Monthly Archives: August 2016

Dispendik Kota Pasuruan Wacanakan Full Day School

brt223886608Pasuruan (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Pasuruan mewacanakan penerapan full day school (FDS) bagi sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) yang ada di wilayah setempat.

“Mereka yang lulus SMK biasanya lebih banyak memilih bekerja. Sehingga hal ini perlu diterapkan, agar mereka terbiasa dengan dunia kerja,” ujar Kepala Dispendik Kota Pasuruan, Suhariyanto, Jumat (19/8/2016).

Dia mengaku, ide penerapan FDS itu sudah pernah dikemukakan beberapa tahun yang lalu. Yakni, sebelum ramainya pemberitaan tentang FDS yang digagas oleh Mendikbud Muhajir Effendi, belumlama ini.

“Saat itu keinginan kami adalah FDS diterapkan bagi semua jenjang pendidikan. Namun ternyata banyak mendapat penolakan dari beberapa pihak. Sehingga akhirnya batal dilakukan. Nah, untuk sekarang ini kami berpandangan bahwa FDS sangat tepat untuk jenjang SMK,” terangnya.

Suhariyanto menambahkan, tujuan FDS yang akan diterapkan adalah untuk membiasakan siswa SMK dengan dunia kerja. Dalam FDS, lanjutnya, siswa SMK pulangnya sore hari. Secara otomatis, ketika memasuki dunia kerja, mereka tidak kaget lagi.

“Memang tidak mudah untuk menerapkan FDS. Sehingga untuk sementara, kita melakukan ujicoba FDS di beberapa SMK. Kalau SMA jelas tidak mungkin, karena tahun depan pengelolaannya diambil provinsi,” pungkasnya.

Sumber : beritajatim.com

5 Tips Hemat untuk Mahasiswa Perantauan di Luar Negeri

1759449Belanda-2015-21780x390KOMPAS.com – Keterampilan mengatur keuangan terkadang luput diperhatikan oleh mahasiswa yang punya rencana belajar ke luar negeri. Padahal, hal ini perlu agar mereka tidak kehabisan uang sebelum kiriman orangtua atau beasiswa datang.

Bukan rahasia bahwa bertahan hidup di negeri orang terbilang jauh lebih sulit jika dibandingkan dengan merantau ke kota tetangga. Kurs rupiah yang biasanya lebih murah dan perbedaan gaya hidup sering kali membuat mahasiswa rantau tak bisa hidup bermewah-mewah.

Namun, bukan berarti juga pelajar “dipaksa” untuk hidup sengsara karena harus berhemat. Jangan takut kehabisan uang saat menjadi mahasiswa perantauan di luar negeri.

Anda dijamin tidak akan bangkrut asal tidak malas dan mau berhemat. Ini lima tips yang bisa disimak agar belajar di luar negeri tak perlu “bangkrut” pada pertengahan bulan:

Mengatur dana

Benjamin Franklin, Bapak Pendiri Amerika Serikat (AS), pernah mengatakan, “Hati-hati dengan pengeluaran kecil. Kebocoran ringan justru mampu menenggelamkan kapal besar.”

Tanpa sadar, mahasiswa rantau kerap jadi boros karena tergoda membeli jajanan lokal atau pernak-pernik pakaian sesuai musim.

Untuk menyiasatinya, pelajar dapat memisahkan dua jenis pengeluaran, yaitu kebutuhan tetap dan tidak tetap.

Biaya tempat tinggal dan makan bisa dimasukkan pada kebutuhan tetap, sedangkan kebutuhan tidak pasti boleh diisi dengan budget hiburan atau kebutuhan lainnya setiap bulan.

Mahasiswa pun hendaknya mencatat setiap pemasukan, baik uang bulanan kiriman orang tua, beasiswa, atau upah kerja sambilan, agar tidak hilang begitu saja. Pastikan bahwa kebutuhan tetap terpenuhi lebih dahulu.

Jika memungkinkan, mahasiswa boleh saja mencatat pengeluaran setiap harinya. Kebiasaan ini untuk mendeteksi kecenderungan boros yang kadang dilakukan tanpa sadar.

Mahasiswa juga jangan malu untuk berbelanja kebutuhan di toko barang bekas, seperti Goodwill di AS.

Selain itu, pelajar juga bisa membeli produk asli buatan supermarket untuk kebutuhan sehari-hari yang biasanya lebih murah.

