Author Archives: Kresna Bina Insan Prima

About Kresna Bina Insan Prima

LEMBAGA DIKLAT DAN PENELITIAN KRESNA BINA INSAN PRIMA Kresna Bip merupakan salah satu Penerbit di Surabaya dibawah naungan Lembaga Diklat dan Penelitian (LDP) Kresna Bina Insan Prima (KBIP). Kresna Bip mempublikasikan hasil penelitian tenaga pendidik (Guru dan Dosen) menjadi buku ber ISBN (4 angka kredit) dan artikel Jurnal ilmiah (2 angka kredit). LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Pendidikan (JMP) ISSN : 2407-8581. Terbit tiap 3 (tiga) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober. Disamping itu LDP KBIP juga mengelola Jurnal Mitra Guru (JMG), ISSN : 2443-2806. Terbit tiap 2 (dua) bulan sekali dalam 1 (satu) tahun yaitu pada bulan Pebruari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember. Pimpinan Umum : Dr. H. Hidayat, MM. Wakil Pimpinan Umum : Drs. Khamim Tohari Pimpinan Redaksi : Hanan Titis H, S. Sos. Redaktur Pelaksana : Khoirul, S. Sos. Redaktur : Muhammad Ainul Firdaus, ST. Staf Redaktur : Muhammad Sueb Junaidi, S. Kom. Bambang Sumantri, SE. Agustin Azizah Mahardika, A. Md. Drs. Khamim Tohari. Hanan Titis H, S. Sos. Khoirul, S. Sos. Muhammad Ainul Firdaus, ST. Sekretariat : Jl. Klakahrejo no. 77 Benowo Surabaya 60198 Telp./Fax : (+6231) 7421067 Hp : 085330834377;085748655577 Email : ldp_kbip@yahoo.co.id Facebook : Kresna Bip (http://facebook.com/kresnaBIP) Website : www.beritapendidikan.net Pin BBM : 57D89C6

Pelatihan Kewirausahaan Pemuda

Lembaga Diklat & Penelitian Kresna Bina Insan Prima (LDP-KBIP) bekerjasama dengan Dinas Pemuda & Olahraga (Dispora) Surabaya mengadakan kegiatan pelatihan kewirausahaan pemuda Surabaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 5 s/d 7 Agustus 2015. Narasumber dari LDP-KBIP yaitu Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd; Antoni, SE., M.SA dan Dr. Hj. Woro Utari, SE., MM. Kegiatan tersebut dibuka oleh kepala Dispora dan diiukti oleh sekitar 80 peserta yang berasal dari berbagai unsur pemuda Surabaya.

Akademi Kresna Menang

Selasa pagi pukul 05.00 WIB anak binaan AKADEMI KRESNA BINA PESEPAKBOLA menuju Bangil Pasuruan dalam menyemarakkan turnamen PIALA MENPORA KU-15. Agenda pertandingan hari itu cukup padat karena anak-anak harus menjamu dua klub pada renggang waktu yang cukup singkat. Pertandingan pertama digulir pada pukul 11.00 dan pertandingan kedua pukul 14.30. Namun jadwal yang cukup singkat tersebut tidak mematahkan semangat anak-anak binaan AKBP U-15 karena berhasil memenangkan kedua pertandingan.
Pertandingan pertama berhasil mengalahkan Tunas Revo Bandung. Dalam pertandingan tersebut siswa AKBP menguasai jalannya pertandingan. Beberapa peluang sudah terjadi pada menit-menit awal sehingga pada menit ke-26 AKBP mampu menjebol gawang Tunas Revo melalui tendangan jarak jauh Fachrul Inzaghi mengantarkan AKBP unggul 1-0, skor tersebut bertahan sampai pertandingan berakhir.
Dok/beritapendidikan.net Dok/beritapendidikan.net
Pada pertandingan kedua anak AKBP berhasil menekuk tim WCP Gresik dengan skor 2-1. AKBP melalui kaki Wiranto mampu menjebol gawang WCP ketika pertandingan baru berjalan 15 detik. Namun skor 1-0 membuat siswa AKBP terlena sehingga WCP mampu membalas pada menit ke -3. Melalui kerjasama yang baik antara Wiranto, Inzaghi dan Rizky tercipta gol ke-2 oleh Wiranto dari sisi kanan pertahanan lawan pada menit 23. Dengan kemenangan kedua pertandingan tersebut mengantarkan AKBP dalam pertandingan berikutnya melawan tim Assyabab pada tanggal 8 Agustus 2015.

Profil Lembaga Diklat dan Penelitian KBIP

LEMBAGA DIKLATSalam ilmiah.

Lembaga Diklat dan Penelitian (LDP) Kresna Bina Insan Prima (KBIP) melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan penelitian berbasis bidang organisasi khususnya pendidikan.
LDP KBIP berusaha memfasilitasi bahkan mendampingi para mitra KBIP baik secara organisasi maupun individu meningkat. Secara teknis para mentor KBIP bekerja secara strategi dan sistematis. Para mitra yang bergabung dengan LDP KBIP terus memberikan asistensi perkembangan bidang tugas secara periodik, sehingga dapat meningkatkan kinerjanya melalui solusi yang ditemukan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan secara konsisten.

