Stop Bullying : Uluran Empati untuk ABK

(Illustration: Neil Webb/Getty Images)

Dr Yopi Kusmiati, S Sos I, M Si
Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mempunyai anak ber­kebutuhan khusus (ABK) bukanlah kehendak semua orang. Setiap orang pasti berharap memiliki anak yang sempurna, normal layaknya anak-anak lain yang berkembang sesuai dengan usianya. ABK baik karena tuna­rungu, tunawicara, tuna­netra, autisme, dan sebagainya harus­lah diterima oleh semua pihak. Tidak hanya oleh orang tua, keluarga, saudara, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya baik lingkungan rumah ataupun lingkungan sekolah.

Namun, ternyata masih banyak yang memandang sebelah mata ABK. Hal ini terkait dengan persepsi serta pandangan orang yang secara umum memandang bahwa ABK bukan sekadar penyakit medis, tetapi terkadang dilihat sebagai penyakit sosial. ABK kerap menjadi bahan ejekan teman-temannya baik di lingkungan rumah atau sekolah sebagaimana yang baru saja terjadi akhir-akhir ini di sebuah lembaga perguruan tinggi. Mestinya pada tingkat perguruan tinggi sudah bisa menerima setiap perbedaan, termasuk pandangan terhadap ABK.

Tanpa adanya ”bully” terhadap ABK, itu sudah merupakan bentuk dukungan masyarakat kepada keluarga terutama orang tua ABK, dan sebaliknya adanya stigma terhadap ABK ini tentu makin memberatkan keluarga dan orang tua secara psikologis. Kekecewaan tersebut dapat berimbas pada sikap orang tua terhadap ABK dalam kehidupannya. Karena tidak semua orang tua dapat menerima kenyataan dengan memiliki salah satu anggota keluarga yang berkebutuhan khusus dengan mudah. Alhasil, dengan kondisi seperti ini, keluarga memilih untuk menarik diri dari lingkungan luar.

Oleh karena itu, keluarga dan lingkungan memiliki kewajiban membuka peluang sebesar-besarnya bagi anak agar kemungkinan-kemungkinan yang ada di benak mereka berubah menjadi kehidupan yang indah dan penuh warna.

Guna mewujudkan hal tersebut, keluarga yang memiliki ABK perlu melakukan berbagai teknik dan penanganan khusus yang membutuhkan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, sekolah, praktisi kesehatan, keluarga, maupun lingkungan sosialnya. Tanpa kesadaran dan dukungan dari berbagai pihak, keluarga ABK tanpa disadari menghadapi suatu tantangan yang sering kali tidak disadari oleh pihak lain. Tantangan ini dalam bentuk stigmatisasi dari masyarakat di sekitar mereka.

Di tempat-tempat tertentu, baik itu di lingkungan rumah atau di sekolah bahkan di kampus masih sering terlihat ABK menjadi objek ”usilan” (bullying) dan ”tertawaan” bagi teman-temannya atau orang-orang di sekitarnya. Sering kali ABK menjadi ”hiburan” bagi masyarakat. Hal inilah yang sangat menyakitkan bagi keluarga ABK dan harus mendapatkan empati dari semua pihak.

Adanya uluran empati dari semua pihak akan menumbuhkan ketegaran bagi keluarga ABK. Keluarga atau lebih khusus orang tua ABK, sudah mendapat tempat ”pentas” untuk menyampaikan hal ihwal pengalaman pribadi mereka dan dalam mengurus atau mengasuh anak-anak ABK.

Sumber : Sindo.news

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *