Monthly Archives: February 2016

Mengembangkan Kemampuan Fisik/ Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggambar Diatas Air

Judul Buku : Mengembangkan Kemampuan Fisik/ Motorik Halus Melalui Kegiatan Menggambar Diatas Air
Penulis : Sri Purwarini
ISBN : 978-602-0816 – 36 – 4
Cetakan : Mei 2015
Tebal Buku : 87 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

Penulis buku ini merupakan seorang kepala sekolah di salah satu taman kanak-kanak di kota Kediri. Baginya, masa tumbuh kembang anak sangat penting untuk diperhatikan baik oleh guru maupun kepala sekolah. Salah satu kegiatan di sekolah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kemampuan fisik/ motorik halus anak adalah dengan menggambar diatas air. Buku ini merupakan gambaran hasil penelitian penulis berbentuk penelitian tindakan kelas kolaboratif yang dilakukan dengan observasi.
Dengan empat siklus / tahapan yakni penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan perefleksian yang dilakukan penulis pada anak didiknya di kelompok B taman kanak- kanak D.W. Lirboyo Kediri tahun pelajaran 2014/ 2015 sebanyak 24 anak. Hasilnya, melalui kegiatan menggambar di atas air, kemampuan motorik halus anak akan semakin berkembang dengan baik. Ini dapat dilihat dari hasil siklus pertama dan kedua. Saran yang disampaikan penulis adalah diperlukan penggunaan bahasa yang mudah dimengerti anak.

Mahasiswa UK Petra Kembangkan Sistem Komputer Membaca Aksara Jawa

Surabaya (beritajatim.com) – Hans Christian Indrayana (23) Mahasiswa tingkat akhir program studi Arsitektur, Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya kembangkan jaringan komputer untuk dapat menafsirkan dan membaca aksara Jawa.

“Perkembangan teknologi begitu pesat tapi untuk digabungkan dengan salah satu kultur atau budaya seperti tulisan aksara jawa, itu masih menjadi satu kendala dan terbatas pada tenaga ahli, dari sini sayamencoba kembangkan itu,”ujar Hans kepada beritajatim.com saat ditemui di UK Petra Surabaya, Jumat (26/2/2016).

Ia mengungkapkan, dalam membuat model aksara jawa yang menyerupai sistem syaraf biologis yang disederhanakan ini bertujuan sebagai suatu alternatif sistem komputasi, yang dalam pengerjaannya menggunakan Jaringan syaraf tiruan (JST) Feedforward Backpropagation dan Elman Type.

“Jadi bisa lewat dokumen yang difoto atau di scan, selama jelas kisaran jenis huruf times new roman ukuran 23, maka huruf jawa ini bisa terbaca,” terangnya.

Pemuda asal Semarang ini, telah berhasil membacakan 10 dokumen beraksara jawa di dalam komputernya. Seperti beragam artikel dari majalah beraksara jawa hingga buku Rijksblad Van Jogjakarta tahun 1936.

“Data ekstrasi ini sudah saya lakukan pada penelitian sebelumnya. Prosesnya dimulai dengan mengambil huruf – huruf Jawa dalam suatu dokumen Jawa untuk kemudian mengeskstrasi fitur dengan metode yang ada kemudian dilatih pada komputer agar bisa membacanya”, ungkapnya.

Untuk membuat bahasa jawa bisa terbaca, pria peraih IPK 3,61 ini juga harus bisa memilah kembali data dari penelitian sebelumnya. karena masih ditemui sejumlah segmentasi yang sulit terbaca oleh komputer.

“Ada banyak bahasa jawa, data itu saya pelajari dan saya beri nama sendiri seperti huruf jawa ‘ga’ yng belum ada di penelitian sebelumnya. Saya uji dalam bentuk beragam tulisan tangan, agar terstandar dan bisa dibaca,” terangnya.

Ia berharap, dari pengembangan sistem ini kedepannya dapat dipalikasikan pada handphone, dan untuk saat ini sistemnya masih dapat mengenal atau membaca data beraksara jawa 80 persen.