Tinggal dekat kampus

Salah satu hal pertama yang harus dipersiapkan calon mahasiswa sebelum semester pertama dimulai adalah tempat tinggal. Mahasiswa disarankan mencari tempat tinggal terdekat dari kampus untuk mengurangi ongkos perjalanan.

Anda bisa memilih asrama yang umumnya dapat disewa lebih murah atau kontrakan di sekitar universitas. Dengan begitu, perjalanan ke kampus mungkin untuk ditempuh dengan bersepeda atau berjalan kaki.

Namun, kendaraan umum bisa jadi pilihan utama pelajar bila tempat tinggal memang jauh dari universitas.

Bus atau kereta di negara-negara maju cenderung memiliki fasilitas memadai dan nyaman untuk digunakan. Rata-rata, tarifnya juga dikenakan sesuai jarak tempuh sehingga semakin dekat kampus menjadi lebih murah.

Lakukan semua sendiri

Sekitar pertengahan ’90-an penyanyi dangdut Caca Handika melantunkan lagu dengan lirik, “Masak… Masak sendiri. Makan…. Makan sendiri. Cuci baju sendiri…

Lagu itu bisa jadi bukan ditujukan untuk para jomblo atau orang putus cinta, melainkan menyasar anak-anak rantau. Jangan-jangan….

Pengeluaran mahasiswa akan terpangkas dua kali lipat bila memasak makanan sendiri. Biasanya, harga bahan mentah bisa dua atau tiga kali lipat lebih murah dibandingkan biaya satu kali makan siang di kantin kampus.

Begitu juga dengan pekerjaan rumah tangga lainnya, seperti mencuci baju dan membersihkan tempat tinggal.

Pelajar dapat melakukannya sendiri di akhir pekan atau ketika jadwal kuliah tidak padat. Bebersih dapat pula menjadi alternatif olahraga daripada membayar keanggotaan gym yang mahal.

Meski harus mampu melakukan semuanya sendiri, mahasiswa juga sebaiknya mencari teman sebanyak-banyaknya.

Relasi ini berguna ketika pelajar kehabisan uang dan ingin patungan makan pada akhir bulan atau saat mencari teman untuk sama-sama menyewa tempat tinggal.

Kerja sambilan

Kiriman uang dari orangtua atau beasiswa tak selalu sampai tepat waktus setiap bulannya. Daripada menanti ketidakpastian, ada baiknya mahasiswa mencari kerja sambilan atau part time sambil kuliah.

Penghasilan bisa dijumlahkan dari jam kerja per minggu serta upah yang biasanya dihitung per jam. Setiap negara punya kebijakan masing-masing mengenai batas jam kerja, pengaturan pajak, dan visa pelajar yang diperbolehkan untuk bekerja.

Kerja sambilan ini tentunya dengan catatan tidak mengganggu jam belajar mahasiswa, terutama bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan bantuan beasiswa. Umumnya, ada peraturan tersendiri agar mahasiswa tidak mengabaikan pelajaran demi mencari uang.

Cari “gratisan”

Hidup hemat bukan berarti mahasiswa tak punya kesempatan bersenang-senang. Pelajar hanya perlu tahu cara menyiasatinya, salah satu cara dengan mencari “gratisan”.

Mahasiswa dapat memanfaatkan perpustakaan universitas untuk menikmati pendingin ruangan gratis pada musim panas sambil membaca buku atau mengakses internet.
Ingat, jangan sia-siakan fasilitas kampus selama pelajar masih bisa memanfaatkannnya.

Lalu, mahasiswa bisa memilih taman kota untuk berkumpul dengan teman pada akhir pekan.

Minta setiap orang di perkumpulan Anda untuk membawa makanan yang bisa dimakan bersama. Kedekatan sesama pelajar pun akan lebih tercipta dari kebersamaan ini.

Jika ingin jalan-jalan, pelajar dapat mengunjungi museum atau mendatangi pusat-pusat kebudayaan lain yang biasanya bisa dimasuki secara gratis.

Biasanya, mahasiswa boleh juga menggunakan kartu pelajar untuk mendapat potongan harga, misalnya saat beli tiket bioskop serta tempat-tempat hiburan lainnya.

Pemkab Banyuwangi Gelontorkan Rp 14,4 M untuk Beasiswa

brt90287651Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiono mengatakan, sejak 2011, pemerintah daerah telah menyalurkan Rp 14,4 miliar untuk berbagai beasiswa bagi sekitar 700 anak muda yang kuliah di berbagai perguruan tinggi, baik di Banyuwangi maupun luar Banyuwangi.

