Category Archives: Berita

Angka Partisipasi Kasar Siswa Sekolah di Kedewan Nol

brt164238676Bojonegoro (beritajatim.com) – Angka Partisipasi Kasar (APK) di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro nol.
APK ini merupakan indikator untuk menghitung jumlah persentase penduduk yang sedang mengenyam pendidikan, diberbagai jenjang pendidikan sesuai usia.. APK yang kosong di Kecamatan Kedewan ini khususnya tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.
Menurut Kasi SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Puji Widodo, jumlah APK yang ada di Kecamatan Kedewan ini nol karena di wilayah tersebut tidak ada sekolah untuk tingkat SMA sederajat. Penduduk usia SMA biasanya setelah lulus SMP langsung melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ke daerah sekitar.
Tidak adanya sekolah di Kecamatan tersebut sehingga untuk menghitung angka partisipasi anak usia sekolah yang melanjutkan dan putus sekolah masih kesulitan.
Menurut Puji Widodo, sebelumnya Dinas Pendidikan sudah menyiapkan anggaran sebesar RP 1 miliar untuk pembangunan sekolah di wilayah setempat.
“Namun karena untuk tingkat SMA sederajat sekarang sudah diambil alih kewenangannya oleh Provinsi maka tergantung pusat pembangunannya sekarang,” ujarnya, Selasa (3/1/2017).
Puji menjelaskan, sebagian besar anak usia sekolah yang lulus SMP biasanya memilih melanjutkan ke SMA di wilayah sekitar, seperti di Kecamatan Kasiman, maupun di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sehingga partisipasi anak sekolah masih sulit dilakukan. “Sebagian kecil tidak melanjutkan,” terangnya.
Selain Kecamatan Kedewan, di Kabupaten Bojonegoro yang dianggarkan untuk pembangunan sekolah tingkat SMA sederajat itu juga di Kecamatan Trucuk.
Di Kecamatan Trucuk itu sudah mulai menerima siswa baru tahun ini. Pembangunan SMK Trucuk sedikitnya menggunakan anggaran sebesar Rp 850 juta. “Tahun ini sudah mulai tahun ajaran baru,” pungkasnya.
Sementara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro saat ini memberikan Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan. DAK Pendidikan bagi siswa itu diberikan kepada semua siswa asal Kabupaten Bojonegoro yang sekolah tingkat SMA sederajat.
Masing-masing siswa mendapat DAK sebesar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta pertahun untuk penunjang biaya sekolah.

