusan masalah yang diajukan penulis dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh kualitas pelayanan secara parsial dan simultan terhadap kepuasan pelanggan pada hotel Bromo View di kota Probolinggo.
Hasilnya, kualitas layanan berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan pelanggan. Adapun bukti fisik mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penulis menyarankan pihak hotel untuk memperhatikan kualitas pelayanan, terutama dalam hal daya tanggap karyawan terhadap tamu hotel. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada karyawan. Selain itu, dapat dilakukan dengan memberikan himbauan tertulis maupun on the job training bagi karyawan.

Sekolah yang Tak Sekadar Memburu Nilai jazah

0913025SD-Bongan-3780x390SAMARINDA, KOMPAS.com – Terobosan yang dilakukan SD Negeri Bongan, Kutai Barat, Kalimantan Timur, mungkin bisa dilakukan sekolah-sekolah lain.
Pengelola sekolah menyadari bahwa nilai rapor dan ijazah kelak tidak cukup membangun para siswanya menjadi pribadi yang terampil dan berguna bagi masyarakat.
Oleh karena itu, pelajaran di sekolah itu mayoritas diisi dengan kegiatan praktik.
Salah satu pengajar di SDN Bongan, Sari Eka Pusvita mengatakan, misi mereka adalah menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif, membuat murid bergembira, sekaligus berbobot.
Maka, diterapkan cara pembelajaran partisipatif.
“Kalau buku mereka cuma membaca. Dengan ini kan senangnya dapat, pengalamannya dapat. Agar mereka ingat terus yang diajarkan,” ujar Sari, saat ditemui di SD Negeri Bongan, Kalimantan Timur, Rabu (24/2/2016).
Ia mencontohkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Alih-alih menghafal lamanya waktu metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu, mereka melakukan praktik sendiri.
Setiap murid mencari ulat, mereka mencatat setiap hari perkembangannya hingga menjadi kupu-kupu. Begitu pula saat mempelajari soal tumbuh-tumbuhan.
Sekolah itu memiliki kebun yang cukup luas di sisi kiri bangunan. Di sana lah mereka menciptakan sendiri kebun mereka.
Ada yang menanam cabai, kunyit, jagung, mangga, hingga durian.
Tak hanya melalui pelajaran lingkungan hidup, para murid belajar langsung kepada petani cara mereka merawat tanaman.
“Mereka diajak cara menanam tomat ke petani langsung, bukan lagi bapak atau ibu gurunya. Kalau gurunya bisa teori saja tapi praktiknya belum tentu bisa,” kata Sari.
Bahkan, pupuk kompos dan pestisida untuk tanaman dibuat sendiri oleh para siswa, di bawah bimbingan guru Lingkungan Hidup.
Mereka juga turun sendiri ke pasar untuk mengetahui harga sembako dan mewawancarai pedagang di sana, serta menghitung langsung pengeluaran orangtua saat berbelanja.
Untuk pelajaran kewarganegaraan, para siswa diajarkan bagaimana pemungutan suara pada pemilihan umum.
Tak hanya sekadar teori, guru mengajak siswanya melakukan praktik pemilu di lapangan sekolah. Mulai dari pendaftaran, mencoblos, hingga penghitungan suara.
Dengan demikian, diharapkan para siswa mengetahui dengan jelas bagaimana cara orang dewasa memilih pemimpinnya.
Banyaknya praktik di luar kelas membuat siswa tidak jemu dengan aktivitas yang dijalaninya di sekolah.
Hasil cara didik yang diterapkan SD Negeri Bongan pun cukup memuaskan. Hampir setiap tahunnya, sekolah itu masuk lima besar ujian nasional tingkat Kabupaten Kutai Barat.
Ada pula yang juara 1 Oimpiade Matematika se-Provinsi Kalimantan Timur.

Kepala SD Negeri 010 Bongan, Yusuf, mengatakan, sebagai pendidik, ia berharap para anak didiknya kelak bisa hidup mandiri dan menghasilkan uang sendiri.
Salah satu bekalnya yakni dengan berkebun di kebun sekolah.
“Kita mau jiwa wiraswastanya ada. Kita harap ini bisa menginspirasi sekolah lain,” kata Yusuf.
Sekolah ini mulai menerapkan konsep pendidikan berkelanjutan sejak mendapat bantuan dari World Wide Fund (WWF) for Nature pada 2009.
Mereka mendapat bantuan berupa pendidikan guru dan pendanaan lainnya.
“Tanpa WWF kita berat. Karena kemarin prestasi akademis luar biasa, tapi enggak bisa ngangkat ke permukaan,” kata Yusuf.