Diketahui pada wisuda UK Petra yang ke-69 pada tahun ini, dari 589 mahasiswa UK Petra telah menghasilkan 8 wisudawan cumlaude program pasca sarjana dan 95 wisudawan cumlaude program sarjana.

sumber : beritajatim.com

cover I KETUT MARTANA

Judul Buku : Kinerja Guru : Ditinjau Dari Diklat, Motivasi dan Promosi Jabatan
Penulis : I Ketut Martana
ISBN : 978-602-0816–17-3
Cetakan : April 2015
Tebal Buku : 87 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

Bagi penulis, guru dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru juga harus diberi kesempatan untuk mempelajari dengan diberikan pelatihan atau diklat-diklat agar tidak terkesan konvensional. Pertanyaannya kemudian bagaimana pengaruh diklat, motivasi serta promosi jabatan terhadap kinerja guru terutama pada guru MTs As Adiyah Tolai Kabupaten Parigi Moutong.

Dengan metode eksplanatori, penulis menunjukkan bahwa secara simultan dan parsial, diklat, motivasi dan promosi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru MTS As Adiyah Tolai Kabupaten Parigi Moutong dengan kontribusi variabel bebas sebesar 59.8% terhadap kinerja guru. Saran yang ingin disampaikan penulis bagi peneliti mendatang adalah perlu menambah variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap kinerja guru.

Faktanya… Pelajar Indonesia Keteter dalam “Academic Writing”!

KOMPAS.com – Masih segar dalam ingatan sewaktu orang tua memberi kado istimewa di hari ulang tahun: belanja buku cerita sepuasnya di salah satu toko buku ternama! Euforia yang sampai kini tak terlupakan! Anda pernah mengalaminya ?
Buku memang punya daya magis tersendiri. Bukan saja dapat membentuk cara berpikir (kognitif), tapi juga bisa membentuk kepekaan, imajinasi dan rasa (afektif).
Lebih dari itu, membaca secara bawah sadar (subconscious) juga ikut merancang struktur cara berpikir. Paling tidak, kita tahu bahwa dalam setiap hal selalu ada opening, main content, dan ending.
Orang yang gemar membaca biasanya juga lebih fokus dalam berpikir. Orang yang suka membaca biasanya akan lebih luwes dalam bertutur secara tertulis. Ia juga memiliki “stok” kosa kata yang tak terbatas pada saat menulis.

Budaya baca
Sayangnya, budaya membaca di Indonesia masih kurang. Itu kalau tak mau dikatakan memprihatinkan.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca.
Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, yang membaca 2-3 buku per tahun, kita pun masih sangat ketinggalan (Kompas: Membaca Sebagai Jendela untuk Melihat Dunia).

Budaya tutur
Konon, budaya kita lebih didominasi oleh budaya tutur (verbal) dan mendengar. Coba tanyakan kepada para para remaja dan ‘ABG’, berapa banyak dari uang saku mereka yang mereka sisihkan untuk membeli buku?
Boleh jadi, kita pasti sudah tahu jawabannya. Membeli pulsa untuk telepon selular lebih diprioritaskan dalam pengeluaran mereka.
Perhatikan juga perilaku orang-orang yang sedang menunggu bis di halte sampai para kaum eksekutif di business lounge sambil menunggu penerbangan. Kebanyakan lebih senang ngobrol dengan teman atau serius memainkan perangkat elektroniknya.
Tak heran, statistik menunjukkan kalau orang Indonesia tetap “juara” untuk urusan bertutur, bahkan di era digital seperti sekarang ini. Jakarta menempati peringkat pertama untuk jumlah Tweet per hari mengalahkan kota-kota besar seperti Tokyo dan New York. Adapun peringkat keenamnya adalah Bandung. Nah?
Sebaliknya, di negara-negara yang menjadikan budaya membaca lebih mendapat tempat terlihat sangat berbeda. Seperti di Belanda misalnya, ada gerbong kereta api yang disebut “gerbong tenang”. Di sinilah setiap orang di dalamnya tidak diperkenankan untuk berbicara keras, atau berbincang karena gerbong itu memang dikhususkan untuk orang yang mau mengerjakan tugas atau membaca.

