Monthly Archives: September 2016

Dindik Jatim Bentuk 150 Siswa Jadi Agen KPK

brt109478228Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur menggandeng Pusat Pendidikan dan Latihan Pertahanan Udara Nasional (Pusdiklat Hanudnas) TNI Angkatan Udara, bentuk 150 kader perubahan menjadi agen Komunitas Pegiat Kebangsaan (KPK).

Sekretaris Dindik Jatim, Sucipto mengungkapkan kader ini dibentuk untuk membendung efek negatifnya dari derasnya teknologi informasi (TI) serta gaya hidup global.

“Jaman sekarang, gaya hidup globalisasi sudah tanpa batas, ruang, dan waktu. Meski begitu, siswa harus tetap punya karakter jati diri sebagai bangsa,” ungkap Sucipto di temui usai membuka pelatihan KPK di Pusdiklat Hanudnas Surabaya, Jumat (16/9/2016).

Selama dua hari, mereka akan mendapat wawasan dari Pusdiklat Hanudnas TNI AU, sebagai generasi penerus yang pintar dan berkarakter.

“Karakter sekarang sulit dicari karena pengaruh budaya luar. Padahal bangsa kita punya nilai adiluhung,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Cip ini melanjutkan, setelah mendapat pelatihan, mereka akan menularkan wawasan kebangsaan itu kepada teman sebayanya di lingkup sekolah maupun di tempat tinggalnya.

“KPK sudah dibentuk tahun 2012, anggotanya saat ini ribuan. Merekalah generasi penerus bangsa,” jelas Sucipto.

Ia menambahkan. Selain menggandeng Pusdiklat Hanudnas, pihaknya juga bekerjasama dengan banyak pihak untuk memberi wawasan kepada anggota KPK.

“Instansi lain seperti Polda Jatim, Badan Narkotika Nasional (BNN), Departemen Pertahanan Jatim, TNI AL, dan lain-lainya akan ikut membentuk pnerus bangsa yang teruji,” tambah Sucipto.

Sementara itu, Kasubdiklat Pusdiklat Hanudnas TNI AU, Mayor Lek Made Sukrawan mejelaskan materi yang diberikan kepada pelajar setingkat SMA/SMK yang akan dijadikan pilar bangsa adalah seputar pertahanan udara.

“Diharapkan, siswa dapat mengenal lebih dekat tentang TNI AU, akan kami sampaikan tentang tata cara masuk TNI AU atau Bintara. Barangkali ada sebagian siswa yang berminat,” ungkap Made.

Sumber : beritajatim.com

Pantau Murid, Sekolah di Pamekasan Terapkan Fingerprint

brt164238676Pamekasan (beritajatim.com) – Sejumlah sekolah di Pamekasan mulai menerapkan fingerprint sebagai absensi siswa guna mempermudah pengawasan guru bersama orang tua terhadap peserta didik.

Sistem tersebut nantinya akan tersambung dengan nomor telpon wali siswa secara langsung, sehingga prilaku masing-masing siswa bisa terpantau program yang saat ini sudah diterapkan di SD Negeri III Larangan Loar dan SMP Negeri 5 Pamekasan.

“Sistem ini dilakukan untuk memastikan anak sudah sampai di sekolah dan check lock lagi untuk memastikan sudah pulang dari sekolah,” kata Plh Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan Prama Jaya, Jum’at (16/9/2016).‎

Sistem tersebut dinilai juga cukup efisien dan bisa diterapkan di berbagai sekolah lainnya. “Paling tidak sistem ini bisa memberikan kepastian dan ketenangan kepada orang tua,” imbuhnya.

Penerapan fingerprint juga dinilai bisa membantu sekolah dan orang tua. Sebab para siswa harus melakukan check lock, baik saat tiba di sekolah maupun ketika pulang dari sekolah. “Bagaimanapun orang tua juga sama-sama memiliki tugas untuk mengawasi anak mereka selain para guru di sekolah,” ungkapnya.

