Monthly Archives: November 2016

Anggaran BSM Dindik Jatim Capai Rp60 Miliar

brt164238676Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jatim akan memprioritaskan pendidikan gratis untuk siswa tidak mampu dengan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang anggarannya sebesar Rp 60 miliar.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur, Saiful Rachman saat ditemui di kantornya, Selasa (15/11/2016), mengatakan, pada 2017 anggaran untuk program BSM mencapai Rp 60 miliar. “Namun, anggaran ini turun 15 miliar dari tahun sebelumnya, padahal tahun 2015 lalu, angkanya mencapai Rp 75 miliar. Turunnya anggaran ini, karena angka kemiskinan di Jatim juga turun,” kata Saiful, Selasa (15/11/2016).
Tak berbeda dengan konsep pendataan siswa jalur mitra warga atau siswa miskin di Surabaya, nantinya para siswa yang mendapatkan BSM juga akan dicek ke rumahnya. Sementara syarat penerima BSM adalah siswa pintar dan orang tuanya tidak berpenghasilan. “Nanti guru konseling akan turun ke lapangan melihat kondisi orang tua dan siswa di rumahnya,” ujar Saiful.
Diketahui, Program BSM adalah Program Nasional yang bertujuan untuk menghilangkan halangan siswa miskin berpartisipasi untuk bersekolah dengan membantu siswa miskin memperoleh akses pelayanan pendidikan yang layak.

Sumber: Beritajatim.com

Kepuasan Pelanggan : Ditinjau dari Kualitas Layanan Hotel

COVER-HARIS

Judul Buku : Kepuasan Pelanggan : Ditinjau dari Kualitas Layanan Hotel
Penulis : Haris Prasetyawan
ISBN : 978-602-0816–80–7
Cetakan : November 2015
Tebal Buku : 108 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

Penulis mengungkapkan pada awal buku bahwa usaha pemasaran usaha perhotelan diperlukan kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan merupakan tingkat kesesuaian antara produk dan atau jasa pelayanan yang diinginkan dengan kenyataan yang diterima dengan tolak ukur keunggulan daya saing perusahaan. Oleh karena itu, rumusan masalah yang diajukan penulis dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh kualitas pelayanan secara parsial dan simultan terhadap kepuasan pelanggan pada hotel Bromo View di kota Probolinggo.

Hasilnya, kualitas layanan berpengaruh secara simultan terhadap kepuasan pelanggan. Adapun bukti fisik mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penulis menyarankan pihak hotel untuk memperhatikan kualitas pelayanan, terutama dalam hal daya tanggap karyawan terhadap tamu hotel. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada karyawan. Selain itu, dapat dilakukan dengan memberikan himbauan tertulis maupun on the job training bagi karyawan.

Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pelatihan dan Kompetensi Terhadap Kinerja Guru

Judul Buku : Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pelatihan dan Kompetensi Terhadap Kinerja Guru

Penulis : Jajuk Surjaningtyas
ISBN : 978-602-0816-02-9
Cetakan : Februari 2015
Tebal Buku : 67 Halaman
Penerbit : Kresna Bina Insan Prima

            Penulis menyatakan bahwa pada era globalisasi, profesi guru bermakna strategis karena mengembang tugas bagi proses kemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan dan pembangunan karakter bangsa. Guna meningkatkan kompetensi guru diperlukan analisis mengenai faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kinerja guru. Oleh karena itu, penulis merumuskan masalah bagaimana tingkat pendidikan, pelatihan dan kompetensi guru produktif di SMK Negeri 1 Probolinggo baik secara parsial maupun simultan. Hasilnya, baik secara parsial maupun simultan, faktor pendidikan, pelatihan dan kompetensi guru mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja guru SMKN 1 Probolinggo. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kinerja guru terutama guru di SMKN 1 Probolinggo, faktor pendidikan perlu ditentukan. Ini dapat dilakukan dengan dorongan dari pimpinan sekolah dan guru mata pelajaran yang mengampu. Sedangkan peningkatan kompetensi guru dapat dilakukan dengan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut.