Salah satu program beasiswa itu adalah Banyuwangi Cerdas (PBC), yang diberikan kepada mahasiswa Banyuwangi yang berprestasi, namun tidak mampu secara ekonomi.

“Total anggaran yang telah disalurkan hingga 2016 untuk program ini mencapai Rp 9,6 miliar untuk 297 mahasiswa. Mahasiswa dengan beasiswa skema ini akan mendapatkan biaya kulah dan uang hidup yang totalnya Rp 1 juta per bulan,” kata Sulihtiono.

Tahun anggaran 2016 ini, Pemkab Banyuwangi mengalokasikan Rp 3,75 miliar untuk program beasiswa Banyuwangi Cerdas bagi mahasiswa yang berprestasi tidak mampu, mahasiswa yatim piatu, dan penyandang disabilitas berprestasi. “Mereka yang memperolehnya melalui proses seleksi,” kata Sulihtiono.

Dua perguruan tinggi negeri yang bekerja sama untuk program Banyuwangi Cerdas dengan Pemkab Banyuwangi sejak 2011 adalah Universitas Negeri Jember dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.

Bupati Abdullah Azwar Anas mendorong semua warga Banyuwangi untuk menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin. “Tidak ada alasan untuk putus asa untuk meraih pendidikan meski terdapat keterbatasan ekonomi. Asalkan belajar dengan rajin, pasti akan bisa mendapatkan jalan,” katanya.

Sumber : Beritajatim.com

Full Day School Bisa Memusnahkan Adat Istiadat di Daerah

diskusi-pendidikan-nih2_20160818_133508TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wacana yang dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi mengenai full day school membuat resah orangtua dan siswa sendiri.

Walaupun masih sebatas wacana, para pelaku di bidang pendidikan menyatakan bila kebijakan tersebut benar-benar disahkan secara nasional akan memberi beberapa efek negatif.

Karina Adistiana, penggiat dunia pendidikan dalam konferensi pers di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016) menceritakan bahwa di daerah, siswa memiliki kegiatan bernuansa adat istiadat di sore hari bersama masyarakat.

“Di daerah yang adat istiadat masih kental biasanya anak-anak bersosialisasi dengan masyarakat di tempatnya tinggal. Kalau kebijakan full day school di mana siswa harus belajar sampai jam 5 sore maka mereka akan lupa dan bahkan tidak mengerti adat istiadat daerahnya,” ujarnya.

Selain itu baginya, full day school juga mematikan masyarakat sebagai pilar pendidikan bagi anak.

“Menurut Ki Hadjar Dewantara, ada tiga pilar pendidikan bagi anak yaitu sekolah, masyarakat, dan orang tua. Jadi jangan menjauhkan anak-anak dari lingkungan tempatnya tinggal,” katanya.

Sementara itu Fidella Anandhita, sukarelawan pengajar di daerah pelosok bercerita bahwa mengiyakan pernyataan Karina.

Menurut pengalamannya, waktu sore hari biasa digunakan anak-anak di desa untuk melakukan permainan tradisional seperti layangan dan lain sebagainya.

“Bahkan menurut pengalaman saya banyak daerah di Indonesia yang mengharuskan mereka pulang berjalan kaki dengan menempuh jarak 4 jam. Kalau full day school diterapkan secara merata di seluruh Indonesia pemerintah berarti menyiksa anak-anak, bukan memberi pelajaran karakter,” ujarnya.

Sebelumnya Muhadjir Effendi mengatakan bahwa full day school perlu diterapkan agar anak-anak tidak menjadi liar karena ditinggal orang tuanya bekerja.

“Kalau di sekolah mereka bisa ada kegiatan sehari penuh jadi peluang mereka untuk jadi nakal bisa ditekan,” ujar Muhadjir

sumber : TRIBUNNEWS.COM

Khusus S-1, Beasiswa ASEAN Gelombang Dua Dibuka 1 September!

1657557SHARE-Visual-Identity-FINAL-Rev1780x390JAKARTA, KOMPAS.com– Uni Eropa (EU) dan ASEAN bekerja mengumumkan pembukaan pendaftaran gelombang kedua beasiswa SHARE atau Support to Higher Education in the ASEAN Region untuk semester Januari-Juli 2017. Gelombang kedua ini dibuka pada 1 September 2016 mendatang bagi pelajar di seluruh ASEAN untuk studi selama satu semester di negara ASEAN lainnya.