“Misalkan orang tua sudah tahu anaknya pulang (dari sekolah), tapi tidak kunjung tiba di rumah. Berarti orang tua harus mengawasi juga,” sambung Plh dari Plt Disdik Pamekasan Mohammad Tarsun itu.

Selain itu, pihaknya berharap sistem tersebut bisa diterapkan di sejumlah sekolah lain. Khususnya di lingkungan Disdik Pamekasan. “Kami berharap sekolah lain juga mengikuti jejak penggunaan teknologi guna memaksimalkan pengawasan peserta didik,” harapnya.

“Tetapi mesin fingerprint itu harus juga memadai agar tidak terjadi antrean panjang ketika (siswa) masuk atau pulang sekolah,” pungkasnya.

sumber : beritajatim.com

Hadapi Globalisasi, Menristekdikti Minta PTN Harus Inovatif

hadapi-globalisasi-menristekdikti-minta-ptn-harus-inovatif-KtsBANDUNG – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir meminta Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tetap berinovasi menghadapi persaingan global.

Bahkan kegiatan riset dalam lingkungan PTN harus terus ditingkatkan, untuk menjawab keluhan para peneliti dalam riset, khususnya soal pertanggung jawaban keuangan.

Menteri Nasir mengatakan, saat ini telah ada regulasi yang menjembatani hal tersebut yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 106/PMK.2/2016 tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2017.

“Dengan regulasi tersebut, para peneliti tentu bisa lebih fokus terhadap penelitian yang dikerjakan. Mengingat riset saat ini bukan lagi berbasis proses melainkan berbasis output,” tutur Nasir di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/9/2016).

Nasir menambahkan, langkah inovasi juga tetap perlu dilakukan oleh PTN, mengingat anggaran untuk PTN terus menurun hingga tahun ini. Misal pada 2014 anggaran yang dialokasikan Rp46 triliun, kemudian pada 2015 menjadi Rp42 triliun, 2016 menjadi Rp40 triliun dan pada 2017 kembali turun menjadi Rp39 triliun.

Nasir menyatakan, hasil riset memiliki peranan penting dan strategis dalam pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Bahkan menurutnya, hampir tidak ada negara di dunia yang mempunyai daya saing tinggi tanpa memberikan perhatian yang serius terhadap dunia riset.

Sumber ; sindonews.com

Diduga Kode ISBN Palsu, Penerbit di Mojokerto Dilaporkan Polisi

brt72910782Mojokerto (beritakan.com) – Diduga edarkan buku dengan kode ISBN (kode standar buku internasional) palsu, sebuah penerbit buku lokal di Kabupaten Mojokerto dilaporkan ke polisi. Buku pendamping materi untuk siswa sekolah dasar (SD) tersebut ditemukan beredar di Kecamatan Puri, Ngoro, Kutorejo, Mojoanyar, Trawas dan Mojosari.

Pihak pelapor, Ketua Pos Bantuan Hukum Advokad Indonesia (Posbakumadin) Biro Mojokerto, Edy Yusef mengatakan, jumlah buku tersebut mencapai ratusan eksemplar. “Buku tersebut dipakai sejak awal tahun ajaran 2016-2017. Ada enam mata pelajaran, mulai kelas satu hingga kelas enam,” ungkapnya, Selasa (13/9/2016).

Meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 1, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk kelas 1, Matematika untuk kelas 2, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk kelas 3, Bahasa Jawa untuk kelas 4 dan Bahasa Inggris untuk kelas 6. Menurutnya, dugaan penggunakan kode palsu tersebut setelah pihaknya mengecek di situs online milik Perpustakaan Nasional (Perpusnas).

“Kami cek di situs Perpusnas dan masukkan kode ISBN buku tersebut, ternyata tidak muncul. Ada dugaan kode ISBN buku tersebut palsu sehingga pihak penerbit melanggar Pasal 4 huruf c, 7 huruf c, 8, dan Pasal 62 UU RI No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kami sudah melaporkan ke Polres Mojokerto pada tanggal 12 Agustus lalu,” katanya.