Selanjutnya hasil penelitian yang Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten (APIK) dengan topik yang sesuai dengan kebutuhannya organisasinya dapat digunakan sebagai rujukan dalam menjalankan tugasnya.

Kegiatan LDP-KBIP pada tahun 2015 fokus pada bidang profesionalisme melalui peningkatan kinerja tenaga pendidik (guru dan dosen). Untuk bisa menghasilkan produk pelatihan dan penelitian berkualitas diperlukan komitmen berperilaku ilmiah. Oleh karena itu secara periodik para tenaga pendidik diharuskan terus meningkatkan kinerjanya.

LDP KBIP memiliki komitmen memfasilitasi para tenaga pendidik mempublikasikan karya tulis ilmiah baik melalui jurnal ilmiah maupun menjadi buku ber ISBN. Bicara guru professional, maka logika yang mengalir dengan sendirinya adalah kesejahteraan. Hal tersebut diperoleh guru karena mereka dapat menjalankan tugas sesuai dengan tupoksinya. Jika hal itu bisa dimiliki oleh guru, maka pendidikan kita akan maju. Amin.
Surabaya, Januari 2015

Direktur
PROFIL LDP-KBIP
SEJARAH SINGKAT
LDP KBIP lahir sebagai jawaban atas tuntutan individu dan organisasi yang berbasis peningkatan kinerja. Hal tersebut didasari banyaknya tenaga kerja pada berbagai bidang yang belum berperilaku profesional. Oleh karena itu LDP KBIP memiliki tujuan pengembangan individu dan organisasinya berbasis manajemen dengan perencanaan yang berkesinambungan, terstruktur dan strategis.

LDP KBIP secara resmi didirikan pada tanggal 19 Oktober 2011 dengan akta notaries Ribka Avie Alreta, SH.M.Kn. nomor 41 tahun 2011. Lembaga ini berdiri asal mulanya membantu para pemimpin memperbaiki tata kelola organisasinya, khususnya lembaga pendidikan dalam kaitan mutu yang tercermin dalam kegiatan akreditasi kelembagaan (sekolah dan perguruan tinggi).
Awal pengelolaan tahun 2012, mempersiapkan model peningkatan kinerja guru melalui kelembagaan. Hal tersebut seiring dengan mulai dilakukan sosialisai pengembangan profesi guru, sebagai bentuk implementasi UU guru dan dosen.

Pada tahun 2013, banyak memfasilitasi guru dalam memperoleh sertifikasi profesi. Oleh karena itu banyak kegiatan pelatihan-pelatihan. Kegiatan selanjutnya melakukan pendampingan guru secara individu dalam melakukan penelitian-penelitian.

Pada thaun 2014 LDP KBIP mempunyai program publikasi ilmiah dengan mendirikan penerbit bernama Kresna Bina Insan Prima. Kegiatannya mempublikasikan hasil penelitian dan kegiatan lainnya menjadi buku ber ISBN. Pada tahun 2014 penerbit KBIP telah mempublikasikan sebanyak 15 (lima belas) hasil penelitian menjadi buku ber ISBN. Disamping itu pada bulan oktober 2014 menerbitkan Jurnal Mitra Pendidikan (JMP) ISSN : 2407-8581 nomor I Volume 1 berisi publikasi 10 (sepuluh) hasil penelitian para guru. JMP diharapkan akan menjadi wahana para guru untuk mempublikasikan karya tulis ilmiahnya.

Usaha yang gigih dan serius serta pelaksanaan perencanaan strategis tahun 2014-2017, secara terus menerus LDP-KBIP meningkatkan kualitas dan kuantitas mentor. Disamping itu KBIP memperhatikan rasio pendampingan mentor dengan guru. Oleh karena itu para mentor tahu persis strategi yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang disesuaikan kemampuan dan tugas para guru untuk meningkatkan kinerjanya, sehingga menjadi professional.

KOMITMEN PADA MUTU

Sangatlah penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki visi dan misi yang mantap sebelum menentukan langkah menyongsong masa depan. Dalam hal ini LDP KBIP menggenggam visi dan misi yang jelas, realistis, namun luwes dan antisipatif terhadap perubahan. Disamping itu juga menerapkan kebijakan dan sasaran mutu yang konsisten. Berikut visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan dan sasaran mutu yang menjadi pilar pengembangan organisasi.

Visi
Terdepan menjadi mitra dalam membangun karakter profesional insan pendidikan Indonesia.

Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, LDP-KBIP menetapkan misi sebagai berikut:
Mendukung tujuan pendidikan nasional dalam meningkatkan profesional tenaga pendidik.
Memfasilitasi individu maupun lembaga pendidikan dalam meningkatkan kinerja.
Terdepan dalam pelayanan membangun tenaga pendidikan profesional.

Tujuan
Meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
Menciptakan keunggulan kompetitif individu dan lembaga.
Menjadi rujukan tenaga pendidik dalam meningkatkan kinerja.