Sumber: Kompas.com

Kinerja Guru : Ditinjau Dari Diklat, Motivasi dan Promosi Jabatan

Judul Buku : Kinerja Guru : Ditinjau Dari Diklat, Motivasi dan Promosi Jabatan
Penulis : I Ketut Martana
ISBN : 978-602-0816 – 17- 3
Cetakan : April 2015
Tebal Buku : 87 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

Bagi penulis, guru dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru juga harus diberi kesempatan untuk mempelajari dengan diberikan pelatihan atau diklat-diklat agar tidak terkesan konvensional. Pertanyaannya kemudian bagaimana pengaruh diklat, motivasi serta promosi jabatan terhadap kinerja guru terutama pada guru MTs As Adiyah Tolai Kabupaten Parigi Moutong.
Dengan metode eksplanatori, penulis menunjukkan bahwa secara simultan dan parsial, diklat, motivasi dan promosi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru MTS As Adiyah Tolai Kabupaten Parigi Moutong dengan kontribusi variabel bebas sebesar 59.8% terhadap kinerja guru. Saran yang ingin disampaikan penulis bagi peneliti mendatang adalah perlu menambah variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap kinerja guru.

Gubernur Jatim Evaluasi Keberadaan SMK Mini

brt820333628Surabaya (beritajatim.com)-Gubernur Jatim Soekarwo akan mengevaluasi keberadaan SMK Mini di Jatim. Ini karena ada beberapa SMK Mini yang tidak memenuhi syarat, sehingga perlu ditarik lagi. ‬
‪”Dari 270 SMK Mini yang ada di Jatim, 30 SMK diantaranya tidak bisa memenuhi syarat sehingga akan ditarik provinsi,” ujar Pakde Karwo di gedung negara Grahadi Surabaya, Jumat (26/2/2016).
‪Menurut Pakde, kebanyakan SMK Mini yang tak memenuhi syarat itu karena tempat yang sedianya untuk peningkatan SDM, ternyata hanya untuk tambahan kualitas SMK yang sudah ada atau bukan di luar SMK. Artinya, keberadaan SMK Mini hanya untuk menambahi syarat SMK yang sudah ada.
Pemprov menyadari betul bahwa tidak semua SMK Mini yang didirikan berstandarisasi Jerman. Dari 100 persen, baru 60 persen yang berstandarisasi Jerman. Sedangkan 40 persen sisanya cenderung ke enterpreneurship.‬
‪”Program ini harus berkelanjutan, makanya kebijakannya akan diubah. SMK mini bukan hanya menciptakan tenaga kerja formal tapi juga menciptakan enterpreneurship. Kalau komposisinya 60:40 itu tak masalah atau tidak bias, sebab pendirian SMK mini memang diharapkan mampu menjadi embrio pelaku UMKM,” jelasnya.
Bahkan mantan Sekdaprov Jatim itu akan mendorong perbankan ikut masuk pembiayaan pelaku UMKM lulusan SMK mini. “Kalau lulusan SMK mini sudah bisa mengolah bahan baku menjadi barang produksi maka pemerintah akan membantu packaging dan permodalan perbankan sehingga mereka bisa menjadi enterpreneur UMKM beneran,” imbuhnya.
‪Diakui Pakde Karwo, keberadaan SMK mini mayoritas berada di daerah-daerah yang menjadi kantong kemiskinan, seperti Sampang, Pamekasan, Probolinggo, Bangkalan maupun Situbondo. Kebetulan kultur masyarakatnya religius sehingga di sana banyak dijumpai pondok pesantren.‬
‪”SMK mini kebanyakan gandeng dengan pondok pesantren. Karena pemerintah juga berkepentingan meningkatkan skill (ketrampilan) dari para santri agar pasca mondok mereka tidak kesulitan mencari pekerjaan,” pungkasnya.

sumber : beritajatim.com