Membaca untuk menulis
Ada empat keterampilan berbahasa yang selama ini diperkenalkan dalam ilmu pengetahuan bahasa. Keempat keterampilan itu meliputi keahlian mendengar, bercakap, membaca dan menulis. Keempat-empatnya sangat berkaitan antara satu dengan lainnya.
Sejatinya, jika seseorang memiliki kemampuan mendengar yang baik, biasanya keterampilan bertuturnya juga baik. Lalu, jika seseorang punya tingkat keterampilan membaca yang juga baik, biasanya ia pun mampu menulis secara baik. Dengan kata lain, jangan berharap seseorang dapat menulis dengan baik jika tidak gemar membaca!
Berdasarkan hasil observasi, nilai rata-rata tes kemampuan bahasa Inggris orang Indonesia yang paling baik biasanya pada aspek listening dan speaking. Umumnya nilai mereka “jeblok” pada keahlian writing. Padahal, banyak perguruan tinggi di luar negeri justru secara spesifik mensyaratkan nilai writing lebih tinggi dibandingkan speaking, karena tantangan utama bersekolah di perguruan tinggi di luar negeri berkelas dunia adalah kemampuan menulis akademis (academic writing).
Ya, itu tak bisa dimungkiri. Sebabnya, justru di situlah perkara writing sampai saat ini masih menjadi handicapped utama para pelajar Indonesia ketika menuntut ilmu di luar negeri. Mereka keteteran dalam hal academic writing!
Penulis adalah pemerhati pendidikan dan bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta.

Sumber : KOMPAS.com

Komite Sekolah Bukan Sekadar Tukang Stempel

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jombang (beritajatim.com)-Komite sekolah SD/MI yang ada di Kecamatan Bareng dan Diwek, Kabupaten Jombang mengikuti pelatihan yang digelar Usaid Prioritas di SMA Negeri 3 Jombang, Rabu (17/2/2016). Pelatihan dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas komite sekolah dalam memajukan proses pendidikan. Sehingga komite sekolah tidak sekadar menjadi tukang stempel.
Selain komite, pelatihan selama dua hari itu juga diikuti kepala sekolah dan guru. “Masing-masing sekolah sebanyak dua guru. Kemudian ditambah dengan komite dan kepala sekolah. Jadi total peserta dari dua kecamatan, mencapai 40 orang,” ujar Distrik Kordinator Usaid Prioritas, Saifullah, ketika ditemui di sela acara.
Saifullah menjelaskan, komite sekolah mempunyai peranan penting dalam menyusun RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah). Oleh karena itu, komite sekolah dalam menyusun anggaran harus benar-benar pro pembelajaran. Parameternya, anggaran sebanyak 40 persen harus dibelanjakan untuk penunjang pendidikan. Semisal, digunakan untuk pembelian buku-buku dan alat peraga.
“Hal-hal seperti itulah yang kita kupas dalam pelatihan ini. Contohnya, ada materi tentang penyusunan anggaran sekolah berbasis pembelajaran,” ungkap Saifullah sembari menunjukkan materi yang dimaksud.
Begitu juga dengan para guru SD/MI. Untuk menggenjot kualitas, dalam pelatihan tersebut mereka mendapatkan materi tentang PAKEM (Pembelajaran, Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Maklum saja, selama ini kebanyakan proses belajar mengajar di kelas dilakukan secara monoton. Bahkan hanya satu arah.
Akibatnya, anak didik menjadi bosan dalam mengikuti proses kegiatan belajar. Sebagai jawabannya, lanjut Saifullah, guru-guru tersebut diberi metode pembelajaran PAKEM. Semisal, penataan tempat duduk tidak diset secara klasik. Namun didesain dengan cara berkelompok. Contoh lainnya, dalam ruangan kelas dipajang hasil karya anak didik. “Dengan begitu, proses belajar tidak membosankan,” katanya.
Cahyadi Widi Wahyono, staf WSD (Wold School Development) Usaid Prioritas, menambahkan, selain komite dan guru, peningkatan kualitas kepala sekolah juga tidak kalah penting. Karena kepala sekolah merupakan pimpinan tertinggi dalam lembaga pendidikan. Sayangnya, seringkali keputusan yang diambil oleh kepala sekolah dilakukan secara sepihak atau tidak melibatkan pihak lain, seperti guru dan komite.
Nah, agar hal itu tidak terjadi, maka dalam pelatihan yang dilakukan Usaid Prioritas, kepala sekolah juga diikutsertakan. Mereka mendapatkan materi tentang kepemimpinan, materi manajemen berbasis sekolah, serta materi penunjang lainnya. “Jika tiga elemen itu berjalan seiring, maka kualitas sekolah juga bisa meningkat. Sehingga bisa melahirkan anak didik berkualitas pula,” ujar Cahyadi.