Strategi
Menjalankan kegiatan berorientasi pada profesionalisme.
Pengelolaan lembaga melalui pendekatan manajemen.
Memiliki perencanaan strategi secara taktis dan teknis.
Melakukan komunikasi secara intensif dengan tenaga pendidik yang memerlukan pendampingan.

Memberikan kesempatan pada tenaga pendidik memilih alternatif pilihan waktu konsultasi
Mencari banyak jaringan untuk mempublikasikan karya tulis ilmiahnya.

Kebijakan Mutu
Dalam rangka meningkatkan komitmen terhadap mutu layanan ditetapkan kebijakan mutu yaitu sebagai lembaga Diklat dan penelitian yang bertekad memfasilitasi tenaga pendidik menjadi profesional melalui peningkatan kinerjanya.

Sasaran Mutu
Target LDP-KBIP sebagai sasaran mutu pengelolaan adalah :
Setiap tahun mitra guru yang bergabung di LDP-KBIP harus memiliki penelitian (PTK atau PTS)
Semua mitra guru harus mempunyai angka kredit dari publikasi ilmiah setiap tahun.
Para guru naik jabatan fungsionalnya tepat waktu karena dukungan angka kredit dari unsur publikasi ilmiah.
Produk Layanan
Pelatihan tentang penelitian dan/atau publikasi ilmiah.
Konsultan/bimbingan penelitian (PTK/PTS).
Konsultan/bimbingan penulisan artikel ilmiah.
Konsultan/bimbingan publikasi buku ber-ISBN melalui penerbit Kresna Bina Insan Prima.
Konsultan bimbingan publikasi karya tulis ilmiah melalui
Jurnal Mitra Pendidikan ISSN : 2407-8581
Jurnal ilmiah lain yang ber-ISSN atau terakreditasi

KOMITMEN MEMBENTUK MENTAL GURU PROFESIONAL
Meneliti menjadi salah satu pilar karakter profesional guru. Saat ini dan mendatang penelitian menjadi kebutuhan guru. Indonesia adalah salah satu negeri yang diberi anugerah jumlah penduduk yang banyak, budaya dan perilaku masyarakatnya merupakan daya tarik tanpa batas bagi bangsa lain. Ditengah keriuhan problematika tata kelola pendidikan, maka peningkatan SDM guru menjadi kebutuhan.

LDP-KBIP berkomitmen dalam meningkatkan profesionalisme guru lewat pembinaan. Untuk bisa meningkatkan kinerja guru, saat ini tak bisa lepas dari pengetahuan, pengalaman guru dan mentornya. Sehingga sudah tidak jamannya lagi guru hanya mengandalkan pengalaman mengajar saja untuk menjadi profesional. Saat ini LDP-KBIP memiliki 10 (sepuluh) mentor yang bertugas pendampingan dalam sistem diklat secara continues programs.

LDP-KBIP bersungguh-sungguh dalam layanan. Jaminan yang diberikan kepada mitra guru yang bergabung adalah memberi kesempatan berkomunikasi setiap saat. Para guru diharuskan secara kontinyu berdiskusi dengan mentornya. Secara teknis para mentor memiliki catatan perkembangan binaannya secara periodik. Para mentor memiliki metode menumbuhkan kesenangan guru dalam kegiatan penelitian.

Asumsinya jika diklat dilakukan dengan metode yang baik, materi (kurikulum) jelas dan mentor yang mumpuni, maka karakter guru profesional akan terbentuk.

Strategi pembinaan yang dilakukan adalah merencanakan edukasi sesuai dengan jabatan fungsional guru. Pergerakan penilaian kinerja guru yang kian berkembang membuat LDP-KBIP harus konsisten dalam mengedepankan inovasi memenuhi kebutuhan bagi guru guna menjawab tantangan tersebut. Jawabnya adalah karya tulis ilmiah yang memenuhi syarat APIK (Asli, Perlu, Ilmiah dan Konsisten). Jika para guru berperilaku sebagai pendidik dan peneliti yang berkarakter profesional, maka kegiatan berikutnya adalah melakukan publikasi.

Disisi lain, LDP-KBIP lahir dilandasi oleh visi dan misi sebagai leader dan pioneer dalam membangun karakter profesional guru serta menggarap dengan serius implementasi integrated human resource insan pendidikan indonesia.

LDP KBIP juga melakukan edukasi secara terus-menerus ke guru secara konsisten untuk melakukan quality improvement secara kontinyu untuk peningkatan karakter dan keterampilan agar menjadi guru profesional.

Untuk menyiasati hal itu, LDP-KBIP berupaya melakukan formulasi strategi secara terpadu dan kreatif dengan terobosan-terobosan komunikasi dan aktivitas. Inovasi strategi yang diimplementasikan diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru. Dengan demikian secara otomatis angka kredit para guru dapat diperoleh dengan mudah.

MEMBANGUN JARINGAN MERAIH CITRA
Berkaitan dengan publikasi KTI, setelah tenaga pendidik meneliti sesuai dengan bidang tugasnya, maka langkah berikutnya yang harus dilakukan oleh guru adalah mempublikasikan KTI tersebut. Untuk publikasi secara terarah dan berkesinambungan. Oleh karena itu dilaksanakan kerjasama dengan pihak lain. Jaringan tersebut terbagi menjadi dua bidang yaitu penerbitan buku dan publikasi pada jurnal ilmiah.

Oleh karena itu LDP-KBIP memiliki keunggulan diantarannya:
Pengelolaan menggunakan pendekatan manajemen yang terstruktur dan sistematis
Memiliki program yang jelas
Semua mentor berpengalaman
Ada bimbingan/konsultasi khusus
Memiliki saluran publikasi ilmiah (buku ISBN maupun jurnal pendidikan)
Layanan online

STRUKTUR ORGANISASI
Direktur : Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd.
Bidang Pendidikan : Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd.
Bidang Pelatihan : Khamim Thohari, S.Sos.,M.Si.
Bidang Penelitian : Dr. Hj. Woro Utari, SE.,MM.
Kepala Unit :
Penerbitan : Choirul, S.Sos
Dewan Redaksi : Dr. Edwin Agung B., M.Pd.
Akademi Sepakbola : Bambang Sumantri
Operasional : Hanan Titis H.,S.Sos
Pemasaran : Muhammad Ainul Firdaus, ST.
Keuangan : Agustin Azizah Mahardika, A.Md
Peneliti/Instruktur Penelitian :
Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd.
Dr. Hj. Woro Utari, SE.,MM.
Dr. Edwin Agung B., M.Pd.
Dr. Suyitno, S.Pd., M.Pd.
Dr. Bambang Winarno, MM., M.Pd
Ir. Soentoro, MP., M.Pd.
Drs. Nurus Sobakh, MM., M.Pd

PROFIL PENDIRI/DIREKTUR

Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd.

Dr. H. Hidayat, MM.,M.Pd.

Berdasarkan akta notaris akta Notaris Ribka Avie Alreta, SH. M.Kn nomor 19 tahun 2012 Tanggal 1 Oktober 2011 beliau salah satu pendiri LDP-KBIP. Doktor manajemen (S3) lulusan Universitas Brawijaya dan Magister Manajemen serta Magister pendidikan (S2), ahli dalam manajemen strategi pengelolaan organisasi dan teknologi pembelajaran. Berpengalaman dan akademisi yang memahami betul strategi pengelolaan lembaga pendidikan menjadi unggul.
Berbekal lulusan pendidikan matematika pada program sarjana (S1), Hidayat pernah menjadi tenaga pendidik mulai SD, SMP, SMA/SMK pada tahun 1998-2005. Disamping itu berpengalaman mengajar di perguruan tinggi (program S1 maupun S2) mulai tahun 2000 sampai sekarang. Selain itu pernah menjadi Kepala Sekolah SMP Nurul Huda Menganti Gresik tahun 1990-1996 dan menjadi Pejabat Struktural di Universitas Wijaya Surabaya yaitu Kepala Biro Administrasi dan Akademik (1994-1995), Pembantu Rektor I Bidang Akademik (1996-2002), Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama (2003), Asisten DIrektur I bidang Akademik Program Pascasarjana (2003-2005), Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kemahasiswaan (2006-2010, mengundurkan diri tahun 2008). Setelah itu menjadi konsultan Lembaga Pendidikan mulai tahun 2008 sampai sekarang. Sejak tahun 2012 sampai sekarang menjadi Direktur Lembaga Diklat dan Pelatihan Krena Bina Insan Prima.

MOS : Dipandang Penting jika Mendidik, Tidak Penting Jika Ada Pemeloncuan

mopd-55b84c3a21afbda2056d678aOleh Cak Oirul

Beritapendidikan.net – Tahun ajaran baru telah tiba. Seperti tahun-tahun lalu, MOS (Masa Orientasi Siswa) akan diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan ini memang menyenangkan bagi sebagian siswa. Sayangnya, terkadang ada saja tindak kekerasan yang diselipkan dalam MOS. Tidak mengherankan bila orang tua siswa was-was terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap anaknya. Perlukah MOS diadakan? Jika perlu, apa saja yang harus diperhatikan pihak sekolah dalam menyelenggarakannya…?

Terkait hal itu, hasil culikan Beritapendidikan.net di media online atau facebook dan Twiter banyak yang memberikan pandangan terhadap MOS itu masih terkesan ” Pemeluncuan ” Misalnya seperti komentar Pendapat dibawa ini.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Amirsyah Oke /amirsyahoke TERVERIFIKASI (HIJAU) Abdi negara/pelayan rakyat. Pembelajar Kehidupan. Ingin Indonesia maju sejahtera dan bersih dari korupsi, sampah, konflik SARA, ketidaktertiban. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Pagi ini saat berangkat ke kantor, selama perjalanan saya memperhatikan anak-anak yang berangkat ke sekolah. Padahal hari-hari sebelumnya saya sama sekali tidak tertarik melakukannya. Ketertarikan ini akibat sehari sebelumnya saya membaca informasi terkait adanya Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pencegahan Praktek Perpeloncoan, Pelecehan dan Kekerasan pada Masa Orientasi Peserta Didik Baru di Sekolah. Bahkan Anies Baswedan sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan akan memecat Kepala Sekolah yang membiarkan terjadinya perpeloncoan.

Beberapa anak sekolah yang berjalan kaki, naik angkot dan naik motor saya identifikasi sebagai siswa baru baik SMP ataupun SMA. Mereka membawa atribut-atribut MOS khas perpeloncoan, seperti topi warna-warni dan aksesoris yang tidak biasa dipakai setiap hari ke sekolah. Saya perhatikan, ada sesuatu yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Bila tahun-tahun sebelumnya atribut dan aksesoris yang aneh-aneh dalam Masa Orientasi Sekolah (MOS) biasanya dipakai para siswa baru sejak dari rumah, kini mereka tidak memakainya. Atribut dan aksesoris tersebut dimasukkan dalam kantong plastik besar. Namun karena kantongnya berwarna putih atau transparan, dapat terlihat jelas barang-barang yang ada di dalamnya adalah atribut dan aksesoris khas perpeloncoan dalam MOS.

Melihat hal tersebut saya senyum-senyum sendiri  Karena muncul dugaan dalam pikiran. Jangan-jangan hal tersebut dilakukan agar tidak terlalu vulgar dilihat oleh masyarakat di luar sekolah. Namun setelah sampai di sekolah, para siswa baru diwajibkan memakai atribut dan aksesoris yang memalukan tersebut. Bisa jadi hal ini karena panitia MOS dan juga Pihak Sekolah tidak ingin perpeloncoan yang dilakukannya diketahui oleh masyarakat, difoto dan disebarkan ke media khususnya media sosial, sehingga ketahuan oleh pihak berwenang khususnya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.

Bila benar seperti dugaan saya, maka hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Bukannya menghentikan praktek perpeloncoan di sekolah, malah tetap melakukannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan. Setelah di dalam sekolah, perpeloncoan tetap ada karena menganggap relatif aman dan tidak ada masyarakat luar yang memperhatikannya.

Sepertinya adanya surat edaran dan ancaman pemecatan dari sang Menteri belum mengkhawatirkan semua Kepala Sekolah. Di sebuah televisi swasta seorang Kepala Sekolah yang diwawancara mengenai MOS di sekolahnya yang masih melakukan praktek perpeloncoan, menganggap hal tersebut masih wajar. Hal ini bisa menjadi indikasi bahwa masih ada oknum Kepala Sekolah ataupun Guru yang tidak sensitif pada implementasi budi pekerti di sekolahnya. Seharusnya hubungan murid baru dengan murid lama (senior) adalah sederajat, sehingga tidak ada hak sama sekali murid senior memerintahkan berbagai hal aneh kepada murid baru yang juga akan menyusahkan orang tua murid baru.

Mungkin sudah tradisi dan budaya di Indonesia, peraturan tidak harus dilaksanakan dan ditaati. Terutama bila tidak ada pihak berwenang yang mengawasi secara langsung. Sepertinya mereka yang masih melaksanakan perpeloncoan dengan sembunyi-sembunyi adalah orang-orang yang cerdas. Mereka tahu bahwa Menteri Anies Baswedan tidak mungkin mengecek sekolah satu persatu. Apalagi larangan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut belum tentu ditindaklanjuti oleh setiap Kepala Daerah dan Dinas Pendidikan setempat.
Bila sudah begini, para murid baru yang dipelonco harus berani menolak perpeloncoan. Orang tua pun harus berani melindungi anak-anaknya. Para murid baru dan orang tuanya harus melaksanakan himbauan dari Anies Baswedan. “Saatnya berhenti diam dan mendiamkan. Jika terjadi pelanggaran segera laporkan !”  Hal tersebut senada apa yang dikatakan oleh

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)   Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Share dari FB Asma Nadia yang datang ke sekolah memprotes MOS (sumber: FB Asma Nadia)
Para orang tua murid dan murid baru itu sendiri harus meniru apa yang dilakukan oleh Asma Nadia dan beberapa orang tua murid baru di SMA 2 Depok. Mereka mendatangi Kepala Sekolah dengan membawa surat edaran dari Mendikbut tentang larangan perpeloncoan. Kepala Sekolah pun meresponnya dengan langsung menghentikan MOS sejak jam 7 pagi. Bila murid baru dan orang tua murid tidak berani protes langsung kepada Kepala Sekolah, maka dapat melaporkannya melalui website mopd.kemdikbud.go.id.

Selama ini kegiatan MOS seringkali diisi dengan kegiatan yang bermuatan negatif, seperti pelecehan, perpeloncoan, dan kekerasan. Murid baru diharuskan menggunakan kostum yang aneh lengkap dengan aksesorisnya yang tidak biasa dan ganjil tidak seperti murid sekolah biasanya atau yang dipakai murid senior. Hal ini masuk dalam kategori pelecehan dan mempermalukan murid baru.