Sumber : beritajatim.com

Mendikbud Mendesak Gedung Sekolah di Pidie Jaya Segera Dibangun

mendikbud-mendesak-gedung-sekolah-di-pidie-jaya-segera-dibangun-jFVACEH – Guna memastikan percepatan revitalisasi sekolah pascagempa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy kembali mengunjungi Pidie Jaya, Aceh.
Ini merupakan kunjungan kali ketiga Muhadjir, sejak gempa di Pidie Jaya pada 7 Desember 2016 lalu. Mendikbud melihat langsung proses belajar-mengajar yang sudah berlangsung di tenda-tenda darurat, sekaligus memeriksa perkembangan pembangunan sekolah darurat.
Ikut bersama rombongan Sekjen Kemendikbud Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad, Direktur Pembinaan SD Wowon Wirdiyat dan Direktur Pembinaan Pendidikan dan Layanan Khusus Renani Pantjastuti.
Kemudian Staf Khusus Mendikbud Bidang Monitoring Implementasi Kebijakan Alpha Amirrachman dan Staf Khusus Mendikbud Bidang Hubungan Antarlembaga Fajar Riza Ul Haq.
Ikut mendampingi Deputi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tri Budiarto, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Darjo, dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pidie Jaya Syaiful.
Mendikbud mengunjungi dan berbicara dengan siswa SDN Jiem Jiem, SMPN 3 Bandar Baru, TK Al Hidayah, SDN Jalan Rata, SMK Kesehatan Putra Nanggroe dan SMAN 1 Trienggadeng.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini disambut dengan gembira oleh guru dan siswa di sekolah-sekolah tersebut, walaupun mereka harus melaksanakan proses belajar-mengajar di tenda darurat karena ruang kelas sementara masih dalam proses pembangunan oleh KemenPUPR.
Sejauh ini sudah didirikan 170 tenda di 68 titik lokasi sekolah. 158 ruang kelas sementara juga sedang dibangun di 28 titik lokasi sekolah yang rusak berat.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada guru dan siswa yang dengan semangat tinggi kembali ke sekolah walau dengan berbagai keterbatasan,” ujar Mendikbud, Senin 2 Januari 2017 di Aceh.
“Siswa-siswa tetap gembira walau belajar di bawah tenda, guru-guru juga tetap semangat untuk mengajar,” ungkap Kepala Sekolah SDN Jalan Rata Hamdiah saat berdialog dengan Mendikbud di lokasi. Muhadjir Effendy menyampaikan, pembangunan ruang kelas darurat dan gedung permanen menjadi tanggung jawab KemenPUPR dengan anggaran dari BNPB, sementara Kemendikbud bertanggung jawab untuk menyediakan mebeler dan peralatan pembelajaran.
“Saya mengharapkan KemenPUPR segera menuntaskan pembangunan ruang kelas sementara dan memulai pembangunan gedung sekolah permanen,” ucapnya.
“Sehingga Kemendikbud dapat memenuhi kewajibannya menyediakan mebeler dan alat pembelajaran yang dibutuhkan ruang-ruang kelas nanti. Gedung sekolah yang baru nanti harus lebih baik dari yang lama,” ungkap Mendikbud di depan para siswa.
Hasil pemantauan tim Kemdikbud terkait kerusakan sarana dan prasarana pendidikan dan kebudayaan dilaporkan, terdapat 65 sekolah yang mengalami kerusakan, terdiri dari 35 Sekolah Dasar (SD), 11 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kemudian 13 Sekolah Menengah Atas (SMA), dan enam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Selain itu, terdapat juga 81 fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mengalami kerusakan sarana dan prasarana dengan tingkat rusak sedang dan berat.
Mendikbud memaparkan rencana pemenuhan kebutuhan bantuan pasca gempa Aceh dengan total anggaran sekitar Rp68,2 Miliar, dengan rincian pada tahun 2016 akan disalurkan sebesar Rp25,8 Miliar, dan tahun anggaran 2017 dialokasikan sebesar Rp42,4 Miliar.

Sumber : sindonews.com

Fasilitas Minim, Minat Siswa Belajar di Bojonegoro Rendah

pelajar-indonesia-raih-medali-emas-di-bidang-sains-tingkat-asia-H0pBojonegoro (beritajatim.com) – Fasilitas penunjang proses belajar mengajar yang ada di sekolah yang berada di pelosok masih minim.  Minimnya fasilitas belajar mengajar tersebut membuat minat peserta didik untuk belajar masih minim.
Menurut Kepala SD Negeri Kaliombo 2, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Mohammad Dahlan, minat belajar anak-anak di pelosok pedesaan di Bojonegoro memang cenderung rendah. Padahal, kata dia, sebenarnya biaya sekolah sejak SD hingga SMA digratiskan.
Bahkan, kata dia, untuk siswa SMA juga ada beasiswa sebesar Rp2 juta setahun. Sehingga menurut dia, rendahnya minat belajar anak-anak yang tinggal di pedesaan ini perlu dikaji lebih mendalam.
“Sebab, sebenarnya bukan soal biaya yang jadi masalah, tetapi rendahnya kesadaran dan minat untuk belajar yang sangat kurang,” ujarnya, Minggu (1/1/2017).
Sementara itu menurut Kepala SD Negeri Kaliombo 1, Rahmat Dwi Antoro, jumlah murid yang belajar di SDN Kaliombo 1 memang terbilang minim yakni 70 siswa. Salah satu penyebabnya, kata dia, karena terbatasnya sarana dan prasarana di sekolah.
“Di sekolah ini tidak ada perpustakaan dan fasilitas lainnya. Kondisi sekolah yang serba terbatas ini membuat minat siswa belajar di sekolah ini juga minim,” ujarnya.
Murid SD Negeri Kaliombo 1 di Desa Kaliombo, Kecamatan Purwosari, misalnya jumlahnya hanya 70 murid. Sedangkan, di SD Negeri Kaliombo 2 jumlah muridnya sebanyak 123 anak dan SD Negeri Kaliombo 4 jumlah muridnya hanya 90 anak.
Sementara itu, jumlah siswa SD Negeri Pelem 1 di Kecamatan Purwosari hanya sebanyak 94 anak dan SD Negeri Pelem 2 sebanyak 122 anak. Sementara itu, SD Negeri Dolokgede yang dulu merupakan tempat belajar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno jumlah muridnya hanya 141 anak.
Menurut Kepala SD Negeri Pelem 1, Sumadi, berbagai masalah dihadapi oleh sekolah yang berada di daerah pelosok pedesaan. Di antaranya yakni masalah sumber daya manusia yakni tenaga pengajar, masalah sarana dan prasana yang terbatas, hingga masalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk mendorong minat belajar anak.
“Sekolah di daerah pinggiran dan pelosok pedesaan perlu mendapatkan perhatian lebih. Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan sekolah di perkotaan,” ujarnya.