“Anda diundang untuk mendaftarkan diri  sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa diantara 125 kandidat lain yang akan diterima. Kerjasama ini merupakan sebuah kesadaran bahwa mobilitas mahasiswa memainkan peran penting dalam pengembangan lebih lanjut dari pendidikan tinggi di ASEAN,” ujar H. E. Mr. Vongthep Arthakaivalvatee, Deputi Sekretaris Jenderal Komunitas Sosial-Budaya ASEAN, di Jakarta, Senin (8/8/2016).

Skema beasiswa ini merupakan bagian dari program ‘Dukungan Uni Eropa untuk Pendidikan Tinggi di Wilayah ASEAN‘ atau SHARE. Program beasiswa ini dirancang untuk mendorong mobilitas mahasiswa negara-negara ASEAN dan menguji penerapan sistem transfer kredit ASEAN.

“Ini kemitraan spesial dengan Uni Eropa yang memungkinkan kita memberdayakan para mahasiswa berbakat untuk mengejar karir yang mereka pilih dan bertukar wawasan dan pengalaman sangat berharga bagi mereka nantinya,” ujar Vongthep.

Menurut dia, sistem efektif untuk pendidikan tinggi regional yang berpusat pada skema beasiswa untuk mahasiswa di ASEAN merupakan elemen kunci dalam mempromosikan konektivitas dan mendukung upaya integrasi di ASEAN.

Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN H. E. Fransisco Fontan mengatakan bahwa pihak Uni Eropa menyambut program ini dengan antusias sebagai pengalaman dari Proses Eropa Bologna untuk mendukung ASEAN.

“Skema beasiswa Eropa Erasmus dikenal di seluruh dunia sebagai standar emas dalam program pertukaran siswa. Jutaan siswa dari Eropa, serta negara-negara di seluruh dunia telah merasakan keuntungan dari skema ini, tidak hanya dalam kualifikasi akademik mereka, tapi juga pengalaman langsung di Eropa. Ini memiliki dampak besar pada pembangunan komunitas di Eropa,” kata Fontan.

Terbuka

Temy Ramadan adalah salah satu penerima beasiswa SHARE Gelombang 1. Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) ini akan mengikuti transfer studinya di Universitas Filipina.

‘Ini merupakan beasiswa baru, tapi ini sangat menguntungkan karena memberikan dukungan keuangan penuh sehingga kami bisa fokus pada studi. Saya berharap bisa mendapatkan pengalaman langsung tinggal di luar negeri,” ujar Temy.

Dia juga berharap, selama studi nanti dirinya terpapar langsung dalam komunitas ASEAN. Menurut dia, hal itu adalah kesempatan besar untuk berjejaring dan mempelajari perspektif luar terhadap negaranya sendiri dan ASEAN pada umumnya.

Adapun masing masing beasiswa dari keseluruhan 125 beasiswa yang tersedia menawarkan studi selama satu semester yang didanai sepenuhnya oleh program ini. Beasiswa ini berlaku untuk mahasiswa yang sedang menjalankan program sarjana (S-1) dari universitas yang dipilih di seluruh wilayah ASEAN.

Beasiswa ini terbuka untuk mahasiswa yang tengah menjalankan studi universitas di negara-negara ASEAN yang telah menyelesaikan minimal dua semester studi. Beberapa universitas berikut telah dinominasikan oleh kementerian pendidikan masing-masing negara ASEAN untuk berpartisipasi dalam skema beasiswa ini.

Berikut beberapa universitas nominasi tersebut:

  •  Filipina: University of the Philippines, University of Santo Tomas, De La Salle University, Ateneo de Manila University
  •  Kamboja: Royal University of Phnom Penh, University of Cambodia, Phnom Penh International University, National University of Management Cambodia
  •  Indonesia: Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Bogor Agricultural University, Bina Nusantara University
  •  Laos: National University of Laos
  •  Malaysia: Universiti Kebangsaan Malaysia, Taylors University Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia, Universiti Malaysia Sabah
  •  Myanmar: University of Yangon Mandalay University, Myanmar Maritime University, Yangon University of Economics
  •  Thailand: Chulalongkorn University, Payap University, King Mongkut’s University of Technology Thonburi, Thammasat University
  •  Vietnam: Viet Nam National University, Hanoi University of Science and Technology, Ho Chi Minh University of Technology and Education, Hue University.

Tertarik? Seluruh informasi pendaftaran, persyaratan dan tenggat waktu beasiswa ini bisa dilihat secara detail di www.share-asean.eu/scholarship.

Sumber : KOMPAS.com