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Twitt Asma Nadia terkait protes MOS mention Mendikbud (Sumber: Twitter Asma Nadia)

Mendikbud Anies Baswedan mengharapkan pelaksanaan MOS dilakukan sesuai dengan substansinya. Atribut yang tidak wajar harus dihapuskan, karena dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa. “Pakai pakaian normal saja. Anak-anak datang ke sekolah itu bukan untuk dipermalukan. Mereka datang untuk membangun kepercayaan diri, bukan untuk dihancurkan. Jangan izinkan anak-anak (siswa) senior‎ menghancurkan kepercayaan diri juniornya,” Tegas Anies Baswedan (sumber disini).

Sementara menurut Handrini ardiyanti  MOS, merupakan ” Memori Indah Sarat Pembelajaran Yang Tak Terlupakan “

MOS atau masa orientasi sekolah banyak dikritik belakangan ini. Tapi bagi saya pribadi, MOS merupakan sepengal memori indah yang tak terlupakan. Bukan karena saya mendapatkan pasangan hidup dari MOS melainkan karena saya mendapatkan pelajaran hidup saat MOS.

Kekerasan? Yang saya ingat justru bentakan-bentakan senior itu mengajarkan saya bahwa dalam kehidupan tidak selalu mulus dan lemah lembut seperti kelembutan almarhum papi yang tidak pernah membentak saya. Bagi saya pribadi pada akhirnya saya melihat ketika senior membentak tersebut mengajarkan agar saya siap ketika mendapat perilaku keras tak terduga yang bisa muncul kapan saja.

Pelajaran lainnya adalah saya belajar mencintai pertama kali tentang hakikat “merah putih” dalam aliran darah setiap warga negara Indonesia. Karena mayoritas fungsionaris OSIS waktu saya mengalami MOS adalah anak pramuka dan paskibra. Penanaman cinta tanah air dan penghormatan kepada lambang-lambang kebangsaan pun ditanamkan kala itu.

Pelajaran yang sangat bermanfaat dari MOS adalah mengenal dan mencintai hal-hal yang berasal dari daerah kita sendiri. Waktu MOS SMA dulu kami diwajibkan mencari roti ganjel rel. Meski saya lahir dan dibesarkan di Semarang saya tak mengenal roti ganjel rel sebagai makanan khas kota Semarang.

Pelajaran yang sangat bermanfaat adalah pembelajaran tentang mempersiapkan masa depan yang ingin kita raih. Memetik pelajaran saat MOS yang saya alami yang kemudian ditransfer kembali ke adik-adik siswa-siswi baru saat kita menjadi panitia MOS berikutnya di SMA Negeri 1 Semarang antara lain tentang memperkenalkan konsep diri peralihan dari SMP ke SMA harus siap-siap merancang masa depan mau jadi apa, kuliah di jurusan apa, mau mempermudah mengapai cita2 dg prestasi misalnya ikut ekstra kurikuler apa yang bisa memaksimalkan potensi diri dll.

Selain itu pada saat MOS atau Ospek itulah para fungsionaris OSIS, pengurus Majalah dan Ekstra Kurikuler mendapatkan kesempatan melihat bibit-bibit baru sekaligus melihat potensi kepemimpinan baru yang ada pada siswa-siswi baru untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan OSIS ataupun kepengurusan ekstra kurikuler lainnya.

Saat MOS salah satu panitia adalah Mbak Yulia. Pada saat MOS penjelasan tentang salah satu hal yang menarik adalah tentang Majalah Sekolah SMA Negeri 1 Semarang, Expressi. Banyak hal yang dijelaskan saat itu membuat saya tertarik ikut bergabung di majalah Expressi hingga akhirnya saya dipercaya melanjutkan tongkat estafet majalah Expressi sebagai Pemimpin Umum bersama teman-teman dengan tantangan 2 tahun lebih majalah Expressi tidak terbit karena kesulitan dana dan sumbangan artikel dari siswa/i. Alhamdulillah salah satu edisi khusus waktu itu tentang Ospek (meski secara kualitas cetakan jauh dari memuaskan karena kekurangan dana) Namun dari penanaman pembelajaran dari kakak-kakak Madya SMA banyak yang masih saya ingat Mbak Maya, Mas Januar, Mas Heri Frianto, Mas Imam Fauzi dan lainnya mengajarkan hakikat kepemimpinan dan perlunya keberanian dalam melakukan terobosan demi kebaikan salah satunya kemudian bersama salah seorang pengurus majalah Expressi yang memang berposisi sebagai Sie Dana/Iklan – I’a Disyariza Firdian – kami pun memberanikan diri menerima pemasangan iklan dari Telkom dan Lembaga Bimbingan Neutron sehingga dengan dana yang mencukupi tampilan dan kualitas cetakan majalah Expressi bisa jauh lebih berbobot.