Sumber : beritajatim.com

Bupati Jember Larang Sekolah Pungut Biaya Bimbingan Belajar

brt164238676Jember (beritajatim.com) – Kepala SMP Negeri 2 Jember Muhammad Subarno mengatakan, Bupati Faida sudah menegaskan soal program pendidikan gratis. Salah satunya mengenai larangan pungutan biaya untuk bimbingan belajar tambahan dari orang tua siswa.
“Intinya sekolah tidak menarik uang sepeser pun dari wali murid. Sehingga kalau bimbingan belajar sebenarnya untuk anak-anak boleh, tapi bisa menggunakan uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah),” jelas Subarno kepada wartawan.
Subarno meminta wali murid tak khawatir. “Sekolah masih memikirkan prestasi anak. Cuma kami melaksanakan bimbingan belajar tidak full, seperti kalau ada dana dari wali murid. Mungkin mendekati ujian nasional, akan diadakan bimbingan belajar, dengan cara dana diambilkan dari BOS. Kemudian menunda kegiatan lain,” katanya.
Saat pengambilan rapor, Subarno sempat menyampaikan wacana pembiayaan bimbingan belajar ini kepada wali murid. “Karena tidak boleh menarik dari wali murid, maka saya akan hentikan di semester genap. Memang ada gejolak dari wali murid,” katanya.
Subarno mengatakan, dana BOS memiliki keterbatasan. “Kalau menggunakan uang BOS, kemampuannya sampai kapan. Kami tidak mungkin fokus di kelas 9. Kelas 7 dan 8 juga perlu (dana) untuk peningkatan mutu prestasi anak, ekstrakurikuler, dan sebagainya. Itu juga memerlukan dana BOS,” jelasnya

Sumber : beritajatim.com

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Bidang Sains Tingkat Asia

pelajar-indonesia-raih-medali-emas-di-bidang-sains-tingkat-asia-H0pJAKARTA – Dua pelajar SD berhasil meraih medali emas di bidang sains dari ajang bergengsi di tingkat Asia yang digelar di Tangerang dengan dukungan PT Freeport. Prestasi tersebut berhasil diraih setelah para siswa bersaing ketat dengan peserta dari Thailand, Malaysia, Filipina, dan Taiwan.
Dua peraih medali emas dalam bidang sains yaitu John Howard Wijaya dari SD Darma Yudha (Riau) dan Mohammad Nabiel Shafa dari SD IT Mutiara (Riau). Perwakilan Indonesia juga berhasil membawa pulang tiga medali perak yang diraih oleh Christopher Ivan Budiwardhana dari SDK Penabur Gading Serpong Tangerang, Jonathan Tjandra dari SDK Calvin dari Jakarta dan M Nurihsan Arief dari SD Taruna Bangsa Bogor, Jawa Barat.
Sementara siswa perwakilan Indonesia yang berhasil meraih medali perunggu adalah Raden Andika Wahyu Wardhana dari SD Al Azhar 14 Semarang, Jawa Tengah. “Pada bidang matematika, dua dari tiga siswa yang berhasil meraih medali emas merupakan siswa Indonesia,” ujar Executive Director Surya Institute Srisetiowati Seiful dalam siarang persnya, Selasa (20/12/2016).
Rencananya di 2017, Surya Instutite juga mempersiapkan Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary School (ASMOPS) ke-7. Persiapan ini menyusul kesuksesan Surya Institute menggelar ASMOPS ke-6 di Tangerang 25-28 November 2016 lalu.
Menurutnya Thailand sudah menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah ASMOPS 2017. Rencananya acara akan digelar di Bangkok.

Sumber : sindonews.com