Menkeu Himbau Perguruan Tinggi Ikut Tumbuhkan Perekonomian

Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menghimbau agar perguruan tinggi ikut menyukseskan pembangunan serta menumbuhkan perekonomian negara melalui penciptaan berbagai inovasi teknologi.
Hal tersebut disampaikannya, menyusul tantangan perekonomian global yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Saat orasi ilmiah dalam Sidang Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-56, di Graha ITS, Surabaya, Kamis (10/11/2016).
“Civitas akademika ITS hendaknya ikut menjawab hal itu, karena posisi pemerintah saat ini berusaha menanggapi kondisi perekonomian itu, dan Inovasi merupakan kunci penting bagi  negara guna mengakselerasi produktivitas dan pembangunan ekonomi. Saya ingin agar inovasi yang diciptakan ITS dapat bermanfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat,” paparnya.
Mendukung iklim pengembangannya, Menkeu Sri Mulyani menjelaskan. Bahwa saat ini pemerintah tengah berupaya mengaplikasikan sektor inovasi teknologi yang dihasilkan dari perguan tinggi.
“Langakh-langkah yang diambil, antara lain reposisi lembaga pendidikan dan lembaga riset negara, pengembangan wahana interaksi dan kolaborasi antara industri, peneliti dan akademisi, serta penataan hukum yang mengarah pada riset dan inovasi,” jelasnya.
Peran perguruan tinggi seperti ITS ini, tambahnya. Sangat penting, sebab Indonesia masih menghadapi tantangan domestik dari segi infrastruktur yang belum memadai. Selain itu, tingkat inovasi dalam negeri yang masih rendah, serta pasar keuangan domestik yang belum berkembang, sehingga belum mampu mendukung pendanaan.
“Saya berharap dalam usia yang telah melebihi setengah abad ini, ITS dapat terus mempertahankan dan meningkatkan reputasi internasionalnya. Pencapaian tersebut hendaknya juga dapat memacu ITS untuk berkarya dan berkontribusi lebih banyak lagi,” tambahnya.
Kualitas infrastruktur Indonesia kerap menjadi topik pembahasan di berbagai diskusi. Dalam laporan Global Competitiveness Report 2016-2017, kualitas infrastruktur Indonesia berapa pada peringkat 60 dari 138 negara. Posisi tersebut masih jauh dari negara tetangga seperti Thailand di peringkat 49 dan Malaysia di peringkat 24.
Peringkat tersebut menunjukkan infrastruktur menjadi tantangan utama. Padahal infrastruktur menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan daya saing.
Berdasarkan studi empiris World Economic Outlook pada Oktober 2014, pembangunan infrastruktur yang masif dapat memberikan efek ganda yang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, investasi publik pada sektor infrastruktur, teknologi dan pendidikan juga dianggap dapat meningkatkan permintaan dan menekan tingkat ketimpangan.
“Tersedianya kualitas infrastruktur yang memadai akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi sektor industri untuk tumbuh dan berkembang. Karena, infrastruktur mampu menciptakan persaingan pasar yang sehat. Peningkatan aksesibilitas antar daerah dan pasokan listrik yang merata sehingga mampu menciptakan kondisi pasar yang lebih efektif untuk dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.

Sumber: beritajatim.com

Buta Aksara di Jember Tertinggi, Sampang Menyusul

brt357253146Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Jawa Timur, Saiful Rachman mengatakan, saat ini hampir 90 persen anak-anak sudah terbebas dari buta aksara. Dengan begitu, jumlah APK aAngka partisipasi kasar) pendidikan Jatim sudah tinggi.
“Di tingkat lulusan SD, APK sudah mencapai 112 persen, SMP mencapai 102 persen dan 80 persen untuk APK lulusan SMA. Ini belum sepenuhnya, terutama yang berada di desa-desa lulusan SMP sudah banyak yang nikah,” kata Saiful Rachman, Senin (7/11/2016).
Meski demikian, mantan kepala Badan Diklat Jatim ini menjelaskan bahwa APK di setiap jenjang, bisa dibuktikan karena saat ini para siswa kelas 1 SD sudah bisa membaca.
”Sekarang anak kelas 1 SD sudah bisa membaca. Paud dan TK sudah diajari membaca, mentok kelas 3 sudah lancar bacanya. Jumlah anak yang buta aksara ini bisa berangsur-angsur hilang karena ditunjang kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya,” jelas Saiful.
Menurut Saiful, Kabupaten Jember mendominasi jumlah orang tua yang masih buta aksara. Diperkirakan masih ada sekitar 197 ribu orang yang buta aksara. Mereka kebanyakan tinggal di perkebunan dan hutan.
Kabupaten kedua yang memiliki jumlah buta aksara terbanyak adalah Sampang. Diperkirakan masih ada sekitar 150 ribu penduduk yang buta aksara dan memang tidak mau belajar untuk membaca. “Sepuluh tahun lagi mungkin sudah tidak ada lagi yang buta aksara,” tandasnya.
Untuk mengurangi 10 persen buta aksara, Pemprov Jatim sudah bekerjasama dengan pesantren-pesantren khususnya salafiyah. “Dalam sistem pendidikan keagamaan yang masih tradisional, pendidikan umum akan dimasukkan dalam sistem pembelajaran pesantren,” pungkasnya.

Sumber : beritajatim.com