Itu hanyalah sepenggal dari banyak pembelajaran yang saya dapatkan di MOS. Saat MOS di Perguruan Tinggi pun demikian halnya. Mayoritas pengurus Senat Mahasiswa yang melakukan MOS adalah pengurus dan anggota dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) seperti Mas Budi Setiyono (yang Alhamdulillah saat ini telah dipercaya sebagai Pembantu Rektor III Universitas Dipnegoro) dan senior lainnya. Saya pun tertarik ikut masuk didalamnya hingga terakhir menjadi Wakil Sekretaris Umum (Wasekum) PPTK HMI Cabang Semarang. Tak dapat saya pungkiri, HMI, Badan Amalan Islam (BAI) adalah sekian banyak yang turut membentuk dan menempa kesiapan saya untuk mewujudkan impian dan cita-cita saya. Meski tidaklah sehebat yang lainnya, tapi minimal bagi saya sendiri, mampu masuk dan menerobos ujian CPNS di lingkungan Sekretariat Jenderal DPR RI tanpa ada satupun koneksi adalah suatu hal yang muskil bagi anak daerah seperti saya jika saya tanpa diwarnai oleh berbagai pembelajaran yang saya dapatkan saat MOS. Terakhir terima kasih untuk kakak-kakak senior saya yang telah memberikan pembelajaran yang berharga yang sangat bermanfaat. MOS sekali lagi bagi saya adalah memori indah sarat pembelajaran yang tak terlupakan. Pembelajaran dari kakak-kakak senior bagi saya saat itu lebih mudah tertanam daripada pembelajaran yang saya dapatkan dari Bapak/Ibu Guru karena bisa jadi jeda usia dan pola pemikiran yang tidak jauh berbeda.

Persiapan Siswa Peraih Beasiswa Pertukaran ke Luar Negeri

Postad By Beritapendidikan.net/Rabu 29 Juli 2015/ 11:45

PERSIAPAN: Dari kiri, Reyna, Janice, Leo, dan Dhea mewawancarai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota pada Jumat (24/7). Foto: Antin Irsanti/Jawa Pos

PERSIAPAN: Dari kiri, Reyna, Janice, Leo, dan Dhea mewawancarai Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Balai Kota pada Jumat (24/7). Foto: Antin Irsanti/Jawa Pos

 ” Bawa Bumbu Dapur dan Setumpuk Baju Batik
Beritapendidikan.net/JPNN.com – Empat siswa Surabaya sebentar lagi mengikuti pertukaran pelajar. Dua orang bertolak ke Amerika Serikat dan dua lainnya ke Taiwan. Mereka mendapatkan beasiswa dari Rotary Youth Exchange Program selama setahun. Sebelum berangkat, mereka berpamitan kepada Wali Kota Tri Rismaharini.

EMPAT remaja berpakaian formal dengan mengenakan jas biru tua memasuki aula depan Balai Kota Surabaya pada Jumat (24/7). Dua di antaranya membawa kamera dan tripod untuk keperluan rekaman. Tidak lama kemudian, mereka menaiki lift menuju lantai 2. Di sana mereka menunggu dipersilakan masuk ke ruangan oleh Wali Kota Tri Rismaharini untuk melakukan sesi wawancara.

Empat siswa itu adalah anak-anak cerdas yang berhasil mendapatkan beasiswa belajar ke luar negeri. Mereka berhasil melalui tahapan tes dari Rotary Youth Exchange Program. Tes yang dilalui adalah kemampuan bahasa Inggris, psikotes, leadership, group discussion, dan wawancara.

Yang diwawancara panitia tidak hanya peserta tes, tetapi juga orang tua mereka. Program tersebut bukan beasiswa biasa. Ada mekanisme pertukaran. Jadi, selama setahun mereka belajar di luar negeri, orang tua mereka juga akan ketempatan siswa dari luar negeri dalam kurun waktu itu. Orang tua mereka ditanya tentang kesiapan menerima siswa asing tersebut.
Sementara itu, kedatangan mereka ke kantor wali kota ditujukan sebagai bekal di negara tujuan. Rencananya, video tentang wawancara tersebut ditayangkan sebagai presentasi di sekolahnya nanti. ’’Kami memasukkan video tentang Kota Surabaya. Tujuannya, sebagai promosi Surabaya di luar negeri,’’ ujar Leonardus Putera Santoso, siswa kelas XII SMA St Louis Surabaya.

Leo, sapaan Leonardus, akan berangkat ke Amerika Serikat pada pertengahan Agustus. Dia akan tinggal di Illinois. Leo tidak sendirian. Ada Alma Putri Dhafira atau biasa disapa Dhea yang juga akan tinggal di negeri Obama tersebut selama setahun. Namun, Dhea mendapat bagian tinggal di Michigan.

Sementara itu, dua pelajar lainnya berangkat ke Taiwan pada waktu yang sama. Yaitu, Janice Valentina Kusuma dari SMA Flateran dan Reynalda Fildzah Dessyrianti, pelajar Homeschooling Kak Seto. Janice tinggal di Taipei, sedangkan Reyna di Tainan. Rencananya, mereka berangkat sekitar 15–25 Agustus. ’’Awal September sudah mulai masuk sekolah,’’ ungkap Janice.
Saat bertemu dengan Risma, mereka meminta wejangan. ’’Ibu Risma kan pernah mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke Seattle. Jadi, kami minta tip-tip belajar di luar negeri,’’ ujar Dhea.