Menurutnya, pihak penerbit sudah merugikan para siswa karena telah mencantumkan ISBN kode standar buku internasional sebagai syarat dari Kemendikbud agar bisa beredar. Ada kemungkinan, lanjut Edi, pihak penerbit sengaja memalsu agar buku dianggap bagus.

Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Mojokerto, Iptu Suyono mengaku sudah menerima laporan dari Posbakumadin tersebut. “Pihak penerbit sudah kami mintai keterangan dan mereka sudah menunjukkan secara lengkap izin dari Perpusnas, termasuk nomor serinya lengkap. Selanjutnya, kami akan memanggil pelapor untuk dimintai keterangan,” ujarnya.

Sumber : Beritajatim.com

Guru Produktif di Jatim Hanya Ada 71 Ribu, Jika untuk SMK Masih Kurang

Surabaya (beritajatim.com) – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jatim. sambut gembira, mengenai kabar tentang akan adanya pendidikan untuk guru-guru adaptif menjadi guru produktif.

Pasalnya, pemerintah dianggap memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kekurangan guru di tingkat SMK.

Ketua PGRI Jatim Ichwan Sumadi mengatakan, hampir semua kabupaten/kota di Indonesia alami kekurangan guru, dan kekurangannya merata yaitu ada di tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.

“Namun, sekolah kejuruan sendiri yang paling banyak kekurangan guru produktif. Kalau ini tidak dipenuhi, kita khawatir guru hanya mengajar teori tanpa praktik,” kata Ichwan, Jumat (9/9/2016).

Ia menambahkan, diketahui SMK saat ini lebih mengutamakan praktik dibanding teori. jika kekurangan guru produktif terus terjadi maka bisa menghambat. “Jadi harus dipenuhi guru produktif sesuai kebutuhan. Pemerintah harus bertanggung jawab memenuhi kekurangan guru ini. Kalau tidak segera dipenuhi maka akan hancur,” terang Ichwan.

Mengenai guru honorer, Ichwan mengusulkan agar pemerintah mengangkat para guru honorer dalam memenuhi kebutuhan guru produktif menjadi guru pegawai negeri sipil (PNS). “Sebagai langkah lain selain pendidikan guru adaptif. Hendaknya pemerintah memikirkan itu, karena  tidak sedikit guru honorer yang masuk pada kelompok guru produktif,” tutur Ichwan.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Menengah Kejuruan dan Pendidikan Tinggi Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Hudiyono menyatakan, SMK di Jatim saat ini memiliki sekitar 3.400 paket keahlian. Dan ada sekitar 1.400 paket keahlian terakreditasi A.

“Untuk peningkatan mutu di SMK didukung oleh sekitar 71 ribu guru produktif. Tapi jumlah ini masih kurang,” papar Hudiyono.

Saat ini, tambahnya. Untuk menutupi kekurangan guru produktif, banyak SMK yang menggunakan tenaga dari kalangan industri. Sehingga dapat membengkakkan biaya operasional sekolah.

“Saya mendukung langkah dari pemerintah yang menggeser guru normatif menjadi guru produktif, karena itu sebuah langkah bagus. Apalagi kita masih kekurangan guru produktif untuk mengisi 3.400 paket keahlian,” urai Hudiyono.

Dalam waktu dekat, sebagai langkah yang secara tidak langsung membuat guru adaptif menjadi guru produktif, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim akan membuat peraturan tentang pendidikan sistem ganda dan teaching factory di SMK, untuk mengikat kalangan industri dengan SMK.

“Sehingga, guru-guru di SMK dapat menerima pengalaman langsung dari industri untuk diaplikasikan ke sekolah. Karena saat ini, tidak menutup kemungkinan SMK harus menjadi miniatur industri. Hal ini tentu tidak lepas dari kurikulumnya yang linier dan sinkron dengan industri. Termasuk trainer dari industri itu pengalamannya harus sampai ke guru SMK,” tandas Hudiyono.

Sumber: beritajatim.com