Pada pertemuan itu, tidak ada kecanggungan antara Risma dan para siswa. Mereka mengobrol layaknya orang yang sudah lama kenal. Risma juga memberi masukan untuk video yang digarap Leo dan Dhea. Menurut dia, video tersebut harus lebih banyak menampilkan keseharian di Kota Surabaya dan aktivitas para siswanya. Terdapat juga kehidupan umat beragama di Surabaya yang bisa berdampingan secara rukun dan damai.

Risma pun meminta mereka membawa nama baik kota dan negara. Sejak sekarang, mereka disarankan melatih kemandirian. Ketika hidup di luar negeri nanti, mereka harus melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak boleh bergantung kepada orang lain.

Hal tersebut sudah disadari Leo dan kawan-kawan. Saat ini mereka sudah menyiapkan bekal yang dibawa untuk perjalanan nanti. Leo, misalnya. Dia sudah menyiapkan berbagai bumbu dapur siap saji untuk memasak selama di Illinois. Lelaki berusia 17 tahun tersebut memang hobi memasak. Itu juga bisa mengobati rasa kangen dengan masakan Indonesia. ’’Nanti tantangan di sana pasti makanan, temperatur udara, dan homesick. Makanya, saya bawa bumbu-bumbu masakan seperti rawon, soto, dan nasi goreng,’’ katanya.

Dhea juga tidak ketinggalan. Keluarganya sudah menyiapkan makanan jadi untuk dibawa. Sang nenek memasakkan rendang yang bisa awet cukup lama agar Dhea tidak kesulitan makan. Dia pun membawa beberapa bumbu dapur yang sudah siap diolah jika sewaktu-waktu membutuhkannya.

Tidak hanya itu, Dhea memenuhi kopernya dengan baju dan kain batik. Rencananya, remaja kelas XII SMAN 5 Surabaya tersebut akan mengenalkan batik kepada teman-temannya di Michigan dan orang tua asuhnya. ’’Banyak baju batikku yang baru. Kalau teman-teman di AS nanti mau, bisa dibeli. Jadi nggak apa-apa baju batiknya habis dibeli,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Sementara itu, Janice dan Reyna lebih mempersiapkan mental dan bahasa untuk bekal di Taiwan. Janice merasa beruntung karena belajar bahasa Mandarin sejak umur empat tahun, sedangkan Reyna baru belajar Mandarin sebulan terakhir. Namun, putri ketiga pasangan Sri Rahayu dan Sutardi tersebut tidak khawatir. Menurut dia, kemampuan bahasa bisa dilatihnya selama berada di Tainan.

Sejak diberitahu mengenai lokasi keberangkatan dan identitas orang tua asuhnya, Leo dan kawan-kawan berusaha mencari tahu tempat tinggalnya. Internet sangat membantu mereka untuk mengetahui daerah yang akan ditinggali. Selain itu, mereka sudah berkenalan dengan orang tua asuh mereka via e-mail.

Selama setahun di luar negeri, Leo dan kawan-kawan akan berganti host family sebanyak tiga kali. Tujuannya, agar anak-anak tersebut mampu beradaptasi terhadap kehidupan sehari-hari dari keluarga yang berbeda dengan kebiasaan yang berbeda pula. Dengan demikian, tidak hanya pelajaran sekolah yang didapat, melainkan juga budaya dan kehidupan sosial dari negara yang ditinggalinya itu.

Meski deg-degan, Leo dan kawan-kawan sudah tidak sabar menanti keberangkatan mereka ke negara tujuan. Sejak sekarang, mereka merencanakan apa saja yang akan dilakukan sesampainya di negara tujuan. Hal pertama yang mereka rencanakan adalah posting di Instagram. Itu dilakukan agar teman-temannya tahu bahwa mereka sudah sampai di negara tujuan. Tujuannya, teman-teman mereka termotivasi berprestasi seperti mereka. ’’Jadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah tanya password wifi,’’ tutur Leo setengah bercanda.

Leo pun berencana membuat video perjalanan selama setahun di AS. Sementara itu, Dhea yang suka menulis mengisahkan pengalamannya di Negeri Paman Sam melalui hobinya tersebut. ’’Rencananya, aku juga mau buat buku tentang pengalaman pertukaran pelajar,’’ kata Dhea yang merupakan jawara menulis surat kepada wali kota Surabaya pada Desember lalu itu.

Selain belajar di sekolah, Dhea dan Janice memperdalam ilmu seni tari balet di negara tujuannya nanti. Sebab, keduanya terpaksa kehilangan kesempatan ujian balet karena harus berangkat untuk megikuti program pertukaran pelajar itu. Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang harus disesali. ’’Tidak semua anak bisa dapat kesempatan mendapat beasiswa ke luar negeri seperti ini,’’ jelasnya.Beritapendidikan.net/JPNN.com*/c20/ayi)